sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Serangan ke sebuah SD di Myanmar lukai 19 anak

Penembakan terjadi di sebuah SD di Desa Khamwe Chaung di Kota Buthidaung, Rakhine State, Myanmar.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 14 Feb 2020 15:52 WIB
Serangan ke sebuah SD di Myanmar lukai 19 anak

Sedikitnya 19 anak terluka ketika sebuah sekolah dasar di Rakhine State, Myanmar, dilanda penembakan. Demikian diungkapkan juru bicara militer dan seorang anggota parlemen pada Kamis (13/2).

Bentrokan antara pasukan pemerintah dan kelompok pemberontak dilaporkan semakin meningkat di Rakhine, wilayah di mana puluhan ribu orang mengungsi sejak kekerasan pada Desember 2018. 

Fenomena tersebut menambahkan kekacauan baru di Rakhine, di mana sudah lebih dari 730.000 warga Rohingya melarikan diri dari wilayah itu akibat tindakan keras militer pada 2017. 

Kelompok pemberontak Arakan Army selama ini berjuang untuk otonomi yang lebih besar bagi wilayah barat dari pemerintah pusat.

Tembakan artileri menghantam sekolah di Desa Khamwe Chaung di Kota Buthidaung pada Kamis pagi, kata Tun Aung Thein, seorang anggota parlemen setempat kepada Reuters. 

"Menurut departemen kesehatan, 19 siswa terluka dan satu terluka parah," ungkap dia.

Seorang juru bicara militer menyebutkan jumlah yang terluka 20 orang, dan menyalahkan gerilyawan atas serangan itu.

"Kami secara medis merawat para siswa di pos militer terdekat dan mengirim lima ke rumah sakit," ujar Brigadir Jenderal Zaw Min Tun kepada Reuters melalui telepon.

Sponsored

Sementara itu, seorang juru bicara Arakan Army membantah bahwa pasukannya bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mereka mengklaim tidak memiliki artileri semacam itu, dan menyalahkan pasukan pemerintah.

Kedutaan Inggris di Myanmar mengeluarkan pernyataan yang mendesak diakhirinya kekerasan.

"Meningkatnya kekerasan di Negara Bagian Rakhine selama beberapa hari terakhir menyebabkan kesengsaraan bagi banyak orang yang tinggal di sana," kata Duta Besar Inggris untuk Myanmar Dan Chugg.

"Laporan penembakan hari ini di sebuah sekolah bertepatan dengan Hari Anak Myanmar, menyusul kematian wanita dan anak-anak baru-baru ini, menyoroti dampak yang ditimbulkan pada orang-orang yang tidak bersalah."

Pernyataan itu mendesak semua pihak untuk melakukan yang terbaik untuk melindungi warga sipil dan meminta pemerintah untuk mencabut pembatasan internet.

Sumber : Reuters

Berita Lainnya