sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Rusia akui fatalitas akibat Covid-19 tiga kali lebih tinggi

"Negeri Beruang Putih" sebelumnya hanya mengklaim tingkat kematian sebesar 55.265 kasus.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 29 Des 2020 17:32 WIB
Rusia akui fatalitas akibat Covid-19 tiga kali lebih tinggi

Rusia mengatakan, jumlah kematian akibat Covid-19 di negaranya tiga kali lipat lebih tinggi daripada yang secara resmi tercatat.

Selama berbulan-bulan, Presiden Rusia, Vladimir Putin, membanggakan rendahnya fatalitas Covid-19 di negaranya.

Pada awal Desember, Putin menyatakan, "Negeri Beruang Putih" melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam mengelola pandemi dibandingkan dengan negara-negara Barat.

Namun, sejak awal pandemi, sejumlah ahli kesehatan di Rusia mengatakan, pemerintah tidak terus terang dalam melaporkan jumlah kasus infeksi dan fatalitas akibat Covid-19.

Pejabat Rusia membenarkan hal itu. Badan statistik nasional, Rosstat, mengatakan, jumlah kematian sejak Januari-November meningkat 229.700 dibandingkan tahun sebelumnya.

"Lebih dari 81% peningkatan kematian selama periode ini disebabkan oleh Covid-19," kata Wakil Perdana Menteri, Tatiana Golikova, Senin (28/12). Dengan demikian, lebih dari 186.000 warga Rusia meninggal karena Covid-19.

Pejabat kesehatan Rusia telah mencatat lebih dari tiga juta infeksi sejak dimulainya pandemi, menempatkan beban kasus di urutan keempat tertinggi di dunia.

Namun, pemerintah hanya melaporkan 55.265 kematian, tingkat fatalitas yang jauh lebih rendah daripada di negara lain yang terkena dampak parah.

Sponsored

Rusia dikritik karena hanya mencantumkan kematian akibat Covid-19 jika autopsi mengonfirmasi virus itu adalah penyebab utamanya.

Alexei Raksha, ahli demografi yang meninggalkan Rosstat pada Juli, kepada AFP pekan lalu mengatakan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Rusia memalsukan angka-angka fatalitas Covid-19.

Angka baru yang dilaporkan Rosstat berarti, Rusia sekarang memiliki jumlah kematian Covid-19 tertinggi ketiga di dunia setelah AS 333.140 dan Brasil 191.139 fatalitas.

Otoritas Rusia menentang penerapan kembali karantina wilayah (lockdown) skala nasional. Kremlin berharap untuk menopang ekonomi yang sedang berjuang bahkan ketika negara itu dilanda gelombang infeksi kedua.

Pemerintah Rusia memperkirakan ekonomi akan menyusut sebesar 3,9% pada tahun ini, sementara bank sentral memperkirakan penurunan yang lebih tajam.

Selama konferensi pers akhir tahun pada awal bulan ini, Putin menolak gagasan memberlakukan lockdown yang dilakukan sejumlah negara Eropa menjelang liburan Natal.

"Jika kita mengikuti aturan yang ada dan protokol kesehatan, maka tidak perlu dilakukan lockdown," ujarnya.

Walaupun langkah-langkah ketat telah diberlakukan di beberapa kota besar, pihak berwenang di banyak wilayah lainnya hanya menerapkan pembatasan sosial skala kecil, seperti kewajiban memakai masker di ruang publik.

Banyak orang Rusia yang mengabaikan aturan jarak sosial dan dalam beberapa minggu terakhir pasien pandemi "membanjiri" rumah sakit yang kekurangan dana.

Rusia menggantungkan harapannya mengatasi Covid-19 dengan memvaksinasi orang-orang dengan suntikan produk dalam negeri, Sputnik V.

Negara itu meluncurkan program vaksinasi massal awal Desember. Otoritas kesehatan memprioritaskan vaksinasi bagi pekerja berisiko tinggi berusia 18-60 tahun tanpa penyakit kronis. (The Guardian)

Berita Lainnya