sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Survei FPCI: Hubungan ASEAN-China dipandang menguntungkan

Survei dilakukan 28 Juli-23 September 2020 dengan mengirimkan surat elektronik kepada 2.000 lebih responden.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 12 Nov 2020 18:29 WIB
Survei FPCI: Hubungan ASEAN-China dipandang menguntungkan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 534.266
Dirawat 66.752
Meninggal 16.825
Sembuh 445.793

Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) merilis survei untuk menangkap persepsi dan sikap terhadap kerja sama ASEAN-China. Riset tersebut bertajuk "ASEAN-China Survey 2020: Assessing the Present and Envisioning the Future of ASEAN-China Relations".

Survei skala regional ini menargetkan pemangku kepentingan tertentu yang mewakili pemimpin 10 negara ASEAN dan yang akan datang untuk menjadi responden.

Sejak 28 Juli hingga 23 September, tim FPCI mengirimkan lebih dari 2.000 surat elektronik (email). Namun, hanya berhasil menerima tanggapan 1.000 responden dari seluruh negara anggota ASEAN.

"Hasilnya mengonfirmasi beberapa pendapat lama, tetapi juga memberikan beberapa wawasan baru dan segar. Secara umum, hubungan tersebut dipandang saling menguntungkan dan berkontribusi positif terhadap perdamaian, stabilitas, dan kemajuan di kawasan," jelas FPCI dalam rilis yang diterima Alinea.id, Kamis (12/11).

Menurut FPCI, kebangkitan China dan dampaknya terhadap kawasan menjadi salah satu pembahasan terpenting bagi publik dan pengambil kebijakan di Asia Tenggara. Itu karena pola interaksi antara keduanya dinilai akan berdampak signifikan terhadap masa depan kawasan.

Dalam konteks ini, memahami bagaimana masyarakat ASEAN memandang China sangat penting untuk memastikan hubungan yang lebih kuat dan saling menguntungkan antara dua mesin pertumbuhan global.

Meski dipandang menguntungkan, hasil survei tersebut juga mengakui, sejumlah skeptisisme masih membekas pada benak sebagian masyarakat ASEAN. Sikap ini harus dipertimbangkan untuk membina hubungan yang lebih baik dan lebih kuat antara ASEAN dan China.

"Masyarakat ASEAN cenderung menyambut baik kerja sama ekonomi yang lebih kuat, seperti dalam Belt and Road Initiative (BRI). Namun, juga memandang bahwa kerja sama tersebut perlu terus dikaji ulang agar dapat menguntungkan kedua belah pihak secara optimal," jelas survei tersebut.

Sponsored

Di sisi lain, tingkat skeptisisme relatif lebih tinggi dalam hubungan dimensi politik-keamanan. Survei FPCI memaparkan, terdapat keprihatinan tentang sentralitas ASEAN dan bagaimana interaksi dengan China akan memengaruhi kedaulatan negara-negara Asia Tenggara.

Alih-alih terbagi oleh kesetiaan mereka pada satu kekuatan besar, sebagian besar responden berpendapat ASEAN tidak boleh berpihak pada satu sisi. Bahkan, memandang ASEAN harus bertindak lebih dan secara proaktif melakukan mediasi hubungan antara dua kekuatan besar tersebut. Pasalnya, persaingan kekuatan besar yang tidak terkendali dinilai akan berdampak negatif terhadap kawasan.

Hasil survei FPCI menunjukkan, sebagian besar responden lebih memperhatikan dimensi politik-keamanan dan ekonomi dibandingkan masalah sosial budaya. Para pemangku kepentingan yang terlibat langsung dalam proses lebih optimistis, sedangkan masyarakat sipil cenderung skeptis.

Berita Lainnya