sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Bank Dunia: Resesi global akibat pandemi merupakan yang terparah sejak PD II

Bank dunia memprediksi kontraksi ekonomi 5,2% terhadap PDB global tahun ini.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Kamis, 16 Jul 2020 14:22 WIB
Bank Dunia: Resesi global akibat pandemi merupakan yang terparah sejak PD II
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 130718
Dirawat 39017
Meninggal 5903
Sembuh 85798

Dunia akan mengalami resesi ekonomi terparah sejak perang dunia ke-II. Di mana kontraksi perekonomian global akan mencapai 5,2% pada tahun ini akibat pandemi Covid-19.

"Bank Dunia memprediksi kontraksi ekonomi 5,2% terhadap PDB global tahun ini. Angka ini mencerminkan resesi global terparah sejak Perang Dunia II, dan hampir tiga kali lebih tajam dari pada resesi global pada 2009," kata Country Director World Bank Indonesia-Timor, Satu Kahkonen dalam video conference, Kamis (16/7).

Pandemi Covid-19 telah memukul perekonomian seluruh negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Untuk wilayah Asia Pasifik, misalnya, Bank Dunia memprediksi terjadi kontraksi yang dalam, yaitu sebesar 6% dibandingkan pertumbuhan 2019.

Untuk tahun ini perekonomian negara maju juga menyusut signifikan. Untuk wilayah Asia dan Pasifik diproyeksikan kontraksi yang terjadi pada 2020 semakin menajam, yakni hampir 6% daripada 2019.

Sedangkan untuk Indonesia, Bank Dunia memproyeksikan laju perekonomian pada 2020 hanya tumbuh 0%. Ini dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu kontraksi perekonomian global 5,2%, peluang terbukanya ekonomi Indonesia pada Agustus, dan tidak adanya gelombang kedua pandemi Covid-19.

Jika tiga hal di atas berubah, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia juga akan turut berubah. "Perlu kita lihat bahwa forecast sebesar 0% diprediksi berdasarkan tiga hal. Bila ketiga asumsi tersebut berubah, maka forecast juga akan berubah," ucapnya.

Satu Kahkonen menuturkan, cepat atau lambatnya roda perekonomian kembali bergerak akan sangat bergantung pada kebijakan yang diambil pemerintah. Pembatasan sosial adalah langkah terbaik untuk meredam penyebaran pandemi, namun berdampak kepada pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).

Namun, menurutnya selalu ada peluang di tengah krisis. Oleh karena itu, dia menyarankan agar pemerintah mempercepat regulasi perbaikan iklim investasi agar investor, industri berjalan dan lapangan kerja terbuka.

Sponsored

Selain itu, reformasi di tubuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga perlu dilakukan untuk memberi ruang kepada pihak swasta untuk dapat ikut terlibat dalam pembangunan infrastruktur.

"BUMN memiliki peran sentral dalam memberikan pelayanan infrastruktur namun pada saat yang bersamaan juga memberikan efek crowding bagi private sector," tuturnya.

Sementara limit fiskal pemerintah membuat BUMN beralih pada pembiayaan berbasis utang, alhasil pembiayaan juga masih menghadapi tantangan. Oleh karena itu, kata dia, reformasi BUMN agar menjadi katalis dalam partisipasi sektor swasta, akan menjadi kunci untuk terus menggalakkan upaya dalam ranah infrastruktur.

Selanjutnya, jelas Satu Kahkonen, perlu ada akselerasi kebijakan pajak. Perlambatan ekonomi memiliki konsekuensi terhadap daya beli masyarakat, untuk itu perlu disokong belanja pemerintah yang diarahkan kepada sektor prioritas seperti bantuan sosial, kesehatan, dan pendidikan.

"Namun ini akan menjadi tantangan sendiri bagi kredit rating Indonesia. Oleh karena itu reformasi pajak untuk bisa meningkatkan pendapatan menjadi sangat penting sekali agar bisa memfasilitasi public spending yang sehat," ucapnya.

Sebelumnya Kepala Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah, mengatakan, resesi ekonomi yang terjadi selama pandemi Covid-19 memang tak terelakkan. Menurutnya, resesi juga bisa terjadi di Indonesia.

"Kita sekarang sibuk mengomongkan resesi Singapura. Padahal sudah di depan mata. Kita juga akan mengalami resesi. Resesi sesuatu yang tak terelakkan," ujar Piter dalam webinar CORE, Rabu (15/7).

Piter menjelaskan, ekonomi Indonesia kuartal II-2020 telah mengalami kontraksi yang sangat dalam jika dibandingkan dengan kuartal II-2019. Kuartal II tahun lalu merupakan puncak pertumbuhan ekonomi akibat adanya Hari Raya Idulfitri. Sebaliknya, kuartal II-2020 menjadi titik terendah pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

Berita Lainnya