sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Soal isu persekusi Uighur, Arab Saudi dan Suriah dukung China

Terdapat 37 negara yang menyuarakan dukungannya bagi China. Selain Arab Saudi dan Suriah, ada pula Qatar, Korea Utara dan Myanmar.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 15 Jul 2019 13:57 WIB
Soal isu persekusi Uighur, Arab Saudi dan Suriah dukung China

Duta besar dari 37 negara memuji China atas pencapaian luar biasa di bidang hak asasi manusia. Pernyataan ini muncul pada Jumat (12/7), setelah satu hari sebelumnya 22 diplomat secara resmi mengutuk Tiongkok atas isu penahanan massal terhadap etnis minoritas, termasuk Uighur, di wilayah Xinjiang. 

Beijing telah membantah melakukan penyiksaan atau indoktrinasi politik, mereka mengklaim jutaan etnis minoritas di Xinjiang berada di pusat pelatihan kejuruan yang dirancang untuk memerangi terorisme dan ekstremisme agama.

Kantor berita Xinhua melaporkan, negara-negara yang mendukung China mengatakan bahwa pihak-pihak yang mengkritik Beijing telah mempolitisasi isu HAM. Perwakilan dari 37 negara itu memuji upaya Tiongkok dalam melindungi warganya dan mempromosikan HAM lewat pembangunan, menggemakan pernyataan yang lazim disampaikan media pemerintah China.

"Selama tiga tahun terakhir tidak ada satu pun serangan teroris di Xinjiang dan orang-orang di sana menikmati kebahagiaan ... dan keamanan yang lebih besar," sebut pernyataan bersama yang memuat dukungan bagi China tersebut.

Negara-negara yang mendukung China termasuk Arab Saudi, Rusia, Myanmar, Suriah dan Korea Utara.

Elaine Pearson dari Human Rights Watch menuturkan bahwa negara-negara yang membela China adalah mereka yang tidak memiliki kredibilitas terkait isu HAM.

"Jelas bahwa pemerintah China merasa tidak aman sehingga perlu mengeluarkan pernyataan yang memuji diri sendiri," kata Pearson.

Arab Saudi dituduh memenjarakan dan mengeksekusi para pembangkang dan kritikus rezim, Rusia dituding menindak kebebasan individu dan menghabisi kritikus Presiden Vladimir Putin, dan Myanmar dituduh melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan yang menargetkan etnis Rohingya.

Sponsored

Adapun Suriah dituding menggunakan senjata kimia terhadap warga sipil, sementara itu Korea Utara dituduh menahan lebih dari 100.000 tahanan politik di fasilitas seperti gulag.

China yang sensitif

Tuduhan penahanan massal etnis Xinjiang berikut kesewenang-wenangan terhadap mereka sulit untuk diverifikasi secara independen, menyusul terbatasnya akses kepada jurnalis dan diplomat asing. Mereka yang datang ke Xinjiang akan dikawal ketat.

Para pejabat tinggi PBB, termasuk Michelle Bachelet, telah menyerukan agar badan global diberi akses ke kamp-kamp tersebut untuk menyelidiki dugaan pelanggaran HAM.

James Leibold, seorang profesor di La Trobe University, yang memiliki spesialisasi dalam sejarah dan masyarakat China modern menilai bahwa Beijing kemungkinan mencari bantuan dari mitra internasionalnya demi memperkuat argumennya.

"Mereka selalu sensitif dan peduli tentang bagaimana mereka dipandang secara internasional, dan saya pikir seluruh cerita Xinjiang ... telah benar-benar mengganggu pembuat kebijakan di Beijing," kata Leibold.

"Tidak cukup bagi mereka untuk mengatakannya sendiri, mereka ingin sekutu dan pendukung mereka secara internasional turut menyokong klaim itu ... khususnya di dunia muslim, di mana saya pikir mereka perlu memastikan bahwa komunitas Islam yang lebih luas tidak mulai mempertanyakan apa yang terjadi di Xinjiang, mencegah pandangan bahwa China anti-Islam."

Selain Arab Saudi dan Suriah, sejumlah negara mayoritas Islam lainnya seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan dan Pakistan juga menjadi bagian dari 37 negara yang menyatakan dukungannya terhadap Tiongkok.

Sumber : CNN

Berita Lainnya