sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Persaingan AS-China disebut faktor utama ketegangan di LCS

Provokasi, salah perhitungan, dan mispersepsi akan memicu peperangan di LCS.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 19 Agst 2020 18:33 WIB
Persaingan AS-China disebut faktor utama ketegangan di LCS
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 404.048
Dirawat 60.569
Meninggal 13.701
Sembuh 329.778

Duta Besar RI untuk Jerman dan mantan Deputi Kedaulatan Maritim Kemenko Bidang Kemaritiman, Arif Havas Oegroseno, menilai, persaingan strategis antara China dan Amerika Serikat (AS) merupakan faktor utama meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan (LCS).

"Dalam konteks geopolitik, menurut saya, ketegangan meningkat sebagai hasil dari persaingan strategis antara AS dan China," sebutnya dalam webinar "Calming Trouble Waters in the South China Sea", Rabu (19/8).

Arief berpendapat, meningkatnya persaingan di antara Beijing dan Washington terjadi karena AS mulai mendekati waktu pemilihan presiden (pilpres). Pada saat bersamaan, sedang ada diskusi tentang kepemimpinan di Tiongkok.

"Kedua pihak mulai memandang satu sama lain sebagai musuh, bukan sebagai mitra strategis," tambah dia.

Dikhawatirkan persaingan strategis tersebut mengarah ke konflik besar yang tidak diinginkan pihak mana pun jika tidak dikelola dengan baik.

"Orang bilang, tidak mungkin AS-China perang karena mereka terlalu terkait secara ekonomi dan sosial ... Tetapi saya pikir, provokasi, salah perhitungan, dan mispersepsi adalah tiga hal mematikan yang dapat menyebabkan peperangan," ujarnya.

Lebih lanjut, Arief menyebut, apabila kedua negara benar-benar mempertimbangkan kepentingan publik, mereka akan melihat betapa pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di LCS.

Arief menekankan, persoalan utama di LCS adalah pengelolaan konflik.

Sponsored

"Jika Anda tidak dapat menyelesaikan konflik, maka harus mengelolanya dengan baik," katanya. "Negara-negara yang terlibat dalam sengketa wilayah harus bisa mengelola perselisihan mereka ketika menyadari mereka tidak dapat menyelesaikannya."

Dalam kesempatan sama, pakar hukum laut internasional, Hasjim Djalal, menuturkan, salah satu penyebab ketegangan berlanjut di LCS adalah ketidakpastian akibat batas laut yang tidak jelas di wilayah tertentu.

Hal itu kerap membuat timbulnya pertengkaran antara negara-negara tetangga dan selalu ada kemungkinan penggunaan kekerasan dalam mengatasi konflik.

Hasjim menyatakan, Indonesia harus memiliki kebijakan dan pendekatan yang lebih aktif guna mendorong pihak-pihak yang berkonflik untuk mengedepankan kepentingan bersama.

"Tampaknya perselisihan antara AS-China di LCS semakin memanas setiap harinya," tutur dia. "Ini akan membahayakan kita semua di kawasan jika konflik tersebut meningkat ke titik yang tidak dapat dikelola bersama."

Sesuai landasan politik luar negeri Indonesia, "mendayung di antara dua karang", Hasjim menyatakan, kini ASEAN secara harafiah berada di tengah-tengah konflik antara dua karang besar, China dan AS.

"Oleh karena itu, Indonesia harus mendorong ASEAN untuk mengambil pendekatan yang lebih aktif dalam mengupayakan perdamaian di kawasan," lanjut dia. "Ini penting dilakukan karena baik AS maupun China adalah mitra penting bagi ASEAN."

Berita Lainnya