sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pertama dalam 30 tahun, Jepang kembali berburu paus komersial

Jepang resmi keluar dari Komisi Penangkapan Ikan Paus Internasional (IWC) pada Minggu (30/6).

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 01 Jul 2019 15:23 WIB
Pertama dalam 30 tahun, Jepang kembali berburu paus komersial

Nelayan Jepang telah berangkat berburu paus untuk tujuan komersial pertama kalinya dalam 30 tahun terakhir. Itu terjadi setelah Tokyo memutuskan untuk menarik diri dari Komisi Penangkapan Ikan Paus Internasional (IWC).

Lima kapal meninggalkan Kushiro, Hokkaido, pada Senin (1/7) pagi waktu setempat. Sekitar waktu yang sama, tiga kapal penangkap ikan paus juga berlayar meninggalkan Shimonoseki.

Bersama-sama, delapan kapal itu akan memburu 227 paus hingga akhir Desember. Kuota itu mencakup 52 paus minke, 150 paus bryde, dan 25 paus sei.

Perburuan tersebut kemungkinan akan memicu kritik dari para pencinta lingkungan dan negara-negara anti-perburuan paus. Namun, saat ini, para pemburu paus Jepang masih dalam suasana penuh kegembiraan.

"Hati saya dipenuhi dengan kebahagiaan dan saya sangat tersentuh," ujar Kepala Asosiasi Penangkapan Ikan Paus Tipe Kecil Jepang Yoshifumi Kai.

Yoshifumi merupakan nelayan senior di Taiji yang kerap memicu amarah internasional akibat perburuan lumba-lumbanya.

"Meski ini industri kecil, saya bangga berburu paus. Di kota asal saya, orang-orang telah berburu paus selama lebih dari 400 tahun," tuturnya.

Jepang memicu kritik internasional setelah menggunakan klausul dalam moratorium IWC pada 1986 tentang perburuan paus untuk melakukan penelitian perburuan paus di Antartika.

Sponsored

Meskipun mengaku bahwa perburuan tersebut bertujuan untuk membantu penelitian, daging dari perburuan itu justru dijual di pasar terbuka. Langkah itu memicu klaim bahwa Jepang menggunakan kedok penelitian untuk melakukan perburuan paus.

Pada akhir 2018, Jepang mengumumkan akan meninggalkan IWC karena frustrasi dengan kegagalannya meyakinkan anggota lain untuk mendukung kembalinya perburuan paus komersial dengan prinsip berkelanjutan. Jepang resmi keluar dari IWC pada Minggu (30/6).

Dalam ekspedisi terakhir ke Antartika, para pemburu paus asal Jepang membunuh 333 paus minke. Pada tahun-tahun sebelumnya, mereka membantai hampir 1.000 paus per tahun.

Nelayan dari Taiji, Ishinomaki, dan Minamiboso, akan mengambil bagian dalam perburuan komersial di zona ekonomi eksklusif Jepang.

"Saya agak gugup tetapi senang bahwa kita dapat mulai berburu paus lagi," ujar Hideki Abe, seorang pemburu paus dari Ishinomaki. "Menurut saya, anak muda zaman sekarang tidak tahu cara memasak dan tidak pernah mengonsumsi daging paus. Saya ingin lebih banyak orang mencicipinya setidaknya sekali dalam hidup mereka."

Para pejabat perikanan berharap dimulainya kembali perburuan paus komersial dapat memicu minat masyarakat untuk mengonsumsi daging paus.

"Mulai hari ini, saya ingin para pemburu paus menangkap paus dengan mengamati kuota dan bertujuan untuk membangkitkan kembali industri perburuan paus," jelas Menteri Perikanan Takamori Yoshikawa.

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Jepang telah kehilangan selera makan daging paus yang umumnya disajikan mentah sebagai sashimi atau digoreng.

Pada 1960-an, masa-masa pascaperang, konsumsi daging paus dalam negeri tercatat sebesar 200.000 ton per tahun. Namun, angka itu merosot jauh menjadi kurang dari 5.000 ton per tahun dalam beberapa tahun terakhir.

Patrick Ramage, direktur konservasi laut di International Fund for Animal Welfare, mengatakan bahwa diterapkannya kembali perburuan paus komersial tidak akan secara ajaib meningkatkan permintaan pasar. 

"Selera masyarakat Jepang sudah berkembang ... Ini akan menjadi awal dari akhir perburuan paus di Jepang," jelasnya.

Sumber : The Guardian