sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Polisi Hong Kong tembak peluru tajam, satu demonstran terluka

Unjuk rasa skala besar di Hong Kong telah memasuki bulan keenam dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 11 Nov 2019 12:40 WIB
Polisi Hong Kong tembak peluru tajam, satu demonstran terluka
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Polisi Hong Kong tertangkap kamera melepaskan tembakan dan memukul pemrotes pada Senin (11/11), ketika kekacauan meletus di kota itu sehari setelah para petugas menembakkan gas air mata untuk membubarkan demonstrasi yang telah memasuki bulan keenam.

Hong Kong Cable Television dan media lokal lainnya melaporkan bahwa polisi menembakkan peluru tajam ke arah pengunjuk rasa di sisi timur Hong Kong. Cabel TV menyebut seorang demonstran terluka dalam peristiwa itu.

Otoritas Rumah Sakit menuturkan pada Reuters bahwa seorang pria berusia 21 tahun yang diduga terluka selama insiden di Sai Wan Ho telah berada di rumah sakit dan tengah menjalani operasi. 

Cable TV melaporkan bahwa pria itu dalam kondisi stabil.

Dalam pernyataannya, polisi menyebutkan bahwa para pengunjuk rasa radikal telah membuat barikade di sejumlah lokasi di seluruh kota. Polisi memperingatkan agar demonstran segera menghentikan tindakan ilegal mereka.

Polisi mengonfirmasi bahwa seorang petugas mengeluarkan revolver dan seorang pria ditembak.

Anson Yip (36), seorang warga Sai Wan Ho, menuturkan bahwa para pemrotes melempar sampah untuk memblokir jalan ketika polisi, yang kemungkinan dari departemen lalu lintas, berlari ke tempat kejadian.

"Mereka tidak berkelahi dan polisi datang dan langsung menembak. Terdengar tiga kali seperti 'pam, pam, pam'," kata Yip. "Mereka (pemrotes) menentang pemerintah, karena itulah polisi menembak mereka."

Sponsored

Ini merupakan kali ketiga polisi melepas tembakan peluru tajam sejak protes skala besar di Hong Kong dimulai pada Juni. Insiden pertama terjadi pada 1 Oktober, ketika China merayakan 70 tahun pemerintahan komunis. Dan kasus kedua pada 4 Oktober, di mana korban adalah seorang remaja laki-laki.

Belum kunjung berhenti

Protes di Hong Kong kadang terjadi selama beberapa hari berturut-turut dan tidak jarang tanpa pemberitahuan, mengganggu bisnis dan meningkatkan tekanan pada pemerintah kota.

Semula, para pengunjuk rasa turun ke jalan untuk menentang RUU ekstradisi. Namun, setelah RUU ekstradisi sepenuhnya dicabut, mereka tetap saja marah atas campur tangan China terhadap kebebasan Hong Kong, yang dijamin di bawah formula "Satu Negara, Dua Sistem" yang diberlakukan ketika wilayah itu dikembalikan dari Inggris ke Tiongkok pada 1997.

China sendiri membantah telah ikut campur dan menuding sejumlah negara Barat memicu kerusuhan.

Kematian seorang mahasiswa dari Hong Kong University of Science and Technology (UST) Chow Tsz-lok pada Jumat (8/11) diyakini akan menambah amarah para pedemo.

Chow Tsz-lok terjatuh pada Senin (4/11) dari lantai tiga ke lantai dua di tempat parkir dalam operasi pembubaran massa oleh polisi Hong Kong.

"Saya khawatir dengan keselamatan saya, tetapi saya masih akan beraksi," kata Anson, seorang mahasiswa berusia 20 tahun di Hong Kong Polytechnic University. "Saya rela mengorbankan nyawa saya demi Hong Kong."

Layanan pada sejumlah jalur kereta dan subway terganggu pada Senin pagi. Sementara lalu lintas macet dan polisi antihuru-hara dikerahkan di dekat stasiun dan pusat perbelanjaan.

Pada Minggu (10/11), pemrotes memblokir jalan-jalan dan menghancurkan pusat perbelanjaan di seluruh Hong Kong. (Reuters dan BBC)

Waspadai lonjakan kredit bermasalah

Waspadai lonjakan kredit bermasalah

Rabu, 01 Apr 2020 17:59 WIB
Pecah kongsi di partai Tommy

Pecah kongsi di partai Tommy

Rabu, 01 Apr 2020 06:01 WIB
Berita Lainnya