logo alinea.id logo alinea.id

Presiden Dewan Eropa kecam pihak yang dukung no deal-Brexit

PM May kembali bertandang ke Brussels pada Kamis (7/2) waktu setempat, mencoba mencari solusi atas kebuntuan Brexit setelah drafnya ditolak.

Valerie Dante Kamis, 07 Feb 2019 11:12 WIB
Presiden Dewan Eropa kecam pihak yang dukung no deal-Brexit

Kefrustrasian Uni Eropa terhadap pemerintah Inggris semakin terlihat, memicu perang kata-kata selagi Perdana Menteri Inggris Theresa May bertandang ke Brussels untuk mencoba menyelamatkan kesepakatan Brexit miliknya.

Presiden Dewan Eropa Donald Tusk memperingatkan ada "tempat khusus di neraka" bagi pihak-pihak yang mendukung terjadinya Brexit tanpa kesepakatan atau no-deal Brexit. Komentar tersebut mengundang amarah di London.

Pernyataan Tusk datang hanya 24 jam sebelum May dijadwalkan bertatap muka dengannya dalam upaya menyusun rencana ke depan.

Pemimpin Dewan Perwakilan Inggris Andrea Leadsom, seorang pendukung Brexit, mengkritik komentar Tusk dan menilai pernyataannya penuh dendam.

"Apa yang dia katakan sangat tidak bisa diterima dan sangat memalukan," katanya.

Menteri Kesehatan Matt Hancock mengatakan, "Arogansi seperti itulah yang mendorong antipati terhadap Uni Eropa. Kami adalah negara yang menjunjung tinggi hasil suara demokratis, Uni Eropa perlu menghormati itu."

Melalui Twitter, Menteri Dalam Negeri Sajid Javid berkomentar bahwa perilaku Tusk tidak dapat diterima.

Sedangkan pemimpin Partai Unionis Demokrat (DUP) Arlene Foster mengecam sikap Tusk yang menurutnya provokatif dan tidak sopan. Anggota Parlemen DUP Sammy Wilson menggambarkan pemimpin Uni Eropa itu sebagai "maniak Eropa yang jahat".

Sponsored

Juru bicara PM May pun turut memprotes komentar Tusk.

"Menurut saya pertanyaan untuk Donald Tusk adalah apakah dia menganggap penggunaan bahasa semacam itu bermanfaat," ujar juru bicara PM May.

Perselisihan itu dikhawatirkan dapat berimbas buruk pada pertemuan PM May dengan Tusk, Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker, dan koordinator Brexit di Parlemen Eropa Guy Verhofstadt.

Dalam sebuah twit, Verhofstadt pun turut mengomentari para pendukung Brexit.

"Saya ragu Lucifer akan menyambut mereka, setelah apa yang mereka lakukan kepada Inggris," tulisnya.

Tatap muka ini akan menjadi kali pertama May bertemu pejabat senior Uni Eropa sejak draf Brexit miliknya ditolak dalam pemungutan suara Dewan Perwakilan bulan lalu.

Kini May mencari 'resolusi alternatif' untuk menggantikan poin backstop Irlandia dalam draf Brexit miliknya. 

Pada dasarnya, backstop merupakan posisi untuk tetap membuka perbatasan antara Irlandia Utara, yang merupakan bagian dari Inggris, dengan Republik Irlandia, bagian dari Uni Eropa, setelah proses Brexit berlangsung.

Tetapi setelah berbincang dengan Perdana Menteri Republik Irlandia Leo Varadkar di Brussels, Tusk dan Juncker sama-sama menolak perubahan apa pun terhadap backstop.

Kepada wartawan, Tusk mengatakan bahwa Uni Eropa tidak akan membuat tawaran baru kepada Inggris. Blok tersebut menuntut May untuk memberikan saran realistis tentang cara mengakhiri kebuntuan Brexit.

Juncker mengklaim PM May sudah tahu bahwa Uni Eropa tidak akan membuka kembali diskusi terkait backstop.

"Resolusi alternatif yang disebut tidak akan bisa menggantikan backstop," tambah Juncker. "Tidak mungkin Anda dapat secara sepihak membatalkan backstop, karena backstop diperlukan sebagai jaminan. Jaring pengaman tidak dapat disebut sebagai jaring pengaman jika bisa dihancurkan oleh aksi sepihak."

Sebuah foto kemudian beredar yang memperlihatkan Juncker dan Varadkar membaca kartu ucapan terima kasih dari sebuah keluarga di Dublin. Dalam kartunya, keluarga itu berterima kasih kepada Uni Eropa atas solidaritasnya.

"Untuk pertama kalinya Irlandia lebih kuat dari Inggris," bunyi kartu itu. "Kekuatan itu bukan berasal dari senjata ... itu berasal dari kata-kata Anda dan dar rekan-rekan Anda. Inggris tidak peduli dengan perdamaian di Irlandia Utara. Bagi mereka itu merepotkan."

Dalam konferensi pers dengan Varadkar, Tusk mengklaim ada kekosongan kepemimpinan di jantung gerakan Brexit dan menyesali kegagalan pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn untuk mendorong upaya referendum kedua.

"Hari ini, tidak ada kekuatan politik dan tidak ada kepemimpinan yang efektif. Saya mengatakan ini tanpa kepuasan, tetapi Anda tidak dapat berdebat dengan fakta yang ada," ujar Tusk.

Selain itu, Varadkar memandang bahwa, "Ketidakstabilan politik Inggris dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan mengapa Republik Irlandia membutuhkan jaminan hukum dan solusi yang dapat dijalankan, yang kita tahu akan berhasil, dan yang akan bertahan lama."

Ditanya tentang ambisi May untuk berkunjung ke Brussels, Varadkar mengatakan dia benar-benar prihatin dengan gagasan resolusi alternatif ini.

"Kita harus ingat bahwa mayoritas Dewan Perwakilan yang menginginkan perundingan alternatif mungkin mendukungnya hanya karena perundingan itu berarti Anda bisa mendapatkan apa pun yang Anda inginkan," jelasnya.

Saat konferensi pers, Varadkar terdengar memberi tahu Tusk bahwa Inggris akan memberi masalah besar bagi Uni Eropa, yang mana Tusk meresponsnya dengan tertawa dan mengangguk.

May menggambarkan lawatannya ke Brussels sebagai bagian dari proses, dan dia diharapkan akan tiba di Brussels tanpa mempersempit tiga pendekatan yang diusulkan dan dia harap dapat diupayakan. 

Tiga pendekatan itu adalah tanggal akhir untuk backstop, klausa keluar sepihak, atau alternatif teknologi canggih untuk pemeriksaan perbatasan.

"Kami terus mengupayakan ketiganya," kata juru bicara perdana menteri pada Rabu (6/2).

May berjanji untuk membawa kembali Withdrawal Agreement yang telah direvisi ke Parlemen. Tetapi sumber-sumber pejabat senior pemerintah menyatakan itu tidak mungkin terjadi pekan depan.

Sumber : The Guardian

Cinta bersemi dari aplikasi

Cinta bersemi dari aplikasi

Jumat, 15 Feb 2019 12:59 WIB