logo alinea.id logo alinea.id

PM Kamboja: Oposisi akan mati jika Uni Eropa tarik EBA

EBA merupakan inisiatif dari Uni Eropa, di mana seluruh impor ke Uni Eropa dari negara-negara terbelakang akan bebas bea dan bebas kuota.

Khairisa Ferida Senin, 14 Jan 2019 14:37 WIB
PM Kamboja: Oposisi akan mati jika Uni Eropa tarik EBA

Perdana Menteri Kamboja Hun Sen (66) pada Senin (14/1) mengancam akan mengambil langkah pembalasan terhadap oposisi jika Uni Eropa menarik akses perdagangan bebas bea atas isu HAM.

Uni Eropa pada November 2018 memulai prosedur formal untuk melepas Kamboja dari status Everything but Arms (EBA), setelah Hun Sen kembali berkuasa. Dalam pemilu pada Juli lalu, partai Hun Sen memenangkan seluruh kursi setelah menindak keras oposisi.

EBA merupakan inisiatif dari Uni Eropa, di mana seluruh impor ke Uni Eropa dari negara-negara terbelakang akan bebas bea dan bebas kuota, dengan pengecualian persenjataan. 

"Jika Anda ingin oposisi mati, potong saja," tutur Hun Sen dalam pidato peresmian jalan lingkar di sekitar Phnom Penh. "Jika Anda ingin oposisi tetap hidup, jangan lakukan itu dan datanglah untuk berbicara."

EBA dapat ditarik jika terjadi pelanggaran serius terhadap konvensi HAM.

Uni Eropa mengancam akan menarik preferensi perdagangan karena tindakan keras pemerintah terhadap oposisis jelang pemilu. Uni Eropa menyebut pesta demokrasi Kamboja tidak kredibel.

Hun Sen yang menandai 34 tahun masa jabatannya sebagai perdana menteri pada Senin, menegaskan bahwa dia tidak akan memaafkan mereka yang telah menyarankan ke Barat untuk memangkas bantuan demi menekan pemerintahannya. Dia pun meminta agar para kritikus bersiap melarikan di ke luar negeri.

"Bersiap-siaplah," tutur Hun Sen. "Saya tidak akan memaafkan mereka."

Sponsored

Mahkamah Agung Kamboja membubarkan oposisi utama, Partai Penyelamatan Nasional Kamboja (CNRP) dan memasukkan 118 anggotanya dalam daftar hitam. Itu dilakukan atas permintaan pemerintah setelah muncul kabar bahwa CNRP berencana mengambilalih kekuasaan dengan bantuan AS.

Baik CNRP maupun AS membantah tudingan itu.

Pemimpin CNRP Kem Sokha dibebaskan dari penjara pada September setelah menghabiskan lebih dari satu tahun di penjara atas tuduhan pengkhianatan. Namun, dia tetap di bawah tahanan rumah di Phnom Penh.

Kem Sokha membantah melakukan kesalahan. Anggota senior CNRP lainnya telah meninggalkan negara itu karena takut ditangkap.

Negara-negara Uni Eropa mengambil sekitar 40% dari ekspor Kamboja pada 2016, sebagian besar berasal dari sektor garmen yang mempekerjakan sekitar 700.000 orang.

Duta Besar Uni Eropa George Edgar dan CNRP belum merespons pernyataan Hun Sen. 

Sumber : Reuters