logo alinea.id logo alinea.id

Putra Mahkota Arab Saudi punya tim untuk memburu para pembangkang

Pejabat AS mengatakan bahwa Arab Saudi, dengan otorisasi MBS, menjalan operasi untuk membungkam para pembangkang.

Khairisa Ferida
| Khairisa Ferida Selasa, 19 Mar 2019 18:11 WIB
Putra Mahkota Arab Saudi punya tim untuk memburu para pembangkang

Satu tahun sebelum pembunuhan Jamal Khashoggi, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman atau yang kerap dijuluki MBS menyetujui sebuah operasi rahasia untuk membungkam para pembangkang. Itu meliputi tindakan pengawasan, penculikan, penahanan, dan penyiksaan. 

Hal tersebut diungkap oleh sejumlah pejabat Amerika Serikat yang telah membaca laporan intelijen tentang operasi tersebut.

Setidaknya sejumlah misi rahasia yang dilakukan oleh tim yang sama yang membunuh dan memutilasi Khashoggi di Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, pada Oktober 2018 menunjukkan bahwa pembunuhan jurnalis itu merupakan bagian yang sangat mengerikan dari kampanye yang lebih luas untuk membungkam para pembangkang. Demikian menurut sejumlah pejabat dan rekan dari beberapa korban Arab Saudi. 

Tim yang membunuh Khashoggi, yang oleh pejabat AS disebut Saudi Rapid Intervention Group, terlibat dalam setidaknya belasan operasi sejak 2017.

"Beberapa operasi melibatkan pemulangan paksa sejumlah warga Arab Saudi dari negara-negara Arab, penahanan, dan pelecehan tahanan di istana-istana milik putra mahkota dan Raja Salman," kata para pejabat AS dan rekan-rekan korban.  

Salah satu warga Arab Saudi yang ditahan oleh tim itu, yang berprofesi sebagai dosen di bidang linguistik dan menulis blog tentang perempuan di Arab Saudi, berusaha bunuh diri tahun lalu setelah mengalami penyiksaan psikologis. Hal ini terungkap lewat laporan intelijen AS dan lainnya.

Sejumlah pejabat AS yang dekat dengan laporan intelijen menyebutkan bahwa Saudi Rapid Intervention Group sangat sibuk hingga pada Juni tahun lalu pemimpin kelompok itu meminta seorang penasihat utama bertanya pada MBS soal bonus Idul Fitri.

Rincian tentang operasi itu datang dari pejabat AS yang telah membaca penilaian rahasia intelijen juga sejumlah warga Arab Saudi yang memiliki pengetahuan langsung soal beberapa operasi. Mereka bicara dengan syarat anonim karena takut dengan respons pemerintah Arab Saudi.

Sponsored

Seorang juru bicara Kedutaan Arab Saudi di Washington mengatakan, kerajaan menanggapi tuduhan perlakuan buruk terhadap para terdakwa yang menanti persidangan atau para tahanan yang tengah menjalani hukuman dengan sangat serius.

"Hukum Arab Saudi melarang penyiksaan dan meminta pertanggungjawaban mereka yang terlibat dalam penyalahgunaan kekuasaan," ungkap juru bicara tersebut. "Hakim tidak dapat menerima pengakuan yang diperoleh di bawah tekanan. Penuntut umum kerajaan dan Komisi HAM Arab Saudi tengah menyelidiki tuduhan-tuduhan terbaru ini."

Pemerintah Arab Saudi bersikeras bahwa pembunuhan Khashoggi, seorang jurnalis pembangkang yang tinggal di AS dan menulis kolom untuk The Washington Post, tidak diperintahkan oleh Riyadh. 

Keputusan untuk membunuh Khashoggi, menurut pejabat Arab Saudi, dibuat oleh tim yang ada di lokasi kejadian dan mereka yang bertanggungjawab tengah dituntut. Di lain sisi, Badan intelijen Turki dan AS menyatakan bahwa pembunuhan Khashoggi sudah direncanakan.

