sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

PM Australia bela warganya yang ditahan di China

Australia menuding China tidak memberikan akses pengacara dan komunikasi keluarga atas warga negaranya.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 29 Agst 2019 16:19 WIB
PM Australia bela warganya yang ditahan di China
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mendesak pembebasan warganya yang ditahan oleh Beijing atas dugaan melakukan tindakan spionase.

Yang Hengjun, mantan diplomat China yang kini berprofesi sebagai jurnalis dan blogger, pekan lalu secara resmi ditangkap oleh otoritas China. Sebelumnya, pria kelahiran China itu telah ditahan di Beijing tanpa dakwaan selama lebih dari tujuh bulan.

Pria berusia 53 tahun itu dipindahkan ke pusat penahanan di Beijing pada Juli, setelah menjadi tahanan rumah selama enam bulan.

China memperingatkan agar Australia tidak ikut campur dalam proses hukumnya, tetapi Morrison mengatakan pihaknya tidak akan tinggal diam.

"Kami akan membela warga kami dan berharap dia akan diperlakukan secara pantas dan hak asasinya dihormati," tegas PM Morrison. "Kami tidak akan meminta maaf karena membela warga kami."

Morrison membantah tuduhan China yang menyatakan bahwa Yang bertindak sebagai mata-mata bagi Australia.

"Kecurigaan bahwa dia bertindak sebagai mata-mata bagi Australia sama sekali tidak benar, kami akan melindungi dan berusaha mendukung warga kami," lanjut dia.

Penangkapan Yang terjadi di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik antara Canberra dan Beijing. Hubungan perdagangan yang kuat membebani konflik ini, pasalnya China merupakan pasar ekspor terbesar Australia.

Sponsored

Pembelaan dari Morrison datang setelah pada Selasa (27/8), Yang memohon kepada pegawai Kedutaan Besar Australia di Beijing untuk meminta pemerintah membantunya pulang sesegera mungkin.

Pemerintah Australia mengklaim bahwa sejak ditahan, China tidak memberikan Yang akses untuk mendapatkan pengacara dan melarangnya menghubungi keluarganya.

Morrison mengatakan dia menghormati sistem hukum China, tetapi ingin Yang mendapat perawatan yang layak selama ditahan.

Tuduhan terhadap Yang pertama kali diumumkan pada Selasa. Pengacaranya yang berbasis di Melbourne, Rob Stary, mengatakan beberapa detail telah dikeluarkan terkait kasus yang menjerat kliennya.

"Kami tidak tahu apakah dia dituduh memata-matai atas nama pihak ketiga yakni pemerintah asing seperti Australia atau Amerika Serikat," kata Stary. 

Dia menyatakan, tuduhan spionase itu mengkhawatirkan karena tersangka yang terbukti melakukan spionase dapat dijatuhkan hukuman mati di Tiongkok.

Yang ditahan di Guangzhou pada Januari saat dia dan istrinya, Yuan Xiaoliang, sedang berkunjung dari New York. Stary menuturkan, hingga kini otoritas China melarang Yuan untuk meninggalkan negara itu.

Pada jumpa pers pada Selasa, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang mengonfirmasi penangkapan Yang dan mengatakan kasus itu sedang diselidiki lebih lanjut.

"China adalah negara dengan aturan hukum. Australia harus sungguh-sungguh menghormati kedaulatan peradilan Tiongkok dan tidak boleh ikut campur dalam penanganan kasus ini," tegas Geng.

Meskipun Beijing membantah ada kaitan antara penahanan terhadap warga negara asing dan perselisihan bilateral, para kritikus mengatakan dua hal itu berhubungan.

"Banyak orang mulai berkata, 'Jika pemerintah saya berselisih dengan China, lebih baik saya tidak berada di China'," ungkap Yaqiu Wang, peneliti urusan China untuk Human Rights Watch. (Reuters dan CNN)
 

Berita Lainnya