sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Trump kutuk kekerasan dalam protes di Capitol Hill

Trump menganggap, percobaan kudeta di Capitol sebagai serangan keji terhadap AS. Pun menuntut para pelaku dituntut.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 08 Jan 2021 14:29 WIB
Trump kutuk kekerasan dalam protes di Capitol Hill

Lebih dari 24 jam setelah ribuan pendukungnya menyerbu Capitol Hill, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada Kamis (7/1) malam waktu setempat mengutuk kekerasan dalam protes tersebut.

Dalam video pernyataan yang dikirim di media sosial, Trump menyebut, peristiwa itu sebagai serangan yang keji. Rekaman tersebut menandai pertama kalinya dia mengakui kekalahannya dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2020.

"Kongres telah menyertifikasi hasil pemilu. Pemerintahan baru akan diresmikan pada 20 Januari. Fokus saya sekarang beralih ke memastikan transisi kekuasaan yang mulus dan tertib," kata Trump dalam video yang dikirim ke Twitter.

Video tersebut dikirimkan beberapa jam setelah akun Twitternya dipulihkan usai melakukan sejumlah pelanggaran terhadap kebijakan media sosial itu.

Twitter telah mengancam akan memblokir Trump dari platformnya atas kiriman yang dibuatnya setelah penyerbuan Capitol. Sebelumnya, Trump mengetwit tentang empatinya kepada para pendukungnya.

Pada Kamis, pernyataan Trump bertolak belakang dengan klaim sebelumnya. Dia menggambarkan percobaan kudeta di Capitol sebagai serangan keji terhadap AS dan mengharapkan mereka yang terlibat dituntut.

"Para demonstran yang menyusup ke Capitol telah mencemari demokrasi AS. Bagi mereka yang terlibat dalam aksi kekerasan dan kehancuran, kalian tidak mewakili negara kami. Bagi mereka yang melanggar hukum, kalian akan menerima ganjarannya," tegas Trump.

Sponsored

Pernyataan Trump muncul setelah tekanan kuat dari lawan politik dan sekutu, yang kecewa dengan kekerasan pada Rabu (6/1), yang menyebabkan empat kematian. Beberapa telah menyerukan pemakzulan sang presiden dari jabatannya.

Para perusuh, yang bergerak karena didorong klaim palsu Trump terkait kecurangan pemilu, menerobos masuk ke Capitol dan memaksa anggota parlemen menangguhkan pengesahan kemenangan Presiden terpilih AS, Joe Biden.

Banyak pihak yang menilai, Trump telah mengobarkan pemberontakan tersebut. Pasalnya, pada hari sebelumnya, dia memberi tahu para pendukungnya untuk berjalan ke Capitol dan memprotes hasil pemilu.

Perdebatan seputar peresmian kemenangan Biden ditunda sampai kompleks Capitol diamankan, kemenangannya akhirnya disertifikasi melalui pemungutan suara pada Kamis dini hari.

"Kita semua baru saja melalui pemilu yang intens dan emosi kita semua masih tinggi. Namun, sekarang emosi harus didinginkan dan dipulihkan dengan tenang," ujar Trump dalam pidatonya pada Kamis.

Pernyataan Trump muncul setelah sejumlah menteri kabinet dan beberapa pejabat Gedung Putih mundur. Sebelumnya, Sekretaris Pers Gedung Putih, Kayleigh McEnany, mengutuk kekerasan pada Rabu.

"Biar saya perjelas, kekerasan yang kita lihat kemarin di Capitol adalah tindakan yang mengerikan, tercela, dan bertentangan dengan prinsip yang kami junjung sebagai negara. Kami, presiden dan pemerintahan ini, mengutuknya dengan sekuat tenaga," kata McEnany.

Anggota parlemen dan sejumlah pejabat mengatakan aksi unjuk rasa penuh kekerasan itu timbul akibat misinformasi selama berbulan-bulan tentang kecurangan Pilpres 2020, baik dari Gedung Putih maupun dari Trump sendiri. (NPR)

Berita Lainnya