sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Tak pandang bulu, negara kaya-miskin terdampak cuaca ekstrem

Jepang berada di posisi teratas sebagai negara paling terpengaruh cuaca ekstrem pada 2018. Ada pun Jerman di urutan ketiga.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 05 Des 2019 10:06 WIB
Tak pandang bulu, negara kaya-miskin terdampak cuaca ekstrem
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 64958
Dirawat 31798
Meninggal 3241
Sembuh 29919

Gelombang panas yang memburuk mengambil korban yang lebih besar di negara-negara kaya dan miskin. Demikian menurut peringkat tahunan yang mengukur kerusakan akibat cuaca ekstrem terhadap kehidupan manusia dan ekonomi.

Indeks Risiko Iklim Global, yang dirilis pada Rabu oleh lembaga pemantau lingkungan, Germanwatch, menilai Jepang sebagai negara yang paling terpengaruh pada 2018. Ada pun Jerman berada di posisi ketiga.

Kedua negara industri itu dilanda gelombang panas dan kekeringan tahun itu, seperti halnya India yang berada di posisi kelima yang menderita kekurangan air, kegagalan panen dan kerusuhan.

"Ilmu pengetahuan baru-baru ini telah mengonfirmasi hubungan jangka panjang antara perubahan iklim dan frekuensi serta tingkat keparahan panas yang ekstrem," kata Germanwatch dalam laporannya.

Laporan itu menyebut, pada 2018 gelombang panas di Jepang menewaskan 138 orang dan menyebabkan lebih dari 70.000 orang dirawat di rumah sakit. Dan di Jerman pada April-Juli 2018 adalah yang terpanas yang pernah dicatat di negara itu, menyebabkan kematian lebih dari 1.200 orang.

"Di seluruh Eropa, panas ekstrem sekarang memiliki kemungkinan 100 kali lebih besar daripada seabad lalu," menurut laporan itu, mencatat bahwa dampak gelombang panas di negara-negara Afrika mungkin kurang terwakili karena kurangnya data.

Badai yang kuat juga meninggalkan jejak kehancuran pada 2018, dengan Filipina berada di posisi kedua dalam indeks risiko iklim karena kerugian besar ketika dihantam oleh Topan Mangkhut yang berkekuatan tinggi.

Madagaskar adalah negara keempat yang paling terkena dampak cuaca saat dua siklon menewaskan sekitar 70 orang dan memaksa 70.000 orang mengungsi.

Sponsored

Di Kenya dan Rwanda, indeks ketujuh dan kedelapan, hujan musiman jauh lebih deras dari biasanya, menyebabkan banjir yang menghancurkan rumah dan ternak serta memicu penyakit.

Laura Schaefer, seorang penasihat kebijakan Germanwatch mengatakan kepada para wartawan di pertemuan iklim PBB di Madrid bahwa hasil indeks menunjukkan, "tanda-tanda krisis iklim" di semua benua tidak bisa lagi diabaikan.

"Tetapi dampak iklim yang paling eksistensial menghantam negara-negara berkembang dan masyarakat di seluruh dunia dan menciptakan krisis iklim nyata bagi jutaan orang," katanya, seraya menambahkan bahwa kaum miskin memiliki sumber daya paling sedikit untuk mengatasinya.

Antara 1999 dan 2018, tujuh dari 10 negara yang paling terpengaruh oleh cuaca ekstrem adalah negara-negara berkembang yang berpenghasilan rendah, dengan Puerto Rico, Myanmar, dan Haiti menduduki posisi teratas.

"Dalam 20 tahun terakhir, hampir setengah juta kematian secara langsung terkait dengan lebih dari 12.000 peristiwa cuaca ekstrem di seluruh dunia, sementara kerusakan ekonomi melebihi US$3,5 triliun," sebut laporan Germanwatch.

Germanwatch bergabung dengan negara-negara berkembang dan lembaga-lembaga bantuan dalam mendesak negosiator PBB untuk membuat sebuah sistem untuk secara teratur menilai kebutuhan negara-negara yang rentan dalam menangani kehilangan dan kerusakan yang disebabkan oleh perubahan iklim, dan untuk menyediakan dana baru untuk memperbaikinya.

Negara-negara kaya telah lama menolak tekanan untuk menambah dana seperti itu, di luar memperluas program asuransi. Tetapi ketika dampak cuaca ekstrem meningkat secara global dan emisi pemanasan planet terus meningkat, tekanan itu meningkat.

Renato Redentor Constantino, dari Institut Iklim dan Kota Berkelanjutan di Filipina, mengatakan jelas tidak dapat diterima bahwa mereka yang paling menderita adalah mereka yang paling sedikit menyebabkan masalah, mengingat secara historis mereka rendah emisi .

"Peristiwa cuaca ekstrem yang kami hadapi adalah akibat dari emisi yang gagal dihilangkan dunia," kata dia. (Ant)

Serba bisa BIN di panggung corona 

Serba bisa BIN di panggung corona 

Selasa, 07 Jul 2020 06:01 WIB
Berharap vaksin dengan anggaran mini

Berharap vaksin dengan anggaran mini

Senin, 06 Jul 2020 19:00 WIB
Berita Lainnya