sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Rusia-Ukraina sepakat bertukar tahanan dan gencatan senjata

Konflik di Ukraina timur antara pasukan pemerintah dan separatis yang didukung Rusia pecah pada 2014.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 10 Des 2019 13:08 WIB
Rusia-Ukraina sepakat bertukar tahanan dan gencatan senjata
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 257388
Dirawat 58788
Meninggal 9977
Sembuh 187958

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada Selasa (10/12) sepakat untuk bertukar tahanan yang tersisa dari konflik di Ukraina timur pada akhir tahun ini. 

Putin dan Zelenskiy dilaporkan berunding selama sembilan jam pada Senin (9/12) di Paris. Pertemuan mereka dimediasi oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel.

Konflik di Ukraina timur antara pasukan pemerintah dan pemberontak pro-Rusia yang pecah pada 2014 telah menewaskan lebih dari 13.000 orang, meninggalkan sebagian besar wilayah itu di bawah kendali separatis yang didukung Rusia. 

Bahasa tubuh antara Putin dan Zelenskiy, seorang komedian yang beralih menjadi politikus yang terpilih pada awal tahun ini dengan janji untuk menyelesaikan konflik, sangat dingin. Di hadapan sorotan kamera, keduanya tidak berjabat tangan dan menghindari kontak mata.

Selain pertukaran tahanan, Rusia dan Ukraina juga mencapai komitmen untuk mengimplementasikan perjanjian gencatan senjata penuh di wilayah Donbass dan meningkatkan kegiatan monitor oleh internasional atas gencatan senjata.

Kedua belah pihak pun setuju selama empat bulan ke depan akan bekerja untuk mewujudkan pemilihan lokal di Donbass. Namun, tidak dirinci bagaimana pemungutan suara akan dilakukan, dan Presiden Macron mengakui masih ada perbedaan pendapat mengenai masalah ini.

"Kami telah membuat kemajuan dalam penarikan (pasukan), pertukaran tahanan, gencatan senjata dan evolusi politik," kata Macron dalam konferensi pers di mana Zelenskiy dan Putih duduk dipisahkan oleh Merkel dan Macron. "Kami telah meminta menteri-menteri terkait kami untuk memprosesnya dalam empat bulan mendatang."

Namun, belum ada kesepakatan tentang isu-isu politik yang menghalangi penyelesaian konflik. Itu termasuk status Donbass dan siapa yang seharusnya secara de facto mengendalikan perbatasan antara Donbass dan Rusia.

Sponsored

Donbass lepas dari kendali Kiev pada 2014, segera setelah protes menggulingkan pemimpin Ukraina yang pro-Rusia dan Moskow menganeksasi Krimea.

Pada 2015 telah disepakati gencatan senjata yang diteken di Minsk, Belarusia. Tetapi pertempuran tetap berkobar di Donbass.

Banyak warga Ukraina dilaporkan khawatir tentang berkompromi dengan Rusia. Mereka memandang Putin sebagai agresor yang berusaha memulihkan pengaruh Kremlin pada bekas negara Uni Soviet dan merusak upaya Ukraina untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan Eropa.

Sejumlah warga Ukraina menggelar aksi dengan berkemah di luar istana kepresidenan di Kiev. Mereka menyaksikan konferensi pers Zelenskiy dan Putin dari layar lebar.

Ketika ditanya wartawan dalam konferensi pers soal siapa yang paling diuntungkan dari kesepakatan Rusia-Ukraina, Zelenskiy mengatakan, "Saya tidak tahu siapa mengalahkan siapa. Saya pikir akan tepat untuk memberi ruang bagi diplomasi karena pembicaraan baru saja dimulai. Sebut saja untuk saat ini seri."

Zelenskiy juga menggarisbawahi bahwa terdapat perbedaan pandangan antara dirinya dan Putin dalam beberapa isu.

Ada pun Putin dipastikan tidak mau terlihat tunduk pada tekanan luar atas isu Ukraina timur. Dan dia dinilai tidak ingin terkesan meninggalkan populasi Donbass yang berbahasa Rusia di bawah kendali Kiev. 

Putin secara hati-hati mengungkap harapan atas pembicaraannya dengan Zelenskiy. "Semua ini memberi kita alasan untuk menganggap bahwa prosesnya berkembang ke arah yang benar."

Pada pengujung konferensi pers, Putin berterima kasih dengan hangat kepada Merkel dan Macron. Namun, sama sekali tidak basa-basi dengan Zelenskiy. 

Putaran pembicaraan lain akan diadakan dalam waktu empat bulan.

Sumber : Reuters

Berita Lainnya
×
img