Dunia / Iran

Presiden Iran kepada Korea Utara: AS tidak dapat dipercaya

Amerika Serikat saat ini tengah mengupayakan kesepakatan nuklir dan rudal dengan Korea Utara.

Presiden Iran kepada Korea Utara: AS tidak dapat dipercaya Ilustrasi / Shutterstock

Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan kepada Korea Utara bahwa Amerika Serikat adalah negara yang tidak bisa dipercaya, lapor kantor berita setempat.

Amerika Serikat saat ini tengah mengupayakan kesepakatan nuklir dan rudal dengan Korea Utara. Mereka juga tengah menekan Iran untuk mengikuti langkah Pyongyang maju ke meja runding.

Pada pekan ini, Iran telah menolak tawaran perundingan dari Washington, karena sudah tidak percaya lagi pada Presiden Donald Trump yang secara sepihak menarik diri dari perjanjian nuklir internasional 2015.

Bersamaan dengan pemberlakuan kembali sanksi Amerika Serikat untuk Iran, Menteri Luar Negeri Korea Utara, Ri Yong Ho, tengah mengunjungi Teheran. 

"Prestasi pemerintahan Amerika Serikat dalam beberapa tahun belakangan membuat mereka menjadi negara yang tidak bisa lagi dipercaya dan tidak dapat diandalkan karena tidak mampu memenuhi kewajiban mereka," kata Rouhani kepada Ri, sebagaimana dikutip kantor berita IRNA, Rabu (8/8).

"Dalam situasi sekarang, semua negara harus membangun hubungan dan kerja sama yang baik dengan komunitas internasional," kata Rouhani, yang menambahkan bahwa Iran dan Korea Utara hampir selalu satu sikap dalam banyak hal.

Ri berkunjung ke Teheran setelah menghadiri sebuah forum keamanan di Singapura, di mana dia dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo bertemu untuk melanjutkan perundingan yang telah dimulai oleh pemimpin kedua negara, Kim Jong-un dan Donald Trump, pada Juni lalu.

Trump dan Kim Jong-un sudah sepakat untuk mengupayakan penghapusan nuklir di Semenanjung Korea. Namun sejak saat itu, kedua belah pihak kesulitan untuk mencapai perjanjian konkret.

Kepada Rouhani, Ri mengatakan bahwa penarikan diri sepihak Washington pada perjanjian nuklir 2015 dan pemberlakuan kembali sanksi adalah sebuah "tidakan yang melanggar aturan dan hukum internasional", kata IRNA.

"Strategi kebijakan Korea Utara selama ini adalah memperkuat hubungan dengan Republik Islam Iran dan menolak unilateralisme," kata dia.

Trump memutuskan untuk memulihkan sanksi terhadap Iran meski negara-negara lain yang turut menandatangani perjanjian 2015 -- termasuk Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan China mendesak Washington untuk membatalkan rencana itu.

Sanksi baru dari Amerika Serikat membuat banyak bank dan perusahaan dari berbagai belahan dunia menarik diri dari Iran. Perusahaan yang punya hubungan usaha dengan Iran akan dilarang beroperasi di Amerika Serikat, kata Trump pada Selasa (7/8).


Sumber: Antara


Berita Terkait