sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Setelah bentrokan pecah, PM Srilanka Mahinda Rajapaksa mengundurkan diri

Krisis ini sebagian disebabkan oleh kurangnya mata uang asing, yang berarti bahwa negara tersebut tidak mampu membayar impor.

Fitra Iskandar
Fitra Iskandar Senin, 09 Mei 2022 18:59 WIB
Setelah bentrokan pecah, PM Srilanka Mahinda Rajapaksa mengundurkan diri

Perdana Menteri Sri Lanka Mahinda Rajapaksa mengundurkan diri pada hari Senin, 9 Mei, beberapa jam setelah para pendukungnya menyerang pengunjuk rasa anti-pemerintah di luar kantor Presiden Gotabaya Rajapaksa.

Penyerangan itu menyebabkan sedikitnya 78 orang terluka dan mendorong pihak berwenang untuk memberlakukan jam malam nasional dan mengerahkan pasukan tentara di ibu kota. 

Menurut laporan Thewire, setidaknya dua menteri Kabinet juga telah mengumumkan pengunduran diri mereka. Perdana Menteri Mahinda, 76, mengirimkan surat pengunduran dirinya kepada Presiden Gotabaya, yang merupakan saudaranya.

Kekerasan meningkat

Kekerasan terjadi antara kelompok demonstran dan pendukung pemerintah semakin meningkatkan tekanan terhadap adiknya, Presiden Gotabaya untuk membentuk pemerintahan sementara. Ini demi mengatasi krisis ekonomi terburuk yang dihadapi Sri Lanka. 

AFP melaporkan selama bentrokan, loyalis Rajapaksa yang bersenjatakan tongkat dan pentungan menyerang pengunjuk rasa yang tidak bersenjata yang telah berkemah di luar kantor Presiden Gotabaya Rajapaksa sejak 9 April. Polisi menembakkan gas air mata dan meriam air ke pendukung pemerintah yang melanggar garis polisi untuk menghancurkan tenda dan bangunan lain yang didirikan oleh pengunjuk rasa anti-pemerintah.

“Sementara emosi memuncak di #lka, saya mendesak masyarakat umum untuk menahan diri & ingat bahwa kekerasan hanya menghasilkan kekerasan. Krisis ekonomi yang kita butuhkan solusi ekonomi yang pemerintah ini berkomitmen untuk selesaikan,” tulis Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa di Twitter beberapa jam yang lalu.

Sebelumnya, Rajapaksa mengatakan kepada ribuan pendukungnya yang berkumpul di luar rumahnya bahwa tidak ada yang akan menghalanginya. “Saya sudah terbiasa melihat protes dan agitasi, tidak ada yang menghalangi saya. Saya cukup berpengalaman untuk menghadapi situasi apapun,” kata Rajapaksa.

Sponsored

Dalam rapat khusus Kabinet pada 6 Mei, Jumat, Presiden Gotabaya Rajapaksa menyatakan keadaan darurat yang berlaku mulai Jumat tengah malam. Ini adalah kedua kalinya keadaan darurat diumumkan di Sri Lanka hanya dalam waktu sebulan karena negara kepulauan itu berada dalam cengkeraman krisis ekonomi terburuk.

Sri Lanka saat ini berada dalam pergolakan gejolak ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak kemerdekaannya dari Inggris pada tahun 1948.

Krisis ini sebagian disebabkan oleh kurangnya mata uang asing, yang berarti bahwa negara tersebut tidak mampu membayar impor makanan pokok dan bahan bakar, yang menyebabkan kelangkaan akut dan harga yang sangat tinggi.

Ribuan demonstran turun ke jalan-jalan di Sri Lanka sejak 9 April, karena pemerintah kehabisan uang untuk impor barang pokok; harga komoditas penting telah meroket dan terjadi kelangkaan bahan bakar, obat-obatan dan pasokan listrik.(thewire)

Berita Lainnya