sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Singapura kecewa penyelesaian isu Myanmar sangat lambat

Hal tersebut disampaikan Menlu Singapura usai Pertemuan Khusus Menteri Luar Negeri ASEAN-China di Chongqing, Tiongkok, pada Senin (7/6).

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 08 Jun 2021 16:23 WIB
Singapura kecewa penyelesaian isu Myanmar sangat lambat

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan pada Senin (7/6) menyatakan bahwa dirinya kecewa atas lambatnya progres yang dibuat untuk menyelesaikan krisis yang sedang berlangsung di Myanmar.

Situasi di Myanmar menjadi salah satu isu utama yang dibahas pada Pertemuan Khusus Menteri Luar Negeri ASEAN-China di Chongqing, China, pada Senin.

"Kita semua satu suara tentang perlunya penghentian segera kekerasan, tentang perlunya pembebasan tahanan, serta agar negosiasi dan dialog terjadi di antara semua pihak," kata Balakrishnan dalam pernyataannya.

Menlu Balakrishnan menambahkan, penunjukan utusan khusus ASEAN untuk Myanmar hanya akan terjadi jika pihak Myanmar menginginkan dialog, negosiasi, dan rekonsiliasi yang tulus.

"Sejujurnya, Singapura kecewa dengan kemajuan yang sangat, sangat lambat. Kita tahu bahwa masih ada warga sipil yang terluka atau terbunuh. Tidak ada pembebasan tahanan politik, tidak ada tanda-tanda nyata dari dialog dan negosiasi politik yang berarti. Jadi kita harus menjaga ruang ini," tuturnya.

Balakrishnan menegaskan bahwa peran utama ASEAN bukanlah untuk ikut campur, karena pada akhirnya, hanya orang-orang di Myanmar yang dapat menentukan masa depan mereka sendiri.

"Meski begitu, ASEAN siap membantu, mendukung, memfasilitasi mediasi jika memungkinkan, tetapi kami harus menunggu. Ini memang mengecewakan tapi kami tidak putus asa," katanya.

Pertemuan tingkat tinggi di Chongqing menandai peringatan 30 tahun hubungan ASEAN-China. Pertemuan ini juga terjadi di tengah ketegangan baru-baru ini di Laut China Selatan (LCS). 

Sponsored

Pada 31 Mei, pesawat tempur China memasuki wilayah udara zona maritim Malaysia dan terbang dalam jarak 60 mil laut dari Sarawak, sebuah langkah yang disebut Negeri Jiran sebagai pelanggaran wilayah udara dan kedaulatannya.

Balakrishnan mengatakan, situasi di LCS adalah contoh tantangan dalam hubungan antara China dan ASEAN.

Dia menambahkan bahwa para pejabat dari kedua pihak telah bekerja dalam beberapa tahun terakhir ini untuk mencoba membuat kemajuan dalam Kode Etik (Code of Conduct/CoC) untuk Laut Cina Selatan.

CoC awalnya direncanakan untuk rampung pada 2021, tetapi pembicaraan terhenti sejak pandemik Covid-19 melanda tahun lalu.

Sumber : Channel News Asia

Berita Lainnya