logo alinea.id logo alinea.id

PM Morrison diyakini menangi Pemilu Australia

Hasil akhir pemilu diperkirakan baru akan diumumkan pada Senin (20/5) sore waktu setempat.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 20 Mei 2019 12:14 WIB
PM Morrison diyakini menangi Pemilu Australia

Perdana Menteri Australia Scott Morrison diyakini akan meraih suara mayoritas dan memenangkan Pemilu Australia. Menurut Komisi Pemilu Australia, Koalisi Liberal-Nasional yang dipimpin Morrison unggul dengan meraih 77 kursi parlemen. Hanya dibutuhkan 76 kursi untuk mengamankan mayoritas.

"Saya selalu percaya pada mukjizat," kata Morrison kepada pendukungnya dalam pidato kemenangan pada Sabtu (18/5) tengah malam waktu setempat.

Dalam pidato kemenangannya, PM Morrison juga mengapresiasi warga Australia yang memilih koalisinya. "Mereka adalah orang-orang Australia yang telah bekerja keras setiap hari ... Mereka adalah warga Australia yang memenangi kemenangan besar malam ini," kata dia.

Pada Minggu (19/5) pagi waktu setempat, Morrison mengikuti ibadah di Gereja Pentecostal Horizon di Sydney. Di tempat itu dia berterima kasih kepada jemaat atas dukungan mereka.

Kemenangan Morrison mengejutkan banyak pihak karena sebelumnya, hasil sejumlah jajak pendapat memperkirakan Partai Buruh akan menang untuk pertama kalinya dalam enam tahun.

Setelah menderita kekalahan yang tidak terduga, Ketua Partai Buruh Bill Shorten langsung mengumumkan pengunduran dirinya. "Sudah jelas bahwa Partai Buruh tidak akan dapat membentuk pemerintahan," kata dia kepada para anggota partainya.

Hasil akhir pemilu diperkirakan baru akan diumumkan pada Senin (20/5) sore waktu setempat. Namun, dengan sekitar 76,3% suara yang sudah dihitung, Koalisi Liberal-Nasional diprediksi kuat akan memenangi pemilu kali ini. Hingga saat ini, Partai Buruh baru memperoleh 68 kursi di parlemen.

Sebanyak 16,4 juta pemilih memberikan suara dalam pemilu yang berlangsung pada Sabtu.

Sponsored

Isu utama

Australia mengadakan pemilu setiap tiga tahun, tetapi akibat maraknya pertikaian internal pemerintah, tidak ada perdana menteri yang berhasil menjalani masa jabatan penuh sejak 2007.

Morrison mengklaim telah menyatukan pemerintahnya dalam sembilan bulan sejak dia menggulingkan pendahulunya, Malcolm Turnbull, pada 2018.

Survei menunjukkan bahwa ekonomi, biaya hidup, isu lingkungan, dan kesehatan menjadi perhatian utama para pemilih dalam pemilu kali ini. Secara khusus, kaum muda Australia mendesak pemerintah untuk mengangkat isu perubahan iklim dan kurangnya perumahan dengan harga terjangkau.

Kampanye Morrison untuk pemilu berfokus pada persoalan ekonomi, sedangkan Shorten menyoroti reformasi pajak dan berjanji akan menurunkan emisi gas rumah kaca.

Pendukung Partai Buruh, Julie Nelson, berpendapat kekalahan Shorten merupakan hasil dari kampanye negatif koalisi Morrison.

"Masyarakat menjadi takut setelah adanya kampanye negatif," tutur Nelson. "Koalisi Liberal-Nasional berhasil meyakinkan orang-orang bahwa mereka harus takut pada perubahan, bukan menerimanya."

Sumber : BBC