sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Prancis dan Jepang masih skeptis terhadap vaksin Covid-19

Berdasarkan survei YouGov dan IGHI, warga Inggris dan Denmark paling siap mengikuti vaksinasi masing-masing sebesar 78% dan 67%.

Nafis Arsaputra
Nafis Arsaputra Kamis, 04 Feb 2021 14:53 WIB
Prancis dan Jepang masih skeptis terhadap vaksin Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Vaksin sebagai penawar dampak pandemi Covid-19 membuat beberapa negara, terutama di Asia, berbondong-bondong untuk mendapatkannya.

Kesediaan orang-orang demi mendapatkan vaksin pun meningkat di seluruh dunia. Karenanya, kepercayaan untuk divaksin secara global mulai ditawarkan.

Menurut survei YouGov dan Imperial College London's Institute of Global Health Innovation (IGHI), orang-orang di Inggris paling bersedia menerima vaksin Covid-19 sebesar 78% dan Denmark sebesar 67%.

Berbanding terbalik dengan Prancis karena menunjukkan sikap skeptis yang tinggi dalam kepercayaan terhadap vaksin. "Kota Mode" memiliki proporsi tertinggi dari responden yang mengatakan takkan menerima vaksin sebesar 44%.

Meski demikian, terdapat peningkatan dua kali lipat dalam proporsi yang sangat setuju akan mengambil vaksin. Dari 15% pada November 2020 menjadi 30% pada Januari 2021.

Sedangkan Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura, kesediaan untuk mengikuti vaksinasi menurun sejak November. "Negeri Matahari Terbit" menjadi negara yang menunjukkan kesiapan paling sedikit diikuti Singapura.

"Karena vaksin akan memainkan peran penting dalam mengendalikan pandemi, para pemimpin harus bertindak sekarang untuk membantu lebih banyak orang memahami manfaat vaksinasi Covid-19 dan memastikan tidak ada yang tertinggal," kata ko-direktur IGHI dan utusan khusus Covid-19 WHO, David Nabarro.

Survei ini dilakukan sebagai bagian upaya WHO dan badan lainnya untuk memantau perilaku dan sikap terkait kesehatan selama pandemi.

Sponsored

Sejak April 2020, para peneliti mensurvei lebih dari 470.000 orang di seluruh dunia. Riset terbaru tersebut berlangsung pada 4-24 Januari.

Berita Lainnya