sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Polisi Myanmar tembak peluru karet ke pedemo antikudeta

Militer Myanmar, atau yang kerap disebut Tatmadaw, telah menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dalam kudeta pada 1 Februari.

Valerie Dante
Valerie Dante Sabtu, 27 Feb 2021 19:44 WIB
Polisi Myanmar tembak peluru karet ke pedemo antikudeta
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Polisi Myanmar dilaporkan telah menembakkan peluru karet dan menahan pengunjuk rasa dalam demonstrasi antikudeta di Kota Yangon dan sejumlah kota lainnya pada Sabtu (27/2).

Negara itu diguncang oleh gelombang protes terhadap militer.

Militer Myanmar, atau yang kerap disebut Tatmadaw, telah menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dalam kudeta pada 1 Februari.

Sebelumnya, pada Jumat (26/2), terjadi bentrokan serupa antara pedemo dan polisi antihuru-hara pada sejumlah unjuk rasa.

Polisi bergerak pada Sabtu setelah utusan Myanmar untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Duta Besar Kyaw Moe Tun, menyampaikan permohonan yang mendesak PBB menggunakan segala cara yang diperlukan untuk menghentikan kudeta.

Baik PBB maupun sebagian besar negara Barat telah mengecam kudeta dan meminta agar pemimpin militer membebaskan para tahanan politik.

Di kota terbesar Myanmar, Yangon, pada Sabtu, polisi mengejar pengunjuk rasa dan jurnalis dari persimpangan Myaynigone.

Ratusan pengunjuk rasa etnis Mon berkumpul di sana untuk memperingati Hari Nasional Mon dan memprotes kudeta. Mereka bergabung dengan kelompok etnis minoritas lainnya.

Sponsored

Polisi antihuru-hara tiba untuk memukul mundur massa yang berkumpul di persimpangan, mereka mengejar pengunjuk rasa dan jurnalis yang lari bersembunyi di gedung-gedung terdekat. Menurut laporan AFP, otoritas keamanan sempat meledakkan granat kejut dan melepaskan tembakan ke udara.

Tiga wartawan termasuk di antara mereka yang ditahan pada Sabtu.

"Apa yang polisi lakukan? Mereka melindungi diktator gila," teriak para pengunjuk rasa.

Sejumlah pengunjuk rasa lari ke jalan-jalan perumahan yang lebih kecil dan mulai membangun barikade darurat dari kawat berduri dan meja untuk mencegah polisi.

Polisi antihuru-hara juga membubarkan protes di persimpangan Hledan, titik kumpul penting lainnya bagi para demonstran.

Menurut media lokal, bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa juga terjadi di Mandalay dan sejumlah wilayah demonstrasi lainnya.

Seorang pengunjuk rasa di pusat kota Monywa mengatakan, polisi telah menembakkan meriam air ketika mereka mengepung kerumunan.

Panglima militer Jenderal Min Aung Hlaing menyatakan pihak berwenang menggunakan kekuatan minimal untuk melawan para demonstran. Namun, setidaknya tiga pengunjuk rasa tewas dalam demonstrasi baru-baru ini. Tentara mengatakan seorang polisi juga tewas.

Militer menyatakan pihaknya melakukan kudeta atas kecurangan yang terjadi pada pemilu November 2020 yang dimenangkan telah oleh partai yang dipimpin Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).

KPU telah menolak tuduhan adanya kecurangan dalam pemilu.

Junta juga mengatakan bahwa mereka akan memerintah selama satu tahun dalam keadaan darurat dan kemudian mengadakan pemilu baru. (Deutsche Welle)

Berita Lainnya