Arab Saudi menuturkan bahwa 11 warga Arab Saudi menghadapi dakwaan pidana atas pembunuhan tersebut dan jaksa menuntut lima di antaranya dijatuhi hukuman mati. Namun, hingga saat ini para pejabat belum secara terbuka mengidentifikasi para tersangka.

Sempat lama membantah terlibat, akhirnya para pejabat Arab Saudi mengakui bahwa dinas intelijen mereka mendapat perintah untuk membawa pulang para pembangkang. Apa yang tidak mereka akui adalah bahwa tim khusus telah dibentuk untuk melakukannya.

Para pejabat Arab Saudi menolak untuk mengonfirmasi atau menyangkal bahwa tim semacam itu ada, atau menjelaskan tentang tugas mereka.

Arab Saudi memiliki sejarah mengejar pembangkang di luar negeri, tetapi tindakan keras disebut telah meningkat tajam setelah MBS diangkat menjadi putra mahkota pada 2017. MBS bergerak cepat untuk mengonsolidasikan kekuasaannya, menyingkirkan Pangeran Mohammed bin Nayef yang mengawasi dinas keamanan, hingga memberinya kekuasaan atas badan-badan intelijen.

Sejak itu, pasukan keamanan Arab Saudi telah menangkap puluhan ulama, intelektual, dan aktivis yang dianggap menimbulkan ancaman. Demikian pula dengan mereka yang mengucapkan kritik atau sarkasme tentang pemerintah di media sosial.

"Sebelumnya, kami belum pernah melihat dalam skala seperti ini," ungkap Bruce Riedel, seorang mantan analis CIA. "Di masa lalu, seorang pembangkang seperti Jamal Khashoggi tidak akan dianggap sepadan atas upaya itu."

Riedel menyoroti kecerobohan tim yang beroperasi secara bebas di Konsulat Arab Saudi tanpa pengawasan badan intelijen setempat.

"Rapid Intervention Group diotorisasi oleh MBS dan diawasi oleh Saud al-Qahtani, seorang pembantu utama yang pekerjaan resminya adalah 'raja media' di kerajaan," ungkap para pejabat AS. "Wakilnya adalah Maher Abdulaziz Mutreb, seorang perwira intelijen yang kerap bepergian dengan MBS. Dia memimpin tim di lapangan."

Anggota tim lainnya adalah Thaar Ghaleb al-Harbi, seorang anggota pengawal kerajaan yang dipromosikan pada 2017 atas keberaniannya saat terjadi serangan ke istana.

Seorang pejabat Arab Saudi mengklaim bahwa Mutreb dan al-Harbi diadili di Riyadh atas kematian Khashoggi, sementara Qahtani berstatus tahanan rumah. Tidak jelas apakah tim ini masih beroperasi.

Laporan intelijen AS tidak menyebutkan secara spesifik seberapa jauh keterlibatan MBS dengan tim tersebut, tetapi menyebutkan bahwa anggota tim menempatkan Qahtani sebagai penghubung dengan MBS.

"Ketika MBS memenjarakan ratusan pangeran, pengusaha dan mantan pejabat di Riyadh Ritz-Carlton pada 2017 atas tuduhan korupsi, Qahtani dan Mutreb bertugas di hotel, membantu menekan para tahanan untuk mengalihkan aset mereka," sebut para rekan dari tahanan yang melihat mereka.

Saksi mata mengatakan, banyak dari mereka yang ditahan di Ritz-Carlton mengalami pelecehan fisik, dan satu orang meninggal di tahanan. Tidak diketahui apakah anggota dari Rapid Intervention Group terlibat dalam pelecehan dan pemerintah Arab Saudi telah membantah bahwa kejadian itu terjadi di sana.

Dalam kasus Khashoggi, sedikit lebih terang. Menurut pejabat Turki, Mutreb dan al-Harbi ada di Konsulat Arab Saudi pada hari pembunuhan Khashoggi. 

