logo alinea.id logo alinea.id

Rivalitas kursi PM Inggris: Hunt minta Johnson tak jadi pengecut

Bulan depan, sekitar 160.000 anggota Partai Konservatif akan memilih pemimpin mereka sekaligus perdana menteri berikutnya.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 24 Jun 2019 16:47 WIB
Rivalitas kursi PM Inggris: Hunt minta Johnson tak jadi pengecut

Kandidat Perdana Menteri Inggris Jeremy Hunt mendesak rival utamanya, Boris Johnson, untuk tidak menjadi pengecut dalam menghadapi sorotan publik. Hunt mengaku tidak tertarik dengan kehidupan pribadi Johnson, namun dia meminta Johnson cukup tangguh dan hadir dalam debat yang akan ditayangkan langsung di televisi.

Sementara itu, Johnson memperingatkan Inggris akan menghadapi "ledakan demokrasi" jika tidak meninggalkan Uni Eropa sesuai tenggat, yaitu pada 31 Oktober 2019.

Namun, Hunt menantang jawaban Johnson atas pertanyaan apakah dia akan mengadakan pemilu jika anggota parlemen menolak mengizinkan Inggris bercerai dari Uni Eropa tanpa kesepakatan atau no-deal Brexit pada tanggal tersebut.

Johnson, saat ini berada di bawah tekanan untuk menjawab pertanyaan tentang pertengkarannya dengan teman dekatnya Carrie Symonds pada Jumat dini hari hingga menyebabkan polisi dipanggil ke rumahnya di London.

Polisi Metropolitan mengatakan tidak akan mengambil tindakan lebih lanjut atas insiden tersebut. Ditanya terkait insiden tersebut pada Sabtu (22/6), Johnson menolak menjawabnya.

Dalam kolom yang ditulisnya di Daily Telegraph pada Senin (24/6), Johnson mengatakan, memalukan bahwa Inggris masih di Uni Eropa setelah tiga tahun memutuskan untuk bercerai. Menurutnya, hengkang dari Uni Eropa akan memperbarui iman nasional dalam demokrasi.

Johnson sama sekali tidak menyinggung kehidupan pribadinya di kolom tersebut.

Adapun Hunt, yang menulis di The Times, menyerukan kontes yang adil dan terbuka. 

Sponsored

Kepada program Today, BBC Radio 4's, Hunt menegaskan keputusan Johnson untuk menolak melakukan wawancara dengan media, sangat tidak sopan. Hunt mendesak Johnson ambil bagian dalam debat di Sky News yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (25/6).

Keduanya dijadwalkan juga akan tampil berhadapan di ITV pada Juli.

Hunt menuturkan kekhawatirannya bahwa pemerintahan yang dipimpin oleh Johnson akan cepat runtuh. Itu karena, menurutnya, Johnson tidak akan mampu menyatukan koalisi pendukungnya yang menyokong prinsip no-deal Brexit dengan mereka yang berbeda pendapat.

Johnson, disampaikan Hunt, harus menjelaskan bagaimana dia dapat menjamin Inggris akan meninggalkan Uni Eropa pada 31 Oktober jika parlemen memilih menghentikan opsi no-deal Brexit.

Hunt sendiri menyatakan dia menyampingkan pelaksanaan pemilu dalam keadaan seperti itu karena akan menghancurkan Partai Konservatif, mendesak sikap Johnson apakah dia akan mengambil langkah serupa.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Pertahanan Tobias Ellwood menuturkan dalam program Panorama BBC, sejumlah anggota parlemen konservatif akan mendukung pemungutan suara atas mosi tidak percaya terhadap pemerintah demi menghentikan opsi no-deal Brexit.

No-deal Brexit akan membuat Inggris meninggalkan serikat pabean dan pasar tunggal dalam waktu satu malam serta mulai berdagang dengan Uni Eropa berdasarkan aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Penentang no-deal Brexit menilai kebijakan ini akan menyebabkan gangguan besar di perbatasan dan menjadi bencana bagi banyak perusahaan yang bergantung pada perdagangan dengan benua itu.

Bulan depan, sekitar 160.000 anggota Partai Konservatif akan memilih pemimpin mereka sekaligus perdana menteri berikutnya. Anggota akan menerima surat suara mereka antara 6 dan 8 Juli, sementara pemimpin baru diharapkan akan diumumkan pada pekan ketiga Juli.

Sumber : BBC