logo alinea.id logo alinea.id

Soal Korea Utara, Trump dan penasihatnya punya pandangan berbeda

Bagi Trump, Kim Jong-un menepati janjinya. Namun, tidak demikian bagi penasihat Trump yang menilai Korut telah melanggar kesepakatan.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Rabu, 12 Jun 2019 17:07 WIB
Soal Korea Utara, Trump dan penasihatnya punya pandangan berbeda

Donald Trump pada Selasa (11/6) mengatakan bahwa pemimpin Korea Utara Kim Jong-un telah menepati janji menyangkut uji coba nuklir dan rudal. Pernyataannya tersebut bertentangan dengan penasihat keamanan nasionalnya, John Bolton, yang beberapa jam sebelumnya menuduh Pyongyang gagal menindaklanjuti komitmennya.

Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Trump mengatakan dia telah menerima sebuah surat bersahabat dari Kim Jong-un sebelum akhirnya mengecilkan uji coba rudal Korea Utara.

"Dia menepati janjinya. Tidak ada uji coba nuklir. Tidak ada rudal jarak jauh yang diluncurkan ... Satu-satunya yang diuji adalah rudal yang jaraknya sangat pendek ... Itu kesepakatan yang berbeda, tetapi dia menepati janjinya pada saya. Itu sangat penting," kata Trump.

Sebelumnya, Bolton mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa Korea Utara tidak mematuhi persyaratan yang disepakati selama pertemuan perdana Trump dan Kim Jong-un di Singapura tahun lalu.

"Apa yang mereka katakan adalah bahwa mereka tidak akan menguji rudal balistik, rudal balistik jangkauan antarbenua atau nuklir ... Mereka melakukan banyak hal lain yang masih menunjukkan bahwa mereka belum membuat keputusan untuk menyerah dalam mewujudkan senjata yang mereka inginkan, itulah kenapa kami melanjutkan kampanye tekanan maksimum," tutur Bolton.

Pada Mei, Bolton mengatakan bahwa tidak ada keraguan uji coba yang dilakukan Korea Utara melanggar resolusi PBB. Pernyataan senada juga disampaikan Shanahan di muka umum.

Namun, kesimpulan mereka bertentangan dengan pernyataan Trump.

"Orang-orang saya berpikir itu merupakan sebuah pelanggaran," kata Trump pada Mei. "Saya melihatnya secara berbeda."

Sponsored

Kemarin, Trump juga mengklaim bahwa sisa-sisa jasad tentara AS di Korea Utara akan tetap dipulangkan. Padahal sebelumnya sebuah badan di bawah Kementerian Pertahanan AS yang mengurus isu ini mengatakan pada Mei bahwa upaya pemulangan ditangguhkan karena kurangnya komunikasi dari pejabat Korea Utara setelah KTT kedua di Hanoi, Vietnam.

"Kami memiliki hubungan yang sangat baik," ungkap Trump tentang Kim Jong-un. "Sekarang saya bisa mengonfirmasinya karena surat yang saya dapat kemarin, dan saya rasa akan terjadi sesuatu yang akan sangat positif. Tetapi sementara itu, kita mendapatkan sandera kembali, sisa-sisa jasad kembali, dan kita menjalin sebuah hubungan."

Kembalinya sisa-sisa jasad tentara AS adalah bagian dari kesepakatan yang dicapai selama KTT di Singapura.

Setelah KTT di Singapura, Korea Utara menyerahkan 55 kotak yang diduga sisa-sisa jasad pasukan AS yang tewas selama Perang Korea 1950-53.

"Para pejabat DPRK belum berkomunikasi dengan DPAA sejak KTT Hanoi," kata Chuck Prichard, juru bicara badan yang mengurus isu ini. "Akibatnya, upaya kami untuk berkomunikasi dengan Tentara Rakyat Korea mengenai kemungkinan dimulainya kembali operasi pemulihan untuk 2019 telah ditunda."

Terkait dengan kabar yang menyebutkan bahwa kakak tiri Kim Jong-un, Kim Jong-nam, yang tewas dibunuh di Malaysia adalah aset atau informan CIA, Trump tidak mengonfirmasinya. Namun, dia menegaskan bahwa di bawah kepemimpinannya hal tersebut tidak akan terjadi.

Surat yang indah 

Tanpa menjelaskan secara spesifik isi surat yang dia dapatkan dari Kim Jong-un, Trump mengatakan bahwa menerima hal itu memperkuat fakta dia memiliki hubungan yang baik dengan pemimpin Korea Utara tersebut, sebuah klaim yang telah berulang kali dibuatnya selama setahun terakhir.

"Saya baru saja menerima surat yang indah dari Kim Jong-un ... Saya menghargai surat itu," kata Presiden.

Ketika ditanya apakah akan ada KTT ketiga dengan Kim Jong-un, Trump mengatakan dia berharap demikian.

Bulan lalu, Trump mengatakan dia masih percaya Korea Utara ingin membuat kesepakatan dan membiarkan pintu terbuka untuk KTT ketiga meskipun ada peringatan baru dari Pyongyang yang mendesak AS untuk mengubah arah perundingannya sebelum terlambat.

"Saya pikir mereka ingin membuat kesepakatan dan kami ingin membuat kesepakatan," kata Presiden kepada wartawan dalam kunjungannya baru-baru ini ke Irlandia, seraya menambahkan bahwa ia berharap bertemu Kim "pada waktu yang tepat."