logo alinea.id logo alinea.id

Tegang dengan Iran, kapal Inggris di Teluk berstatus siaga tinggi

Inggris mengatakan secara berkala mereka memberikan saran keamanan kepada kapal-kapal Inggris di daerah yang dinilai berisiko tinggi.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 12 Jul 2019 11:28 WIB
Tegang dengan Iran, kapal Inggris di Teluk berstatus siaga tinggi

Inggris meningkatkan level ancaman terhadap kapal-kapalnya di perairan Teluk ke tingkat tertinggi, menyatakan bahwa risiko terjadinya serangan sangat kritis. Langkah itu diambil pada Selasa (9/7), di tengah eskalasi di wilayah tersebut.

Kementerian Transportasi Inggris mengatakan secara berkala mereka memberikan saran keamanan kepada kapal-kapal Inggris di daerah yang dinilai berisiko tinggi.

Tingkat ancaman tertinggi atau level 3 berarti kapal-kapal Inggris disarankan untuk tidak melintasi perairan Iran.

Pada Rabu (10/7), Kementerian Pertahanan Inggris melaporkan sejumlah kapal Iran berusaha menyergap tanker minyak Inggris, British Heritage, di Teluk Persia.

Sejumlah kapal yang diyakini milik Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) diduga mendekati British Heritage dan mencoba menghentikannya saat kapal itu melintas dari Teluk Persia menuju ke Selat Hormuz.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan, fregat HMS Montrose, yang mengawal tanker minyak itu, kemudian mengintervensi dan mengarahkan senjata kepada kapal-kapal Iran. Montrose memberi peringatan untuk mundur, kapal-kapal Iran pun mematuhinya.

Dia menggambarkan tindakan Iran sebagai sesuatu yang bertentangan dengan hukum internasional.

Sebelumnya, Iran sempat mengancam akan membalas dendam atas penyitaan tanker minyaknya oleh AL Inggris. Namun, Angkatan Laut IRGC membantah klaim bahwa pihaknya berusaha menyergap tanker minyak Inggris. Mereka menegaskan tidak ada konfrontasi dengan kapal asing selama 24 jam terakhir.

Sponsored

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menuturkan, Inggris membuat klaim itu hanya untuk memicu ketegangan.

"Klaim itu tidak ada nilainya," tambah Zarif.

Beberapa laporan menyatakan bahwa British Heritage berada di dekat Pulau Abu Musa ketika dihampiri oleh kapal-kapal Iran. Walaupun Abu Musa berada di perairan teritorial Iran, kapal-kapal Inggris diyakini berada di perairan internasional saat insiden terjadi.

Menteri Pertahanan Inggris Penny Mordaunt mengatakan, pemerintah prihatin dengan insiden itu dan mendesak Iran untuk mengurangi ketegangan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt menambahkan pemerintah akan memantau situasi dengan saksama. Juru bicara Perdana Menteri Theresa May menegaskan pemerintah berkomitmen untuk mempertahankan kebebasan navigasi sesuai dengan hukum internasional.

Kementerian Luar Negeri AS mengecam tindakan Iran dan mengatakan bahwa Washington akan terus bekerja sama dengan Inggris.

"Kami memuji tindakan AL Inggris dalam memastikan kebebasan navigasi dan arus perdagangan bebas melalui jalur yang sangat penting itu," tutur juru bicara Kemlu AS Morgan Ortagus.

Pejabat militer AS Jim Malloy menggambarkan insiden itu sebagai pelecehan yang melanggar hukum. Dia menegaskan bahwa militer akan terus berkoordinasi dengan AL Inggris untuk mempertahankan jalur perdagangan bebas.

Ketegangan Inggris-Iran

Hubungan antara London-Teheran memanas setelah Inggris yakin bahwa Iran bertanggung jawab atas serangan dua tanker minyak pada Juni.

Situasi memburuk setelah pekan lalu, AL Inggris menyita tanker minyak Iran, Grace 1, yang diduga mengangkut minyak ke Suriah.

Pada Kamis (11/7), seorang juru bicara Kepolisian Gibraltar menyatakan telah menahan kapten dan kepala (chief officer) Grace 1 atas dugaan melanggar sanksi Uni Eropa, tetapi hingga kini belum ada yang didakwa.

Tidak lama setelahnya, pejabat Iran mengatakan penyitaan itu adalah tindakan yang tidak perlu dilakukan dan tidak konstruktif. Dia mendesak agar Inggris membebaskan Grace 1.

Pada Rabu, Presiden Iran Hassan Rouhani menyebut Inggris takut dan putus asa karena menggunakan Montrose untuk membayangi kapal Inggris lainnya yang melintasi Teluk.

"Saya memberi tahu Inggris bahwa mereka adalah pihak yang memicu konflik ini dan mereka akan mendapat konsekuensinya nanti," tegasnya.

AL Inggris memiliki sebuah fregat, empat kapal penyapu ranjau dan sebuah kapal pendukung Royal Fleet Auxiliary (RFA) yang ditempatkan di Fasilitas Pendukung AL di Mina Salman, Bahrain. Itu dinilai cukup untuk memberikan jaminan keamanan, tetapi tidak untuk menghadapi krisis.

Pejabat Kementerian Luar Negeri Inggris mengatakan akan tetap mempertahankan keberadaan militer Inggris di wilayah tersebut, tetapi bersikeras mereka tidak ingin meningkatkan ketegangan.

Selat Hormuz, yang harus dilalui semua kapal untuk memasuki Teluk, sangat sempit. Jadi, alih-alih berlayar melalui perairan internasional, kapal-kapal harus melewati wilayah Iran atau Oman yang keduanya membentang 12 mil laut dari pantai mereka.

Kapal-kapal dapat berlayar di bawah Rights of Straits Passage, bagian dari konvensi PBB yang mengizinkan kapal-kapal bebas melintas melalui titik sempit seperti Selat Gibraltar dan Selat Malaka.

Di Selat Hormuz, kapal melintas melalui dua jalur yang berlawanan arah. Masing-masing jalur memiliki lebar dua mil laut. Ini disebut Skema Pemisahan Lalu Lintas Kapal.

Begitu kapal-kapal melewati Selat Hormuz dan memasuki area Teluk, mereka harus mewaspadai daerah yang disengketakan di sekitar Pulau Abu Musa dan Tunb. (BBC dan The Guardian)