sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Trump tuduh China langgar kesepakatan negosiasi dagang

Pernyataan Trump dinilai meningkatkan permusuhan jelang negosiasi dagang antara kedua pihak.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 09 Mei 2019 15:56 WIB
Trump tuduh China langgar kesepakatan negosiasi dagang

Donald Trump mengklaim China melanggar kesepakatan dalam negosiasi dagang. Pernyataan Trump dinilai meningkatkan permusuhan jelang pembicaraan antara kedua pihak.

Pernyataan tersebut muncul ketika Tiongkok menekankan akan membalas dengan tindakan yang diperlukan jika Amerika Serikat menaikkan tarif atas produk-produk mereka.

Trump mengancam akan menaikkan bea impor atas barang-barang China pada Jumat (10/5). Dia mentwit bahwa tarif 10% atas barang-barang tertentu akan naik menjadi 25% pada Jumat (10/5) pekan ini. Selain itu, Trump mengatakan tidak lama lagi akan mengenakan bea masuk tambahan terhadap barang-barang China senilai US$325 miliar.

Meski demikian, kedua belah pihak dikabarkan akan tetap menggelar negosiasi dagang di AS pada Kamis (9/5).

"Mereka melanggar kesepakatan ... Mereka tidak seharusnya melakukan itu. Jadi, mereka akan membayarnya," kata Trump kepada para pendukungnya dalam kampanye di Florida.

Trump menyatakan jika kedua belah pihak tidak mencapai kesepakatan, tidak ada salahnya menerima lebih dari US$100 miliar setiap tahun.

Sebelumnya, kedua belah pihak dinilai telah mendekati kesepakatan yang akan mengakhiri perang dagang. Tetapi rencana Trump untuk menaikkan tarif senilai US$200 miliar kembali memanaskan situasi.

Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer menuduh China mundur atas komitmen dalam negosiasi dagang. Namun, dia bersikeras bahwa kesepakatan dengan Beijing masih mungkin tercapai.

Sponsored

Tarif adalah pajak yang dibayarkan oleh importir untuk barang-barang asing, sehingga tarif 25% yang dikenakan oleh AS untuk barang-barang China akan dibayar oleh perusahaan-perusahaan Amerika.

Bebani ekonomi global

Dalam pemberitahuan resmi pada Rabu (8/5), Lighthizer menyebutkan bahwa tarif pada sejumlah besar peralatan listrik, mesin, suku cadang dan furnitur buatan China akan melonjak hingga 25% pada Jumat.

Tarif senilai US$200miliar atas barang-barang China seharusnya naik menjadi 25% dari 10% pada awal tahun, tetapi ditunda karena negosiasi disebut mencapai kemajuan.

Kementerian Perdagangan China dalam sebuah pernyataan menegaskan bahwa meningkatnya gesekan perdagangan bukan demi kepentingan rakyat kedua negara dan juga dunia.

"Pihak China sangat menyesalkan bahwa jika tarif AS diterapkan, China harus mengambil tindakan balasan yang diperlukan," sebut Kemlu China.

Kedua belah pihak telah mengenakan tarif pada barang-barang satu sama lain bernilai miliaran dolar, menciptakan ketidakpastian bagi bisnis dan membebani ekonomi global.

Dana Moneter Internasional mengatakan eskalasi ketegangan perdagangan AS-Cina adalah salah satu faktor yang berkontribusi pada ekspansi global yang melemah signifikan akhir tahun lalu, memangkas perkiraan pertumbuhan global.

Sumber : BBC