logo alinea.id logo alinea.id

Soal Korut, China desak AS tempuh pendekatan kondusif

Korea Utara menuntut AS mengambil pendekatan baru, menekankan bahwa kesepakatan akan berakhir jika itu tidak dilakukan.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 12 Sep 2019 16:05 WIB
Soal Korut, China desak AS tempuh pendekatan kondusif

China pada Kamis (12/9) mendesak Amerika Serikat untuk mengadopsi pendekatan yang lebih kondusif dalam merespons niat baik Korea Utara untuk melanjutkan pembicaraan denuklirisasi.

Pada Senin (9/9), Korea Utara mengatakan bahwa pihaknya bersedia untuk memulai kembali perundingan denuklirisasi dengan AS pada akhir September. Namun, Pyongyang memperingatkan, kesepakatan antara kedua pihak dapat berakhir kecuali Washington mengambil pendekatan baru.

Beberapa jam setelah menyatakan niatnya, Korea Utara menembakkan proyektil jarak pendek.

Berbicara di Beijing, Menteri Luar Negeri China Wang Yi, mengatakan pihaknya menyambut sinyal positif Korea Utara untuk melanjutkan pembicaraan dengan AS.

"Kami akan senang melihat Korea Utara dan AS melanjutkan pembicaraan sesuai jadwal pada akhir bulan ini," kata Wang.

Wang menyatakan, pengalaman menunjukkan bahwa agar pembicaraan dapat mencapai kemajuan nyata, fokus masing-masing pihak harus disejajarkan.

"Jika hanya ada prasyarat yang dibuat bagi pihak lain atau daftar yang disusun atau bahkan mencoba menggunakan tekanan ekstrem untuk membuat pihak lain membuat konsesi sepihak maka ini tidak berfungsi baik di masa lalu, sekarang atau masa depan," tegas Menlu Wang.

Menurut Menlu Wang, Korea Utara telah mengambil serangkaian langkah positif dan meminta AS untuk bertemu di "tengah jalan".

Sponsored

"Kami berharap AS juga dapat mengambil langkah-langkah praktis dalam hal ini dan berupaya untuk meringankan situasi serta mempromosikan dialog," ujar diplomat China itu.

Wang sama sekali tidak menyinggung soal uji coba senjata Korea Utara baru-baru ini. Tetapi dia mengulang seruan sebelumnya agar sanksi atas Korea Utara diringankan meski China sendiri ikut menandatangani resolusi sanksi berat bagi Pyongyang.

"Kami percaya bahwa DK PBB pada waktunya harusnya mempertimbangkan untuk membuka diskusi tentang Korea Utara mengenai klausul pembalikan sanksi, untuk meringatkan kesulitan yang dipicu sanksi terhadap ekonomi dan mata pencaharian masyarakat," kata Wang.

China adalah pendukung utama ekonomi dan diplomatik Korea Utara.

KTT Korea Utara-AS terakhir kali terjadi pada Juni 2019 ketika Kim Jong-un dan Donald Trump bertemu untuk ketiga kalinya di Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan Utara dan Selatan. Dalam pertemuan itu, keduanya setuju untuk memulai kembali perundingan tingkat kerja yang macet sejak KTT Hanoi pada Februari 2019.

Meski demikian, sejak pertemuan DMZ, para pejabat AS mengklaim bahwa upaya mereka untuk melanjutkan pembicaraan tidak berbalas. Sementara, Korea Utara juga telah melakukan setidaknya delapan peluncuran uji coba sejak saat itu.

Sumber : Reuters