sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Rusia: Keputusan Trump setop pendanaan bagi WHO egois

AS secara keseluruhan merupakan donor terbesar bagi WHO.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 16 Apr 2020 07:56 WIB
Rusia: Keputusan Trump setop pendanaan bagi WHO egois
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 406.945
Dirawat 58.868
Meninggal 13.782
Sembuh 334.295

Rusia mengecam keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menghentikan pendanaan bagi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Rusia menyebut keputusan Trump itu egois sekaligus membahayakan badan dunia yang dijadikan acuan oleh banyak negara dalam menghadapi krisis Covid-19.    

Trump, yang menghadapi kritikan pedas terkait respons pemerintahannya terhadap pandemik coronavirus jenis baru, pada Selasa (14/4) menghentikan pendanaan kepada badan tersebut terkait penanganan pandemik Covid-19.

AS secara keseluruhan merupakan donor terbesar bagi WHO.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov pada Rabu (15/4) mengatakan bahwa pengumuman AS "sangat mengkhawatirkan".

"Ini contoh sebuah prosedur yang sangat egois oleh otoritas AS dengan apa yang sedang terjadi di dunia terkait pandemik," kata Ryabkov seperti dikutip Kantor Berita TASS.

"Hantaman seperti itu terhadap organisasi ini, pada saat mata masyarakat dunia dalam banyak hal sedang mengarah padanya, merupakan langkah yang patut di kecam dan dikritik."

Kecaman juga datang dari Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas. 

"Menyalahkan tidak membantu. Virus tidak mengenal batasan. Kita musti bersatu melawan Covid-19," twit Maas. "Salah satu investasi terbaik adalah bahwa PBB, khususnya WHO yang kekurangan dana, memperkuat, misalnya dalam pengembangan dan distribusi tes dan vaksin."

Sponsored

Trump menilai WHO telah gagal dalam melaksanakan tugas dasarnya dan organisasi itu harus bertanggung jawab. Dia juga menuduh organisasi itu mengandalkan disinformasi China tentang Covid-19 yang kemungkinan mengarah pada penyebaran virus yang lebih luas daripada yang seharusnya terjadi. (Reuters dan Xinhua)

Berita Lainnya