sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Prancis: Tidak cukup waktu untuk merombak kesepakatan Brexit

Jika tidak ada proposal alternatif, kemungkinan besar Inggris akan keluar dari Uni Eropa dengan skenario no-deal.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 23 Agst 2019 15:33 WIB
Prancis: Tidak cukup waktu untuk merombak kesepakatan Brexit

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan kepada Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada Kamis (22/8) bahwa tidak ada cukup waktu untuk sepenuhnya merombak kesepakatan Brexit sebelum tenggat 31 Oktober.

Kedua politikus itu berpegang teguh pada pendirian masing-masing, Johnson menuntut agar Uni Eropa membuka kembali negosiasi kesepakatan Brexit dan Macron menegaskan bahwa hal itu tidak mungkin terjadi.

Menurut Macron, sudah tidak ada waktu yang cukup untuk mengubah kesepakatan Brexit secara substantif.

"Kami tidak akan dapat menghasilkan kesepakatan baru dalam waktu 30 hari yang akan jauh berbeda dari kesepakatan yang sudah ada," kata dia dalam konferensi pers bersama di Istana Elysee di Paris, Prancis.

Macron menegaskan kembali pendiriannya bahwa Brexit bukan kemauan Uni Eropa.

Kunjungan PM Johnson ke Paris bertujuan mendorong Uni Eropa untuk mengubah posisinya terkait Brexit. Dia bersikeras bahwa Uni Eropa perlu menghapus klausul backstop Irlandia.

"Backstop Irlandia merupakan jaminan vital bagi stabilitas di Irlandia dan integritas pasar tunggal Uni Eropa," tegas Macron.

Johnson menanggapi Macron dengan pernyataan bahwa dia optimis hal itu masih dapat diubah. Tetapi ketika ditanya apa rencananya, dia tidak dapat memberikan jawaban konkret.

Sponsored

Sebaliknya, dia merujuk pada sebuah proposal yang pada awal 2019 diterbitkan oleh sekelompok anggota parlemen Inggris yang menguraikan solusi alternatif untuk backstop Irlandia. Namun, proposal tersebut sebelumnya telah ditolak oleh Uni Eropa.

Dalam pidato pembukaannya, Johnson berusaha menyoroti hubungan baik antara kedua negara, menyebutkan pasukan Prancis dan Inggris bekerja berdampingan di Mali dan Estonia. Dia kemudian menuturkan bahwa bus-bus buatan Prancis pun melintasi jalanan di London.

Sayangnya pujian Johnson tidak berdampak karena Macron terus bersikeras bahwa backstop Irlandia sangat diperlukan.

Agar perbatasan antara Republik Irlandia dan Irlandia Utara tidak terhalang, Uni Eropa mengusulkan backstop di dalam perjanjian penarikan Inggris dari Uni Eropa. Ini akan berlaku jika tidak ada solusi lain yang dapat diterapkan, sehingga Irlandia Utara akan tetap menjalankan beberapa peraturan Pasar Tunggal Uni Eropa dan tetap tergabung dalam Serikat Pabean Uni Eropa agar tidak perlu ada pemeriksaan perbatasan.

Para pemimpin Uni Eropa berpegang teguh pada pendirian mereka dan menyatakan bahwa jika Johnson ingin menghapus backstop, dia perlu membuat proposal alternatif baru.

Berbicara dalam konferensi pers bersama di Berlin pada Rabu (21/8) malam waktu setempat, Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan Inggris harus memberi tahu Uni Eropa gagasan-gagasan apa yang dimilikinya untuk menyelesaikan persoalan backstop.

Merkel menantang Johnson untuk membuat proposal alternatif baru dalam waktu 30 hari.

Pada Selasa (20/8), Presiden Dewan Eropa Donald Tusk mengatakan bahwa backstop adalah asuransi untuk menghindari gejolak di perbatasan dan hanya akan berlaku sampai solusi baru ditemukan.

Jika tidak ada proposal alternatif, kemungkinan besar Inggris akan keluar dari Uni Eropa dengan skenario no-deal.

Menurut perkiraan pemerintah Inggris, no-deal dapat menjerumuskan negara itu ke dalam kekacauan ekonomi, memicu kekurangan makanan, obat-obatan dan bahan bakar.

Sumber : CNN