sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Prancis alami pemogokan terbesar dalam 24 tahun terakhir

Inti dari pemogokan ini adalah reformasi kontroversial dari sistem pensiun.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 05 Des 2019 12:25 WIB
Prancis alami pemogokan terbesar dalam 24 tahun terakhir

Prancis akan menghadapi pemogokan transportasi yang dimulai pada Kamis (5/12). Ini diperkirakan akan menjadi pemogokan paling komprehensif yang pernah dialami negara itu dalam beberapa dekade. 

Banyak yang memprediksi, pemogokan yang tidak pasti kapan akhirnya itu, akan membuat Prancis mandek mengingat semua sistem transportasi umum akan terpengaruh termasuk perjalanan internasional.

Sebagai tindakan antisipatif, Eurostar telah membatalkan seluruh kereta ke dan dari Paris, mulai dari 5 Desember hingga 9 Desember. Ada pun sekitar seperlima dari seluruh penerbangan masuk dan keluar dari Prancis akan dibatalkan pada Kamis.

Inti dari pemogokan ini adalah reformasi kontroversial dari sistem pensiun.

Presiden Emmanuel Macron memenangi Pemilu 2017 dengan janjinya untuk memangkas pajak dan mereformasi Prancis. Namun, itu sebelum publik menyadari persis reformasi macam apa yang ada di benaknya.

Macron ingin menyederhanakan sistem pensiun Prancis yang kompleks dengan menggabungkan 42 rezim menjadi satu rezim tunggal. Bagaimanapun, itu akan berdampak signifikan pada sektor publik yang sampai sekarang menikmati sistem pensiun khusus untuk mengimbangi situasi kerja yang sulit.

Sistem baru akan disebut sistem poin untuk pensiun. Itu dinilai mengancam usia pensiun dan juga kompensasi keuangan pada saat pensiun.

Program pensiun Macron dilaporkan secara khusus menargetkan pekerja kereta atau cheminots, mulai dari masinis, pekerja di kantor, hingga penjual tiket.

Sponsored

Ada banyak hak istimewa yang melekat pada cheminots, di antaranya mereka tidak dapat diberhentikan atas alasan ekonomi, mereka memiliki kenaikan gaji reguler dan mereka memiliki jam kerja yang lebih pendek. Selain itu, mereka juga berhak atas pensiun dini dan memiliki status pensiun khusus.

Berbagai keistimewaan terhadap cheminots dinilai merugikan negara dan saat ini Prancis di bawah kepemimpinan Macron memutuskan untuk mengencangkan ikat pinggang.

Para pekerja yang mogok ingin melindungi keistimewaan yang ingin dihilangkan pemerintah. Di bawah rencana Macron, pekerja saat ini akan mempertahankan hak istimewa mereka, tetapi pekerja baru tidak akan mendapat akses ke sana. 

Mereka yang mogok bertekad memperjuangkan generasi pekerja kereta berikutnya. Pemogokan ini sendiri mendapat dukungan luas dari para penumpang. 

Jajak pendapat yang dirilis oleh La Tribune, Orange dan RTL pekan lalu menunjukkan bahwa enam dari 10 orang mengatakan mereka mendukung pemogokan. 

Ada kekhawatiran bahwa reformasi ini hanya akan menjadi tahap awal dan membiarkannya akan menciptakan efek domino, menghancurkan layanan publik Prancis secara umum.

Banyak sekolah juga akan tutup, menyusul seruan dua serikat guru untuk ikut mogok pada 5 Desember. Aksi itu berpotensi berlanjut. 

Pekerja pos, pegawai pemerintah, polisi, hakim, serikat pekerja rumah sakit, hingga tukang sampah pun menyatakan dukungan mereka terhadap pemogokan.

Pemogokan transportasi nyaris menjadi fenomena bulanan di Prancis. Namun, pemogokan skala besar semacam ini terakhir kali terjadi pada 1995 ketika pekerja memprotes agenda reformasi yang dipimpin oleh Perdana Menteri Alain Juppe. Saat itu, aksi berlangsung selama tiga pekan dan juga mendapat dukungan publik. (France24)

Bara dalam sekam di 'DPP Airlangga'

Bara dalam sekam di 'DPP Airlangga'

Rabu, 29 Jan 2020 17:59 WIB
Di Priok, luka lama itu masih membekas...

Di Priok, luka lama itu masih membekas...

Selasa, 28 Jan 2020 19:15 WIB
Berita Lainnya