logo alinea.id logo alinea.id

Soal kesepakatan perdagangan dengan China, Trump optimistis

AS-China melakukan pembicaraan selama dua hari untuk merumuskan kesepakatan perdagangan, di tengah gencatan senjata perang dagang 90 hari.

Khairisa Ferida
| Khairisa Ferida Jumat, 01 Feb 2019 11:21 WIB
Soal kesepakatan perdagangan dengan China, Trump optimistis

Donald Trump mengekspresikan optimismenya pada Kamis (31/1) tentang mencapai kesepakatan perdagangan dengan China. Namun, dalam sebuah wawancara dia mengungkapkan, akan tetap menaikkan sejumlah tarif pada barang-barang Tiongkok bahkan jika kedua belah pihak telah mencapai perjanjian.

"Tanpa tarif, kami tidak akan bicara," tutur Trump dalam wawancara dengan The New York Times, tidak lama setelah pemerintahannya mengakhiri dua hari pembicaraan perdagangan tingkat tinggi dengan para pejabat China. "Dan saya menegaskan hal ini kepada mereka."

Trump, yang menerima delegasi China di Ruang Oval pada Rabu (30/1), mengatakan akan bertatap muka dengan Presiden Xi Jinping bulan depan. Dia menyarankan agar Xi Jinping siap untuk membuat perubahan signifikan pada kebijakan ekonomi Tiongkok, termasuk membuka pasarnya bagi perusahaan-perusahaan AS dan membeli lebih banyak produk.

Kemarin, Trump menceritakan bahwa dirinya telah menerima surat dari Presiden Xi Jinping. Surat itu memuat janji untuk membeli produk pertanian AS dalam jumlah besar. Dia membacakan surat itu di hadapan wartawan.

Liu He, wakil Perdana Menteri China yang juga negosiator perdagangan Beijing dikabarkan menyampaikan kepada Trump bahwa Presiden Xi Jinping berkomitmen untuk membeli lima juta ton kedelai.

"Itu jumlah yang banyak," kata Trump. "Kita tidak pernah benar-benar memiliki kesepakatan perdagangan dengan China dan sekarang kita akan memiliki kesepakatan perdagangan yang hebat, jika semuanya berjalan lancar."

Sementara itu, kepala perunding perdagangan Trump, Robert Lighthizer, memilih tetap hati-hati bicara. Dia menerangkan, kedua belah pihak bahkan belum menyepakati rancangan kerangka kerja bagi kesepakatan yang seharusnya disahkan pada 2 Maret. 

Menurut Lighthizer pula, mereka tidak membahas tentang AS yang akan melanjutkan pengenaan tarif bagi sejumlah produk China. Satu-satunya prestasi adalah bahwa kedua belah pihak melanjutkan diskusi.

Sponsored

"Kami tidak keluar dari rel," ungkap Lighthizer. "Itu penting."

Adapun delegasi China menjelaskan, pembicaraan dengan AS telah membuat kemajuan penting dan bahwa kedua belah pihak terlibat dalam diskusi yang jujur, spesifik, dan bermanfaat.

Rintangan substansial masih menghalangi kesepakatan sebelum gencata senjata 90 hari berakhir, membawa tarif yang lebih tinggi pada impor China senilai US$200 miliar.

Sementara Trump mempromosikan komitmen China untuk membeli lebih banyak barang dari AS, dia mengatakan perjanjian apa pun yang dibuatnya dengan Xi Jinping harus lebih dari itu dan mencakup pembukaan pasar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Trump mengklaim bahwa kesepakatan akhir mungkin akan disegel secara langsung selama pertemuannya dengan Xi Jinping.

"Ini periode yang sangat singkat bagi kesepakatan sebesar ini. Namun, itu sangat mungkin," tegas Trump dalam wawancaranya dengan The Times. "Saya percaya bahwa banyak poin-poin terbesar akan disetujui oleh saya dan dia."

AS selama ini ingin agar China berkomitmen membeli barang dan jasa mereka dalam jumlah besar demi mengurangi defisit perdagangannya, serta menyetujui untuk melakukan perubahan struktural, termasuk mengakhiri praktik yang mewajibkan perusahaan-perusahaan AS untuk menyerahkan rahasia dagang sebagai syarat untuk berbisnis di Tiongkok. 

Perang dagang AS Vs China

Dua ekonomi terbesar dunia itu terkunci dalam kebuntuan selama berbulan-bulan, memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan mengguncang pasar keuangan. AS dan China berada di bawah tekanan yang meningkat untuk segera mencapai kesepakatan. 

Perusahaan-perusahaan AS telah mulai memperingatkan bahwa perang dagang telah merusak keuntungan, sementara ekonomi China tumbuh pada laju paling lambat dalam beberapa tahun terakhir.

Pada Rabu, Liu dan delegasi Tiongkok memulai pembicaraan dengan Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin. Trump kemudian memaparkan bahwa keduanya akan berangkat ke Beijing setelah Tahun Baru Imlek untuk meletakkan dasar bagi pertemuannya dengan Xi Jinping. Salah satu masalah terbesar yang harus diselesaikan, kata Lighthizer, adalah bagaimana memastikan China akan menjalankan komitmen yang telah dicapai.

"Sebuah perjanjian tidak ada artinya tanpa penegakan hukum," ujarnya.

Liu sepakat untuk itu. Dia menyatakan bahwa penting juga bagi pihaknya agar perjanjian memiliki mekanisme untuk memastikan bahwa komitmen yang telah dicapai dijalankan.

Salah satu isu yang masih digantung dalam pembicaraan adalah nasib Huawei, raksasa teknologi China yang menghadapi dakwaan pidana di AS karena dituduh mencuri rahasia dagang dan menghindari sanksi. Trump mengindikasikan bahwa isu tersebut tidak muncul dalam pembicaraan pekan ini, namun akan dibahas kelak.

"Itu sebenarnya ... sangat kecil dibandingkan dengan keseluruhan kesepakatan," sebut Trump merujuk pada kasus Huawei.

Meski melanjutkan negosiasi, namun Trump bersikeras menaikkan tarif. "Saya pikir kita dapat melakukannya pada 1 Maret," katanya seraya menambahkan bahwa tarif atas barang China naik 25%.

Dalam pernyataan resmi terkait pembicaraan dengan delegasi Tiongkok, Gedung Putih menerangkan bahwa tarif akan meningkat jika "hasil yang memuaskan" tidak tercapai pada 1 Maret.

Analis perdagangan mengatakan pertemuan antara Trump dan Xi Jinping adalah pertanda kuat bahwa kesepakatan bisa dicapai, karena Trump telah menunjukkan kecenderungan yang lebih besar untuk menyimpulkan kesepakatan dibanding Lighthizer.

"Kesediaan Trump untuk bertemu dengan Xi meningkatkan peluang kesepakatan yang memungkinkan AS mengklaim setidaknya sebagian kemenangan dan menghindari eskalasi ketegangan perdagangan lebih lanjut," terang Eswar Prasad, mantan kepala divisi China IMF. "Kedua belah pihak tampaknya ingin mencapai penyelesaian yang dinegosiasikan dan bagi Trump, manfaat politik untuk mencapai semacam kesepakatan sekarang mungkin lebih besar daripada terus mempertahankan postur yang keras dan tidak fleksibel terhadap China."