sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pertemuan Trump dan Kim Jong-un di DMZ bermula dari Twitter

Pada Jumat (28/6), Trump mengajak Kim Jong-un untuk bertemu. Dia mengatakan ingin berjabat tangan dan menyapa pemimpin Korea Utara itu.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 01 Jul 2019 06:20 WIB
Pertemuan Trump dan Kim Jong-un di DMZ bermula dari Twitter

Sejarah baru terukir pada Minggu (30/6). Donald Trump berjabat tangan dengan Kim Jong-un di Zona Demiliterisasi (DMZ) dan berjalan 20 langkah ke Korea Utara, menjadikannya Presiden Amerika Serikat pertama yang menginjakkan kaki di negara itu.

Jimmy Carter dan Bill Clinton memang pernah melawat ke ibu kota Korea Utara, namun kunjungan tersebut mereka lakukan setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Barack Obama juga pernah ke DMZ, tetapi dia hanya meneropong dari perbatasan.

Bagi publik, pertemuan dua sosok kontroversial tersebut terbilang dadakan. Bagaimana tidak, Trump tiba di DMZ sekitar satu jam setelah dia mengonfirmasi akan melangsungkan pertemuan dengan Kim Jong-un.

"Senang berjumpa dengan Anda kembali. Saya tidak pernah menyangka akan bertemu di sini," ujar Kim Jong-un kepada Trump seperti dituturkan seorang penerjemah.

Sementara itu, Trump mengatakan, "Momen yang besar. Kemajuan yang luar biasa."

Trump melintasi garis demarkasi yang memisahkan Utara dan Selatan pada pukul 15.45 waktu setempat. Belakangan, sang presiden mengakui bahwa dirinya bangga melangkahi garis tersebut dan tidak ketinggalan dia mengucapkan terima kasih kepada Kim Jong-un atas pertemuan kali ini.

Pertemuan ketiga Trump-Kim Jong-un bermula dari twit Trump pada Jumat (28/6). Trump yang tengah berada di Osaka, Jepang, untuk menghadiri KTT G20 berkicau, "Setelah beberapa pertemuan penting, termasuk pertemuan saya dengan Presiden China Xi Jinping, saya akan meninggalkan Jepang untuk menuju Korea Utara ... Jika Ketua Kim membaca ini, saya akan menemuinya di perbatasan/DMZ hanya untuk berjabat tangan dan mengatakan halo."

Sponsored
— Donald J. Trump (@realDonaldTrump) 28 June 2019

Kim Jong-un mengatakan dia terkejut dengan permintaan Trump untuk bertatap muka, namun menerimanya karena hubungan baik yang terjalin di antara mereka dan pentingnya pertemuan di perbatasan.

"Menurut saya dengan bertemu di sini, dua negara yang memiliki masa lalu bermusuhan, menunjukkan kepada dunia bahwa kami memiliki sebuah hadiah baru dan pertemuan positif ke depannya," kata Kim Jong-un.

Setelah jabat tangan dan Trump melintasi garis demarkasi ke Utara, keduanya kembali ke sisi Selatan dan mengadakan pertemuan tertutup di Freedom House kurang dari satu jam. Presiden Korea Selatan Moon Jae-in disebut turut serta.

Dari berbagai laporan, tidak ada komitmen baru yang dibuat dalam pertemuan tersebut, di luar kesepakatan untuk memulai kembali pembicaraan. Trump sendiri mengatakan bahwa dia tidak terburu-buru menyingkirkan senjata nuklir dari Korea Utara.

Meski demikian, pertemuan dan penyeberangan perbatasan yang bersejarah tersebut telah memecah kebuntuan dalam pembahasan denuklirisasi sejak KTT Hanoi empat bulan lalu.

Trump menerangkan bahwa tim negosiasi akan mulai bertemu dalam hitungan minggu. Tim AS akan dipimpin oleh perwakilan khusus AS untuk Korea Utara Stephen Biegun.

Sanksi terhadap Korea Utara, menurut Trump, akan tetap diberlakukan dan diyakini akan diringankan sebagai bagian dari perundingan. Trump juga blak-blakan mengatakan bahwa dirinya telah mengundang Kim Jong-un untuk mengunjungi Washington.

Pertemuan ketiga Trump dan Kim Jong-un menuai pujian dari Paus Fransiskus. Sri Paus berharap peristiwa itu akan mengarah pada perdamaian.

"Saya salut kepada para protagonis, dengan berdoa bahwa gerakan yang begitu signifikan ini akan menjadi langkah yang lebih jauh dalam upaya menuju perdamaian, tidak hanya di semenanjung itu, tetapi untuk kebaikan seluruh dunia," tutur Paus Fransiskus.

Adapun para kritikus menyebut pertemuan ketiga Trump dan Kim Jong-un sebagai teater politik dan menekankan bahwa Pyongyang masih harus menunjukkan keseriusan mereka untuk menanggalkan senjata nuklir.

Tatap muka pertama Trump-Kim Jong-un berlangsung di Singapura tahun lalu. Keduanya berkomitmen untuk melakukan denuklirisasi penuh di Semenanjung Korea, namun tidak merincinya.

KTT Hanoi pada Februari tahun ini menjadi pertemuan kedua mereka dan berakhir tanpa kesepakatan. Sejak saat itu negosiasi mandek, meskipun keduanya telah bertukar surat baru-baru ini. (CNN, BBC dan Channel News Asia)