logo alinea.id logo alinea.id

Stok uranium Iran lampaui batas, Trump: Mereka bermain api

IAEA, yang memantau nuklir Iran berdasarkan kesepakatan 2015, mengonfirmasi bahwa Teheran telah melanggar batas yang disepakati.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 02 Jul 2019 10:29 WIB
Stok uranium Iran lampaui batas, Trump: Mereka bermain api

Pada Senin (1/7), Iran mengumumkan bahwa mereka telah menimbun lebih banyak uranium tingkat rendah yang diperkaya dari yang diizinkan berdasarkan kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA). Merespons itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa Teheran bermain-main dengan api.

Pengumuman Iran menandai langkah besar pertama di luar kesepakatan nuklir 2015 sejak AS menarik diri lebih dari satu tahun lalu. Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menegaskan bahwa keputusan Iran itu bukan bentuk pelanggaran perjanjian, melainkan Iran menggunakan haknya untuk merespons kebijakan AS.

"Kami TIDAK melanggar #JCPOA," twit Zarif. Dia merujuk pada paragraf di kesepakatan yang berisi mekanisme untuk menyelesaikan perselisihan tentang kepatuhan.

"Begitu E3 mematuhi kewajiban mereka, kami akan mundur," katanya, merujuk pada kekuatan Eropa, yaitu Inggris, Jerman dan Prancis. Iran telah menuntut mereka menjaminnya akses ke perdagangan dunia berdasarkan kesepakatan itu.

Zarif menuturkan bahwa langkah Iran selanjutnya adalah memperkaya uranium melampaui batas maksimum kemurnian fisil 3,67% yang diizinkan berdasarkan kesepakatan nuklir 2015. Teherah menyebutkan bahwa ambang batas itu akan dilewati pada Minggu (7/7).

Langkah Iran dapat memiliki konsekuensi yang luas bagi diplomasi pada saat negara-negara Eropa berusaha menarik AS dan Iran menjauh dari konfrontasi berkelanjutan. Pengumuman ini datang kurang dari dua minggu setelah Trump blak-blakan mengatakan dia memerintahkan serangan udara ke Iran, namun membatalkannya karena mempertimbangkan dampaknya.

Kantor berita Fars melaporkan bahwa cadangan uranium yang diperkaya negara itu kini melewati batas 300 kg yang diizinkan berdasarkan kesepakatan nuklir 2015.

Sponsored

Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang memantau nuklir Iran berdasarkan kesepakatan 2015, mengonfirmasi dari Wina, Austria, bahwa Teheran telah melanggar batas tersebut.

Ketika ditanya apakah memiliki pesan untuk Iran, Trump mengatakan, "Tidak ada pesan untuk Iran. Mereka tahu apa yang mereka lakukan. Mereka tahu dengan apa mereka sedang bermain, dan saya pikir mereka bermain-main dengan api. Jadi, tidak ada pesan sama sekali."

Gedung Putih mengatakan sebelumnya bahwa mereka akan terus memberikan tekanan maksimum pada Iran sampai para pemimpin negara itu mengubah perilaku mereka. Washington juga mendesak diterapkannya standar yang melarang seluruh pengayaan uranium di Iran.

Namun, menurut Direktur eksekutif Asosiasi Kontrol Senjata Daryl Kimball tidak ada standar internasional yang melarang Iran memperkaya uranium. 

Keputusan Iran merupakan ujian diplomasi bagi Eropa setelah para pejabat Prancis, Inggris dan Jerman menjanjikan tanggapan diplomatik yang kuat jika Iran secara fundamental melanggar kesepakatan.

Kekuatan-kekuatan Eropa, yang tetap tinggal dalam kesepakatan nuklir nuklir dan telah berusaha mempertahankannya, mendesak Iran untuk tidak mengambil langkah lebih lanjut yang akan melanggarnya. Tetapi mereka menahan diri untuk menyatakan bahwa perjanjian itu batal atau mengumumkan sanksi mereka sendiri.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menekankan, Eropa harus memegang komitmen mereka dan menjatuhi sanksi terhadap Iran.

Menteri Luar Negeri Inggri Jeremy Hunt menuturkan bahwa Inggris mempertahankan pakta nuklir 2015 karena tidak ingin Iran memiliki senjata nuklir. "Tetapi jika Iran melanggar kesepakatan itu maka kami juga akan keluar."

Iran telah menyatakan bahwa pihaknya juga bermaksud untuk mempertahankan perjanjian nuklir 2015 tetapi tidak dapat mematuhi ketentuan-ketentuannya untuk jangka waktu yang tidak terbatas, selama sanksi yang diberlakukan Trump merenggut manfaat yang seharusnya mereka terima sebagai imbalan atas pembatasan program nuklir mereka.

AS saat ini telah secara efektif memerintahkan semua negara untuk menghentikan pembelian minyak Iran atau akan menghadapi sanksi. Negeri Para Mullah menyebut itu taktik perang ekonomi yang dirancang untuk membuat rakyatnya kelaparan.

Sejak sanksi terhadap Iran diperketat, konfrontasi telah memasuki dimensi militer. AS menyalahkan Iran atas serangan terhadap tanker minyak dan Iran menembak jatuh drone AS, memicu serangan udara meski akhirnya dibatalkan.

AS mengklaim bahwa sanksi ditujukan untuk mendorong Iran kembali ke meja perundingan, menegosiasikan ulang JCPOA. Iran mengatakan tidak bersedia berunding selama Washington mengabaikan kesepakatan nuklir 2015.

Israel, yang menganggap program nuklir Iran sebagai ancaman eksistensial, telah mendukung kebijakan keras Trump. Demikian pula sekutu-sekutu AS di Timur Tengah, yang menganggap Iran musuh dan mendapat manfaat dari pemblokiran penjualan minyak Iran.

"Bayangkan saja apa yang akan terjadi jika bahan yang ditimbun oleh Iran menjadi fisi, pada tingkat pengayaan militer, dan kemudian bom yang sebenarnya," kata Kepala Mossad, Joseph Cohen, dalam konferensi keamanan.

Sumber : Reuters