sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pulih dari Covid-19, PM Inggris kembali ke Downing Street

Inggris telah mencatat 152.840 kasus positif Covid-19, dengan

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 27 Apr 2020 11:03 WIB
Pulih dari Covid-19, PM Inggris kembali ke Downing Street
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 502.110
Dirawat 63.722
Meninggal 16.002
Sembuh 422.386

Perdana Menteri Boris Johnson telah kembali ke Downing Street dan memimpin respons Inggris terhadap pandemik Covid-19. Johnson akan memimpin rapat kabinet reguler terkait coronavirus jenis baru sebelum menggelar pertemuan dengan para menteri dan pejabat senior. 

Selama sakit, PM Johnsin digantikan sementara oleh Menteri Luar Negeri Dominic Raab.

"Dia (PM Johnson) akan bekerja penuh waktu pada Senin," tutur Raab.

PM Johnson tiba di No.10 pada Minggu (26/4) malam, di tengah tekanan yang meningkat dari anggota parlemen konservatif agar kebijakan lockdown atau karantina wilayah dicabut.

Pada Minggu, Inggris mengumumkan 413 kematian baru akibat Covid-19, membawa total fatalitas di negara itu menjadi 20.732. Itu merupakan angka kematian harian terendah pada April.

Namun, angka kematian di tengah masyarakat dan di panti jompo yang terlambat untuk dilaporkan, memberi peringatan bahwa total fatalitas cenderung lebih tinggi secara signifikan.

Sudah sebulan sejak PM Johnson didiagnosis mengidap Covid-19.

Dia menghabiskan satu pekan di RS St Thomas di London, termasuk tiga malam di ruang perawatan intensif, setelah dirawat pada 5 April.

Sponsored

PM Johnson belum melakukan pekerjaan resminya selama menjalani masa pemulihan di kediaman resmi PM, Chequers. Meski demikian, pekan lalu dia berbincang via telepon dengan Ratu Elizabeth II dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta para menteri senior.

Johnson disebut tidak ingin mengambil tindakan apa pun yang berisiko memicu gelombang infeksi kedua meski dia menghadapi tekanan terkait kesehatan di satu sisi dan kekhawatiran akan efek dari lockdown terhadap ekonomi di sisi lainnya. Tekanan termasuk datang dari anggota parlemen asal partainya sendiri.

Politikus Partai Konservatif Sir Graham Brady menuturkan kepada BBC Radio bahwa ada batas berapa lama orang akan menoleransi pembatasan, terutama jika itu dianggap tidak logis.

Pembatasan ketat dalam kehidupan sehari-hari seperti mengharuskan orang-orang tinggal di rumah, menutup banyak bisnis, dan mencegah pertemuan lebih dari dua orang diberlakukan pada 23 Maret.

Para menteri diharuskan oleh hukum untuk menilai apakah kebijakan itu membawa efektif setiap tiga pekan. Ulasan berikutnya akan jatuh tempo pada 7 Mei.

Pada Minggu, Menlu Rabb telah mengatakan bahwa kebijakan social distancing akan tetap berlaku hingga beberapa waktu ke depan. Alih-alih mencabut seluruh pembatasan, dia justru menyebut bahwa Inggris akan bergerak ke arah normal yang baru.

Menlu Rabb juga mengungkapkan bahwa kebijakan social distancing yang sudah diterapkan di toko-toko makanan dan sejumlah bisnis lain yang tetap beroperasi juga dapat diperluas ke bisnis nonesensial jika mereka ingin beroperasi kembali.

Sementara itu, politikus dari Partai Buruh Rachel Reeves menuturkan bahwa Inggris harus berpotensi mengikuti langkah sejumlah negara seperti Belgia, Jerman, dan Denmark yang telah mengisyaratkan pembukaan kembali sebagian dari bisnis dan sekolah.

"Kami ingin bekerja sama dengan pemerintah dalam mengedepankan rencana (itu) dan menyelesaikannya dengan benar," kata Reeves.

Di lain sisi, para ilmuwan yang memberi nasihat kepada pemerintah telah memperingatkan setiap risiko relaksasi pada saat jumlah pasien di rumah sakit yang menderita Covid-19 mulai turun.

"Ketakutan saya adalah kurva itu tidak akan terus berada pada tren menurun, tetapi akan mulai berada pada tren naik," ujar Direktur Medis Layanan Kesehatan Nasional Inggris Stephen Powis dalam briefing harian.

"Kami tidak berada pada titik di mana salah satu dari kami benar-benar yakin bahwa (relaksasi) itu tidak akan menjadi masalah."

Menurut Menlu Raab, pemerintah berada di jalur yang tepat untuk mencapai target melaksanakan 100.000 tes Covid-19 per hari pada Kamis (30/4).

Ada 29.058 tes Covid-19 yang dilakukan pada Sabtu (25/4), jauh dari target pemerintah yang ingin dicapai pada akhir April.

Menteri Lingkungan George Eustice mengklaim bahwa kapasitas untuk pengujian telah meningkat menjadi lebih dari 50.000 sehari. Dia menambahkan bahwa sejumlah besar orang di care home telah menjalani tes.

Hingga berita ini diturunkan, Inggris telah mencatat total 152.840 kasus positif Covid-19. (BBC dan Reuters)

Menjinakkan La Nina demi ketahanan pangan

Menjinakkan La Nina demi ketahanan pangan

Senin, 23 Nov 2020 16:42 WIB
Efek domino kekerasan perempuan berbasis online

Efek domino kekerasan perempuan berbasis online

Minggu, 22 Nov 2020 14:48 WIB
Berita Lainnya