sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Taiwan konfirmasi kasus pertama coronavirus

Korban adalah seorang wanita usia 50 tahun yang baru kembali dari Wuhan.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 21 Jan 2020 20:01 WIB
Taiwan konfirmasi kasus pertama coronavirus
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 511.836
Dirawat 64.878
Meninggal 16.225
Sembuh 429.807

Taiwan pada Selasa (21/1) mengonfirmasi kasus infeksi pertama dari coronavirus baru. Korban adalah seorang wanita usia 50 tahun yang baru kembali dari Wuhan, kota di mana wabah itu dimulai.

Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan menuturkan bahwa perempuan yang berasal dari Taiwan selatan itu kembali dari Wuhan pada Senin (20/1). Dari bandara dia langsung dibawa ke rumah sakit setelah menunjukkan gejala seperti demam dan batuk.

Masyarakat diimbau untuk tidak panik, dan pemerintah Taiwan memastikan telah memberitahu China dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang kasus itu.

Dari Wuhan, wabah telah menyebar ke sejumlah kota di China termasuk Beijing dan Shanghai. Kasus lainnya juga dilaporkan terjadi di luar China seperti di Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang.

Taiwan, yang memiliki hubungan ekonomi dan people to people dengan China meski terdapat ketegangan politik, pada Senin telah mendirikan pusat komando respons epidemi untuk mengoordinasikan tanggapan terhadap virus baru tersebut.

Taipei juga telah menyiapkan lebih dari 1.000 tempat tidur di ruang isolasi jika virus menyebar lebih jauh.

Enam orang tewas

Pejabat di China berlomba dengan waktu untuk menangani penyebaran coronavirus yang telah menewaskan sedikitnya enam orang dan menginfeksi 300 orang. Sebelumnya mereka mengonfirmasi bahwa virus yang berasal dari hewan ini dapat menyebar dari manusia ke manusia.

Sponsored

Otoritas Wuhan mengumumkan serangkaian tindakan baru pada Selasa, termasuk pembatalan perayaan Tahun Baru Imlek, yang dapat menarik ratusan ribu pengunjung.

Serangkaian tindakan baru datang setelah Presiden China Xi Jinping pada Senin memerintahkan upaya tegas untuk mengekang penyebaran virus itu. Namun, ada kekhawatiran bahwa upaya-upaya tersebut sudah terlambat, terhambat oleh birokrasi China yang bergerak lamban menerapkan langkah-langkah yang cukup pada waktunya.

Menurut media pemerintah, meski infeksi pertama kali terdeteksi di Wuhan pada pertengahan Desember, alat screening tidak segera dipasang di bandara dan stasiun hingga 14 Januari.

Komisi Kesehatan Nasional China pada Selasa mengumumkan bahwa mereka telah menerima 291 kasus terkonfirmasi coronavirus, dengan kasus baru dilaporkan pada 20 Januari.

Mereka merinci di Provinsi Hubei di mana Wuhan berada terdapat 270 kasus, Beijing lima kasus, Provinsi Guangdong 14 kasus, dan Shanghai dua kasus. Dugaan kasus yang sama dilaporkan terjadi di Provinsi Yunnan, Sichuan, Guangxi, dan Shandong.

Sementara itu, jumlah korban tewas telah meningkat menjadi enam pada Selasa malam setelah Komisi Kesehatan Kota Wuhan mengonfirmasi bahwa seorang pria usia 66 tahun dan seorang wanita usia 48 tahun meninggal pada 20 Januari.

The National Institutes of Health (NIH) disebut tengah mengerjakan vaksin untuk melawan coronavirus baru.

"NIH tengah dalam proses mengambil langkah pertama menuju pengembangan vaksin," ujar Anthony Fauci, direktur National Institutes of Allergy and Infectious Diseases.

Fauci menuturkan akan memakan waktu beberapa bulan sampai fase pertama uji klinis berlangsung dan lebih dari satu tahun sampai vaksin tersedia.

Tim ilmuwan di Texas, New York, dan China juga dilaporkan tengah mengembangkan vaksin. Peter Hotez, ilmuwan vaksin di Baylor College of Medicine di Houston mengatakan, "Pelajaran yang kami dapat adalah infeksi coronavirus serius dan salah satu ancaman kesehatan global terbaru dan terbesar."

Dia menambahkan bahwa mengembangkan vaksin untuk coronavirus tidak sesulit dibandingkan bagi HIV atau influenza.

"Setiap virus memiliki tantangannya, tetapi coronavirus dapat menjadi target vaksin yang relatif mudah," ujar Hotez. (Reuters dan CNN)

Berita Lainnya