Para pejabat AS mengatakan, penilaian CIA pada November menyebutkan bahwa MBS telah memerintahkan pembunuhan Khashoggi. Bagaimanapun, CIA menolak berkomentar.

Boleh jadi, badan-badan intelijen AS tidak memiliki bukti konklusif bahwa MBS memerintahan pembunuhan, tetapi mereka telah menyatukan pola operasi serupa yang sebelumnya dilakukan di bawah otoritas MBS.

Bukti-bukti tentang peran MBS dalam operasi rahasia terus dikumpulkan.

Pada Desember 2018, Badan Keamanan Nasional merilis laporan yang mengungkapkan bahwa pada 2017, MBS mengatakan kepada seorang ajudan utamanya, dia akan menggunakan peluru terhadap Khashoggi jika pria berkacamata itu menolak kembali dan mengakhiri kritik-kritiknya.

Analis intelijen berpendapat bahwa MBS mungkin belum secara harfiah memerintahkan pembunuhan Khashoggi, tetapi dia bermaksud membungkam Khashoggi dengan menghabisinya jika keadaan mengharuskannya.

Penilaian yang dikeluarkan CIA telah menciptakan ketegangan antara badan intelijen itu dengan Donald Trump, yang menjadikan hubungan dengan Arab Saudi sebagai landasan penting kebijakan luar negerinya. MBS dilaporkan menjadi sekutu dekat Gedung Putih, terutama Jared Kushner, menantu Trump yang juga penasihat seniornya.

Terlepas dari penilaian CIA bahwa MBS memerintahkan operasi pembunuhan Khashoggi, Trump telah berulang kali menyampaikan bahwa bukti tidak konklusif.

Pembunuhan mengerikan Khashoggi telah memicu badai kemarahan dunia dan pengawasan atas sosok Putra Mahkota Arab Saudi, yang memperkenalkan dirinya sebagai reformis berpikiran maju dengan visi besar untuk memodernisasi kerajaan.

Penganiayaan para aktivis

Rapid Intervention Group diduga terlibat dalam penahanan dan penganiayaan sekitar belasan aktivis hak-hak perempuan, yang ditahan pada Musim Semi dan Musim Panas lalu. Para aktivis, yang telah berkampanye agar larangan wanita mengemudi dicabut di antaranya adalah sejumlah figur terkemuka seperti Loujain al-Hathloul, Aziza al-Yousef, dan Eman al-Nafjan.

Pada awalnya, para wanita itu tidak ditahan di penjara, melainkan dikurung secara tidak resmi di sebuah istana yang tidak digunakan di Jeddah. Penuturan tersebut disampaikan oleh saudara Loujain, Alia.

Mereka dikunci di sebuah ruangan kecil, dan jendelanya tertutup. Beberapa perempuan sering dibawa ke lantai bawah untuk diinterogasi, termasuk dengan cara dipukul, disengat listrik, waterboarding, diancam diperkosa dan dibunuh.

Dalam sebuah artikel Op-Ed untuk The New York Times, Alia al-Hathloul menulis bahwa Qahtani "hadir beberapa kali" ketika saudara perempuannya disiksa, dan dia mengancam akan membunuhnya dan melemparkan tubuhnya ke dalam selokan.

"Perlakuan itu sangat keras sehingga Eman al-Nafjan mencoba bunuh diri," ungkap penilaian intelijen AS.

Alia mengatakan, para wanita itu kemudian dipindahkan ke Penjara Dhahban di Jeddah, tempat pelecehan fisik berhenti dan kerabat mereka diizinkan untuk berkunjung.

Pengadilan terhadap mereka dilakukan di Riyadh pada Rabu, tetapi wartawan dan diplomat tidak diizinkan untuk hadir, dan pemerintah tidak mengumumkan dakwaan terhadap mereka.

Pejabat Arab Saudi mengatakan bahwa Loujain, Aziza, dan Eman sedang diadili sehubungan dengan kegiatan yang mengancam keamanan nasional kerajaan. (The New York Times)