sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Transportasi Hong Kong kacau, kerusuhan belum berhenti

Hong Kong telah mengalami peningkatan kekerasan dalam tiga hari terakhir.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Rabu, 13 Nov 2019 12:41 WIB
Transportasi Hong Kong kacau, kerusuhan belum berhenti

Kekacauan masih terjadi di Hong Kong pada Rabu (13/11), ketika para pemrotes antipemerintah melanjutkan taktik baru mereka, yaitu menimbulkan gangguan sebanyak mungkin pada jaringan transportasi di tengah hari kerja.

Sejumlah layanan bus dibatalkan, sementara kereta di tiga jalur utama ditangguhkan setelah pengunjuk rasa merusak stasiun dan melemparkan berbagai benda ke rel. Penundaan yang lama memicu kepadatan dan pemandangan semrawut di stasiun yang tetap beroperasi, mengharuskan polisi siaga menjaga ketertiban.

Lalu lintas di banyak jalan utama terhenti ketika para pemrotes melemparkan barikade dan rintangan lain sejak dini hari.

Konfrontasi dilaporkan terjadi di Yuen Long, setelah sekelompok pengunjuk rasa membuat barikade dan memblokir jalan. 

Pihak berwenang menuai kecaman karena membahayakan keselamatan anak-anak dengan membiarkan sekolah tetap buka di tengah banyaknya gangguan. Di lain sisi, tidak sedikit sekolah yang bersikeras menangguhkan kelas.

Sementara itu, Otoritas Rumah Sakit memperingatkan bahwa layanan medis akan terpengaruh. Mereka mengutip soal keamanan. Klub Joki pun membatalkan balapan.

Gejolak hari ini terjadi setelah kerusuhan serupa pada Senin (11/11) dan Selasa (11/12). Ratusan orang telah ditangkap dan sejumlah lainnya cedera setelah bentrokan dengan polisi sejak awal pekan ini. 

Dua orang dirawat di rumah sakit dalam kondisi kritis, satu di antaranya ditembak oleh polisi dan seorang lainnya dibakar setelah berdebat dengan sekelompok pemuda.

Sponsored

Protes meletus mulai dari pinggiran kota hingga pusat bisnis, tetapi bentrokan sangat masif terjadi di sejumlah universitas. Perguruan tinggi tertua nomor dua di Hong Kong, Chinese University of Hong Kong (CUHK), larut di bawah naungan gas air mata dan asap ketika polisi dan mahasiswa saling lawan sepanjang siang hingga malam pada Selasa.

Bahkan saat malam hari, para siswa dari wilayah lain di Hong Kong datang untuk memperkuat para pengunjuk rasa di CUHK dan para simpatisan dilaporkan menyumbang persediaan medis dan makanan.

Media lokal melaporkan evakuasi sekitar 80 siswa China daratan pada Rabu pagi.

Kebijakan polisi untuk memasuki kampus dinilai menandai perubahan besar dalam strategi karena selama ini mereka menghindari operasi pembersihan di sekolah dan perguruan tinggi. Perwakilan mahasisa menuturkan, mereka tengah mengupayakan perintah pengadilan demi menghentikan polisi diizinkan memasuki kampus.

Orang nomor dua di Hong Kong, Kepala Sekretaris Matthew Cheung, menyerukan agar tetap tenang.

"Tidak peduli nilai atau tujuan Anda, kekerasan, penghancuran dan penyerangan terhadap yang lain ... bukanlah cara untuk mencapai cita-cita Anda," ujar Cheung dalam konferensi pers pada Rabu pagi.

Dia menambahkan, "Ini bukan solusi dan tidak akan memungkinkan Anda untuk mendapat apa yang Anda inginkan. Pemerintah menegaskan bahwa kami memiliki tekad, keyakinan dan kemampuan untuk menghentikan kekerasan dan kekacauan."

Berbicara dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Keamanan John Lee mengimbau gerakan demokrasi Hong Kong untuk berhenti mengabaikan kekerasan. "Jika kekerasan terus dipaksakan, konsekuensinya bagi masyarakat Hong Kong akan terlalu mengerikan untuk dibayangkan."

Pada Selasa malam, Kantor Penghubung yang merupakan perwakilan Beijing di Hong Kong, merilis pernyataan berisi kecaman keras terhadap peningkatan perilaku kekerasan dan destruktif. Pernyataan yang sama juga mendesak pemerintah setempat menggunakan setiap tindakan yang diperlukan untuk menghentikan kekerasan dan kekacauan, memulihkan ketertiban, menangkap para penjahat dan secara serius menghukum tindakan kekerasan.

Pemberontakan antipemerintah di Hong Kong meledak sejak Juni dan merupakan tantangan paling serius dalam beberapa dekade bagi Beijing. Para pengunjuk rasa menuntut kebebasan politik yang lebih besar untuk kota itu, dengan banyak yang menyerukan pemisahan diri dari China.

Kemarin, Uni Eropa (UE) menyatakan pula bahwa penyelidikan penuh diperlukan untuk mengetahui akar penyebab protes di Hong Kong.

"Penyelidikan komprehensif tentang kekerasan, penggunaan kekuatan dan akar penyebab proses adalah elemen penting dalam upaya deeskalasi," kata Maja Kocijancic, juru bicara UE untuk urusan luar negeri dan kebijakan keamanan.

UE, ditegaskan Kocijancic, memiliki hubungan komersial, budaya dan relasi antarwarga dengan Hong Kong. 

"Kami memiliki komitmen yang sama terhadap kebebasan mendasar, supremasi hukum dan hak asasi manusia," ujar dia.

Selain itu, UE juga mendesak Hong Kong untuk menepati jadwal pemilu dewan distrik dalam waktu kurang dari dua minggu.

"Segala upaya perlu dilakukan untuk memastikan bahwa pemilu Dewan Distrik pada 24 November berjalan sesuai rencana. Ini akan mengirim sinyal penting tentang pelaksanaan hak-hak demokrasi dan kebebasan yang diabadikan dalam UUD," tegas Kocijancic.

Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam telah berjanji untuk memastikan agar pemilu berjalan sesuai jadwal.

Sebelumnya, pada Senin, Kementerian Luar Negeri AS menyatakan pihaknya menyaksikan kekacauan di Hong Kong dengan keprihatinan serius. AS menyerukan Beijing untuk menghormati komitmen "Satu Negara, Dua Sistem", yang disepakatinya dengan Inggris. (Time, South China Morning Post dan BBC)

Berita Lainnya