sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Trump kembali dimakzulkan DPR AS

Di DPR, ada berapa banyak Republikan yang akan bergabung dengan mayoritas Demokrat dalam pemungutan suara untuk memakzulkan Trump.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 14 Jan 2021 15:24 WIB
Trump kembali dimakzulkan DPR AS

Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) pertama dalam sejarah yang dimakzulkan dua kali melalui pemungutan suara DPR pada Rabu (13/1).

DPR menyatakan, alasan mereka kembali memakzulkan Trump dalam waktu kurang dari satu tahun terakhir adalah karena dia telah menghasut pendukungnya untuk menyerbu Capitol pada pekan lalu.

"Hari ini, secara bipartisan, DPR menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang berada di atas hukum, bahkan Presiden AS sekali pun," tutur Ketua DPR Nancy Pelosi setelah pemungutan suara.

Senat tidak akan menggelar persidangan sebelum 20 Januari, ketika presiden terpilih, Joe Biden, mengambil alih kursi kepresidenan.

"Donald Trump pantas menjadi presiden pertama dalam sejarah AS yang menanggung noda pemakzulan dua kali," kata Senator dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, yang dalam waktu seminggu akan menjadi pemimpin senat.

Di DPR, satu-satunya pertanyaan adalah berapa banyak Republikan yang akan bergabung dengan mayoritas Demokrat dalam pemungutan suara untuk memakzulkan Trump.

Pada penghitungan terakhir, 10 Republikan memberikan suara untuk mendukung pemakzulan tersebut, termasuk politikus ternama, Liz Cheney.

"Saya sangat puas dengan keputusan ini. Menurut saya, saya telah melakukan hal yang benar," ujar Adam Kinzinger, salah satu Republikan yang juga mendukung upaya pemakzulan Trump.

Sponsored

Dari Gedung Putih, Trump merilis video pidato di mana dia tidak mengangkat isu mengenai pemakzulan atau protes penuh kerusuhan pada pekan lalu.

Sebaliknya, komentarnya berfokus pada imbauan bagi warga AS untuk bersatu, menghindari kekerasan, dan mencapai perdamaian.

"Tidak ada pembenaran untuk kekerasan. Tidak ada alasan, tidak ada pengecualian, AS adalah negara hukum," tegas Trump.

Biden menyebut, keputusan pada Rabu sebagai suara bipartisan yang diberikan oleh para anggota yang menghormati konstitusi dan hati nurani mereka.

Di sisi lain, Biden mendesak senat untuk menangani prioritas pemerintahannya seperti menyetujui nominasi kabinet sembari melanjutkan persidangan Trump.

"Saya berharap pimpinan senat akan menemukan cara untuk menangani tanggung jawab konstitusional mereka tentang pemakzulan sementara juga mengerjakan urusan mendesak lainnya di negara ini," ujarnya.

Terlepas dari kecaman Trump atas kekerasan setelah kekacauan yang ditimbulkan oleh para pendukungnya ketika mereka menyerbu kantor kongres, kekhawatiran terkait kerusuhan tetap tinggi.

Garda Nasional dikerahkan di seluruh ibu kota, dan jalan-jalan di pusat kota Washington diblokir untuk lalu lintas.

Di gedung Capitol sendiri, aparat keamanan membawa senapan serbu berkumpul.

Trump selamat dari pemakzulan pertama hampir persis setahun yang lalu ketika senat yang dikendalikan Republikan membebaskannya dari tuduhan penyalahgunaan kekuasaan untuk mencoba mendapatkan informasi tentang keluarga Biden sebelum Pilpres 2020.

Kali ini, upaya pemakzulannya dipicu oleh pidato yang dia sampaikan kepada para pendukungnya di National Mall pada 6 Januari.

Pada saat itu, Trump memberi tahu mereka bahwa Biden telah mencuri pemilu dan bahwa mereka perlu berbaris ke kongres untuk merebut kemenangan itu.

Terpengaruh oleh teori konspirasi pemilu yang didorong oleh Trump selama berminggu-minggu, massa kemudian menyerbu Capitol, melukai seorang petugas polisi secara fatal, merusak furnitur dan memaksa para anggota parlemen bersembunyi.

Seorang pengunjuk rasa ditembak mati, dan tiga orang lainnya meninggal karena keadaan darurat medis.

Sebelum pemungutan suara pada Rabu, Pelosi menegaskan bahwa Trump harus melepaskan jabatannya.

"Dia jelas menghadirkan bahaya bagi bangsa yang kita semua cintai," katanya. Anggota parlemen dari Partai Demokrat, Ilhan Omar, mencap Trump sebagai tiran.

Tapi Nancy Mace, seorang anggota kongres Partai Republik yang baru terpilih mengatakan bahwa sementara anggota parlemen "perlu meminta pertanggungjawaban presiden," kecepatan pemakzulan "menimbulkan pertanyaan besar tentang konstitusionalitas."

Tokoh Partai Republik di DPR, Pemimpin Minoritas Kevin McCarthy, mengatakan bahwa meski Trump pantas dikecam, tuduhan terburu-buru akan "semakin memecah belah bangsa ini."

McConnell terbuka untuk impeachment

Trump, yang megafon media sosialnya dilucuti oleh Twitter dan Facebook dan mendapati dirinya semakin dikucilkan di dunia bisnis, sedang berjuang untuk memaksakan pesannya - apalagi segala jenis perlawanan.

Penolakannya untuk menerima tanggung jawab atas adegan mengerikan pada 6 Januari - termasuk desakannya pada hari Selasa bahwa pidatonya "benar-benar sesuai" - telah membuat marah sekutu dan lawan. (Gulf Today)

Berita Lainnya