sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Putin: Kami bantu China bangun sistem pertahanan rudal

Sistem tersebut memungkinkan untuk mendapatkan peringatan dini serangan rudal balistik antarbenua.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 04 Okt 2019 20:11 WIB
Putin: Kami bantu China bangun sistem pertahanan rudal

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa Moskow membantu China membangun sistem peringatan dini serangan rudal. Sejak Perang Dingin, hanya Amerika Serikat dan Rusia yang memiliki sistem semacam itu.

Sistem tersebut, yang menggunakan sejumlah radar berbasis darat dan satelit ruang angkasa, memungkinkan untuk mendapatkan peringatan dini serangan rudal balistik antarbenua.

Berbicara dalam konferensi urusan internasional pada Kamis (3/10), Putin mengatakan bahwa Rusia telah membantu Tiongkok mengembangkan sistem pertahanan rudal seperti itu.

"Ini adalah hal yang sangat serius yang secara signifikan akan meningkatkan kemampuan pertahanan China," jelas dia.

Pernyataan Putin mengisyaratkan adanya tingkat baru kerja sama pertahanan antara kedua negara. Ketika Beijing dan Washington tenggelam dalam perang dagang, Tiongkok dan Rusia berupaya mengembangkan hubungan politik dan militer.

Pada Juni, Presiden China Xi Jinping menyebut Putin sebagai teman terbaik dan sahabat karibnya, menambahkan bahwa dia menghargai persahabatannya yang dalam dengan pemimpin Rusia itu.

Belum ada tanggapan dari Tiongkok, tetapi klaim Putin mendapat reaksi beragam dari warganet China.

Di platform media sosial China, Weibo, beberapa pengguna menyambut baik kerja sama strategis antara kedua negara. Namun, sejumlah lainnya mempertanyakan apakah Beijing membutuhkan bantuan Moskow terkait urusan militer.

Sponsored

"Lagi-lagi Rusia menyombongkan diri. Mungkin itu terkait dengan budaya mereka. China tidak akan sombong seperti itu," kata seorang pengguna.

Awal pekan ini, China memamerkan perangkat baru militernya, termasuk apa yang sejumlah ahli yakini sebagai rudal hipersonik. Rudal, yang dikenal sebagai DF-17, dapat bermanuver tajam pada kecepatan suara, membuatnya sangat sulit untuk dihindari.

Pada Agustus, China dan Rusia menuduh AS memicu perlombaan senjata dengan menguji coba rudal jelajah. Uji coba itu dilakukan hanya beberapa pekan setelah Washington menarik diri dari Traktat Pembatasan Senjata Nuklir Jarak Menengah (INF) yang disepakati dengan Moskow pada 1987.

Dalam pernyataannya, Kementerian Pertahanan menuturkan bahwa rudal tersebut merupakan rudal jelajah Tomahawk yang dapat mencapai sasaran lebih dari 500 kilometer.

INF melarang uji coba rudal dengan rentang jarak antara 500-5.500 kilometer, bertujuan untuk mengurangi kemampuan kedua negara meluncurkan serangan nuklir dalam waktu singkat.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengecam uji coba AS. Dia menegaskan bahwa Moskow tidak ingin memulai perlombaan senjata dan tidak akan meluncurkan rudal baru kecuali jika Washington melakukannya terlebih dahulu.

China juga menyerang AS, memperingatkan bahwa uji coba rudal dapat memicu putaran baru perlombaan senjata dan memiliki dampak negatif pada keamanan regional dan internasional.

Sumber : The Guardian

Bara dalam sekam di 'DPP Airlangga'

Bara dalam sekam di 'DPP Airlangga'

Rabu, 29 Jan 2020 17:59 WIB
Di Priok, luka lama itu masih membekas...

Di Priok, luka lama itu masih membekas...

Selasa, 28 Jan 2020 19:15 WIB
Berita Lainnya