sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Siswi dibakar hidup-hidup, 16 orang divonis mati

Rafi disiram menggunakan parafin dan dibakar pada April setelah menolak mencabut pengaduan pelecehan seksual.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 24 Okt 2019 17:44 WIB
Siswi dibakar hidup-hidup, 16 orang divonis mati
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 534.266
Dirawat 66.752
Meninggal 16.825
Sembuh 445.793

Sebuah pengadilan di Bangladesh menjatuhkan hukuman mati kepada 16 orang atas kasus pembunuhan Nusrat Jahan Rafi, siswi berusia 19 tahun yang dibakar hidup-hidup.

Rafi disiram menggunakan parafin dan dibakar pada April setelah menolak untuk mencabut pengaduan pelecehan seksual terhadap kepala sekolah pesantren tempat dia menuntut ilmu.

Setelah putusan diumumkan, Jaksa Penuntut Hafez Ahmed mengatakan bahwa hukuman itu membuktikan bahwa tidak ada yang bisa lolos dari pembunuhan di Bangladesh.

"Kami memiliki hukum di sini," tegas dia.

Rafi diajak ke atap gedung pesantrennya, tempat para penyerang mendesaknya untuk menarik pengaduan pelecehan seksual yang sudah diajukannya ke polisi. Ketika dia menolak, para penyerang mengikat dan membakarnya.

Dia menderita luka bakar hingga 80% dan meninggal di rumah sakit pada 10 April.

Kematian Rafi memicu amarah publik dan menyoroti peningkatan yang mengkhawatirkan terkait kasus pelecehan seksual. Para pengunjuk rasa di Ibu Kota Dhaka berdemonstrasi selama beberapa hari, menuntut adanya hukuman berat bagi para pembunuh.

Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina telah berjanji untuk menuntut semua yang terlibat dalam pembunuhan tersebut.

Sponsored

Rafi melaporkan pelecehan seksual terhadapnya pada akhir Maret. Sebuah rekaman video yang bocor menunjukkan seorang kepala polisi mendaftarkan pengaduan Rafi tetapi menyebutnya sebagai masalah sepele.

Pada saat itu, polisi mengatakan salah satu dari 18 orang yang awalnya ditangkap menuduh kepala sekolah sebagai pihak yang memerintahkan serangan terhadap Rafi. Supt Mohammad Iqbal, yang memimpin penyelidikan polisi, menyebut bahwa sang kepala sekolah meminta mereka menekan Rafi agar dia mencabut pengaduan tersebut dan membunuhnya jika dia menolak

Iqbal menambahkan, beberapa dari mereka yang ditangkap merupakan teman sekelas Rafi. Mereka mengikat gadis itu dengan syal sebelum membakarnya.

"Rencananya adalah untuk membuat seolah-olah insiden itu merupakan peristiwa bunuh diri. Tetapi rencana itu gagal setelah Rafi berhasil lari ke bawah saat terbakar," kata dia.

Sejumlah aktivis menuturkan pembunuhan itu memperlihatkan adanya budaya impunitas seputar kejahatan seksual terhadap perempuan dan anak-anak, serta bahaya dari melaporkan pelecehan seksual.

Setelah pembunuhan Rafi, pemerintah Bangladesh memerintahkan 27.000 sekolah membentuk komite untuk mencegah kekerasan seksual.

Sumber : The Guardian

Berita Lainnya