sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Serangan drone AS tewaskan 30 warga sipil Afghanistan

Kementerian Pertahanan Afghanistan dan seorang pejabat senior AS di Kabul mengonfirmasi terjadinya serangan pesawat tanpa awak.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 20 Sep 2019 08:59 WIB
Serangan drone AS tewaskan 30 warga sipil Afghanistan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Sebuah serangan pesawat tanpa awak Amerika Serikat yang dimaksudkan untuk menghantam tempat persembunyian ISIS di Afghanistan menewaskan sedikitnya 30 warga sipil yang tengah beristirahat setelah seharian bekerja di ladang. Demikian disampaikan sejumlah pejabat Afghanistan pada Kamis (19/9).

Serangan pada Rabu malam juga melukai 40 orang setelah secara tidak sengaja menargetkan petani dan buruh yang baru saja mengumpulkan kacang pinus di pengunungan Wazir Tangi di Provinsi Nangarhar bagian timur.

"Para pekerja tengah menyalakan api unggun dan duduk bersama ketika sebuah drone menargetkan mereka," ungkap tetua suku Malik Rahat Gul.

Kementerian Pertahanan Afghanistan dan seorang pejabat senior AS di Kabul mengonfirmasi serangan pesawat tanpa awak, tetapi tidak menyebut rincian korban sipil.

"Pasukan AS melakukan serangan terhadap ISIS di Nangarhar," ujar Kolonel Sonny Leggett, juru bicara pasukan AS di Afghanistan. "Kami menyadari dugaan kematian non-kombatan dan bekerja sama dengan pejabat setempat untuk mengumpulkan fakta."

Sekitar 14.000 tentara AS berada di Afghanistan. Mereka melatih dan memberi nasihat kepada pasukan keamanan Afghanistan serta melancarkan operasi kontraterorisme melawan ISIS dan Taliban.

Seorang yang selamat dari serangan pesawat tanpa awak itu menuturkan bahwa sekitar 200 buruh tengah terlelap di lima tenda yang diletakkan di dekat pertanian ketika serangan tersebut terjadi.

"Beberapa dari kami berhasil melarikan diri, beberapa terluka tetapi banyak yang terbunuh," ujar Juma Gul, seorang penduduk Provinsi Kunar bagian utara yang telah bepergian bersama sejumlah pekerja lainnya untuk memanen dan mengupas kacang pinus.

Sponsored

Marah oleh serangan tersebut, sejumlah warga provinsi Nangarhar menuntut permintaan maaf dan kompensasi moneter dari pemerintah AS.

"Kesalahan seperti itu tidak bisa dibenarkan. Pasukan AS harus menyadari mereka tidak akan pernah memenangi perang dengan membunuh warga sipil yang tidak berdosa," ungkap Javed Mansur, seorang warga Kota Jalalabad.

Puluhan pria dari kota itu melancarkan protes mengutuk serangan saat mereka membantu mengangkut jasad korban ke Kota Jalalabad dan kemudian ke lokasi pemakaman.

Ayatullah Khogyani, juru bicara gubernur menjelaskan bahwa serangan dimaksudkan untuk menargetkan gerilyawan ISIS yang sering menggunakan lahan pertanian untuk tujuan latihan dan rekrutmen.

Gerilyawan ISIS pertama kali muncul di Afghanistan pada 2014 dan sejak saat itu telah melancarkan serangan di timur dan utara, di mana mereka melawan pemerintah, pasukan AS dan Taliban. Jumlah persis anggota ISIS sulit dihitung, tetapi militer AS memperkirakan ada sekitar 2.000 orang.

ISIS belum merespons serangan ini.

Dalam insiden terpisah, sedikitnya 20 orang tewas dalam sebuah serangan bom bunuh diri yang melibatkan sebuah truk pada Kamis di Provinsi Zabul. Taliban disebut bertanggungjawab atas serangan itu.

Ratusan warga sipil telah tewas dalam pertempuran di Afghanistan setelah runtuhnya pembicaraan damai AS-Taliban bulan ini. Taliban telah memperingatkan Presiden AS Donald Trump akan menyesali keputusannya untuk secara tiba-tiba membatalkan pembicaraan, yang bisa mengarah pada penyelesaian politik untuk mengakhiri perang berusia 18 tahun.

PBB mengatakan hampir 4.000 warga sipil terbunuh atau terluka pada paruh pertama tahun ini. Itu termasuk peningkatan besar atas korban yang ditimbulkan oleh pasukan asing yang dipimpin pemerintah dan AS.

Sumber : Reuters

Berita Lainnya