sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Perundingan damai batal, Taliban: AS akan merugi

Taliban menekankan bahwa keputusan Trump membatalkan perundingan damai akan memicu lebih banyak korban jiwa di pihak AS.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 09 Sep 2019 11:03 WIB
Perundingan damai batal, Taliban: AS akan merugi

Pada Minggu (8/9), Taliban menyatakan bahwa keputusan Presiden Donald Trump untuk membatalkan perundingan perdamaian dengan pihaknya akan menelan lebih banyak jiwa warga Amerika Serikat.

Pernyataan itu dikeluarkan setelah Trump pada Sabtu (7/9) secara tidak terduga membatalkan perundingan rahasia dengan para petinggi Taliban yang direncanakan digelar di kompleks kepresidenen Camp David, Maryland, pada Minggu.

Trump menghentikan perundingan perdamaian setelah Taliban mengaku bertanggung jawab atas serangan di Ibu Kota Kabul pekan lalu yang menewaskan seorang tentara AS dan 11 orang lainnya. Kelompok militan itu melancarkan serangan selama sepekan terakhir yang mencakup bom bunuh diri di Kabul pada Kamis (5/9) dan menewaskan Sersan Angkatan Darat AS Elis Barreto Ortiz (34).

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengkritik alasan Trump, dia mengatakan bahwa pasukan AS pun menggempur Afghanistan dengan serangan pada saat yang sama.

"Ini akan merugikan AS. Kredibilitas mereka akan terpengaruh, sikap antiperdamaiannya akan terekspos ke dunia, serta kerugian nyawa dan aset akan meningkat," tutur Mujahid.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan bahwa perundingan perdamaian dengan Taliban sedang ditangguhkan. Washington, kata dia, tidak akan mengurangi dukungan militer untuk tentara Afghanistan sampai yakin bahwa kelompok militan itu dapat menindaklanjuti komitmen yang signifikan.

Pompeo menuturkan bahwa AS telah memanggil utusan khususnya untuk Afghanistan, Zalmay Khalilzad, untuk memetakan langkah selanjutnya.

Dalam sebuah wawancara di program Fox News Sunday, ketika ditanya apakah perundingan perdamaian dengan Taliban sudah mati, Pompeo menjawab, "Untuk saat ini, iya".

Sponsored

Trump telah lama ingin mengakhiri keterlibatan AS di Afghanistan. Selama beberapa bulan terakhir, diplomat Washington berunding dengan perwakilan Taliban terkait rencana untuk mengurangi kehadiran militer AS sebagai imbalan jaminan keamanan oleh kelompok militan itu.

Pekan lalu, AS dan Taliban berhasil mencapai rancangan kesepakatan yang dapat menyebabkan Washington mengurangi kehadiran militernya di Afghanistan. Saat ini, terdapat 14.000 tentara AS dan juga ribuan pasukan NATO yang bertugas di negara itu.

Belasan ribu pasukan itu telah berada di Afghanistan setelah koalisi yang dipimpin AS menginvasi negara itu menyusul serangan Al Qaeda terhadap Negeri Paman Sam pada 11 September 2001.

Pertempuran di Afghanistan tetap berlanjut di tengah perundingan dan serangan baru-baru ini oleh Taliban menimbulkan keraguan atas rancangan kesepakatan perdamaian itu. Akibat kekerasan yang meningkat, para pemimpin Afghanistan, termasuk Presiden Ashraf Ghani, semakin kritis terhadap kesepakatan AS-Taliban.

Meskipun perundingan perdamaian telah ditangguhkan, Menlu Pompeo menyatakan bahwa pihaknya belum membahas persoalan penarikan pasukan AS dari Afghanistan.

"Presiden Trump belum membuat keputusan tentang itu," kata dia.

Camp David

Pompeo menyebut, Trump memutuskan untuk secara pribadi terlibat demi mendapatkan kesepakatan akhir dalam perundingan yang tadinya akan digelar di Camp David.

"Presiden Trump akhirnya membuat keputusan," kata Pompeo. "Dia berkata, 'Saya ingin berbicara dengan Presiden Ghani. Saya ingin berbicara dengan para negosiator Taliban. Saya ingin melihat mata mereka. Saya ingin tahu apakah kita bisa mencapai hasil akhir yang dibutuhkan'."

Trump kerap menyombongkan keterampilannya sebagai negosiator dan hubungan pribadinya dengan sejumlah pemimpin dunia, termasuk dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un. Namun, sejauh ini, taktik diplomasi Trump belum pernah menghasilkan kesepakatan terobosan apa pun.

Dia dikecam, bahkan oleh beberapa anggota Partai Republik, karena telah membuka pintu Washington untuk menyambut Taliban, kelompok militan yang membunuh tentara AS dan melindungi pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden.

"Camp David adalah tempat para pemimpin AS bertemu untuk merencanakan tanggapan setelah Al Qaeda, yang didukung oleh Taliban, membunuh 3.000 warga kami pada peristiwa 9/11," tutur Republikan yang juga mantan Wapres AS Dick Cheney. "Seharusnya anggota Taliban sama sekali tidak boleh menginjakkan kaki di sana."

Awal September, para pejabat senior keamanan di Kabul mengatakan serangan udara bersama pasukan AS-Afghanistan terhadap Taliban belum mereda. Pompeo mengatakan lebih dari 1.000 pejuang Taliban tewas di Afghanistan dalam 10 hari terakhir.

Sembilan mantan duta besar AS pada Selasa (3/9) memperingatkan bahwa dapat terjadi perang saudara di Afghanistan jika Trump menarik semua pasukan AS sebelum pemerintah Afghanistan dan Taliban menyepakati kesepakatan perdamaian.

Pompeo membantah peluang penarikan dini.

"Presiden Trump menjelaskan bahwa kita tidak hanya akan menarik pasukan karena ada batas waktu. Kami akan mengurangi kehadiran militer jika Taliban memenuhi kondisi tertentu," ujar dia.