sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Tertembak saat meliput demo Hong Kong, WNI cari keadilan

Mata kanan Veby Mega Indah tertembak pada 29 September, saat dirinya tengah meliput unjuk rasa antipemerintah Hong Kong.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 06 Des 2019 17:29 WIB
Tertembak saat meliput demo Hong Kong, WNI cari keadilan

Lebih dari dua bulan setelah mata kanannya dibutakan oleh apa yang dia yakini sebagai proyektil yang ditembakkan oleh polisi antihuru-hara Hong Kong, Veby Mega Indah masih mencari titik terang kasusnya.

Pada 29 September, Veby yang berstatus warga negara Indonesia termasuk di antara sekelompok wartawan yang meliput salah satu bentrokan antara polisi dan pemrotes dalam unjuk rasa antipemerintah di Hong Kong.

"Saya sedang melakukan liputan live-streaming waktu itu. Pada satu titik, ada sejumlah pengunjuk rasa yang muncul ... Polisi membidik mereka dan bersiap untuk menembak. Saya mendengar seorang jurnalis di belakang saya berteriak, 'Jangan tembak! Kami jurnalis'," jelas Veby.

Sedetik kemudian, lanjut Veby, dia mendengar suara ledakan dan terlihat asap.

"Lalu ada proyektil yang masuk ke mata kanan saya," kata dia.

Kasus Veby menggambarkan risiko yang dihadapi pekerja media saat meliput protes yang semakin diwarnai kekerasan. Perempuan berusia 39 tahun itu bekerja sebagai wartawan di Suara, media berbahasa Indonesia yang berbasis di Hong Kong.

Veby bilang dia berniat untuk terus bekerja di Hong Kong, kota yang menjadi rumahnya sejak 2012.

"Saya masih ingin menjadi jurnalis, saya mau melanjutkan pekerjaan saya. Saya masih tidak tahu seberapa jauh saya bisa melakukannya," ujar dia.

Sponsored

Tidak ada kemajuan

Menurut wartawan Associated Press yang berada di tempat kejadian ketika Veby terluka, seluruh wartawan berdiri terpisah dari para pengunjuk rasa. Jurnalis pun mengenakan rompi kuning, helm dengan stiker bertuliskan "press", dan kartu pers yang digantung di leher.

Polisi membela diri dengan menyatakan bahwa mereka melepas tembakan untuk membela diri dari pengunjuk rasa yang melempar sejumlah objek dari arah jembatan penyeberangan di Wan Chai.

Veby memiliki pengacara yang sedang mengajukan kasusnya terhadap polisi Hong Kong. Namun, sejauh ini upaya tersebut masih tanpa hasil. Selain itu, dia juga meminta nama petugas yang menembakkan apa yang diyakininya sebagai peluru karet.

"Sejauh ini, saya tidak melihat adanya investigasi yang berjalan meskipun saya sudah mengajukan keluhan," kata dia. "Sangat penting untuk mencari keadilan karena kasus ini tidak hanya tentang saya, ini untuk membawa keadilan bagi seluruh warga yang terluka di Hong Kong."

Dalam pengarahan media pada 29 November, juru bicara Kepolisian Hong Kong Kong Wing-cheung membantah polisi bergerak lambat dalam mengurus kasus Veby.

Kong mengatakan, kantor yang bertanggung jawab untuk menangani keluhan terhadap polisi telah berbicara dengan pengacara Veby. Namun, prosesnya masih berjalan karena melibatkan banyak prosedur hukum.

Para kritikus menilai, pasukan keamanan yang dulunya dihormati telah menggunakan taktik yang semakin brutal untuk menangani demonstrasi antipemerintah. Para pedemo menuntut digelarnya penyelidikan independen terhadap polisi atas tuduhan menggunakan kekuatan berlebihan.

Pada Rabu (4/12), legislator lokal, Claudia Mo, menyinggung kasus Veby kepada Sekretaris Keamanan Hong Kong John Lee. Namun, Lee mengalihkan pembicaraan dan membahas soal perlindungan diri polisi serta kasus-kasus di mana pengunjuk rasa menyamar sebagai wartawan.

"Orang-orang di lapangan, termasuk praktisi media, harus memperhatikan dan mengikuti instruksi yang diberikan polisi. Mereka harus menjaga jarak yang sesuai," kata Lee. "Itu akan mencegah penyumbatan operasi penegakan hukum serta menghindari cedera pribadi." (Al Jazeera)

Berita Lainnya