sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Turki ingatkan Eropa: Kami tak bisa tampung pengungsi baru

Saat ini, Turki menampung sekitar 3,7 juta pengungsi Suriah, populasi pengungsi terbesar di dunia.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 23 Des 2019 12:10 WIB
Turki ingatkan Eropa: Kami tak bisa tampung pengungsi baru
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 25216
Dirawat 17204
Meninggal 1520
Sembuh 6492

Pada Minggu (22/12), Presiden Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa Turki tidak dapat menerima gelombang imigran baru dari Suriah. Dia memperingatkan, negara-negara Eropa akan merasakan dampak dari gelombang tersebut jika kekerasan di barat laut Suriah tidak dihentikan.

Saat ini, Turki menampung sekitar 3,7 juta pengungsi Suriah, populasi pengungsi terbesar di dunia. Ankara khawatir akan ada gelombang imigran baru dari Idlib, wilayah di mana hingga tiga juta warga Suriah menetap.

Pasukan Suriah dan Rusia telah mengintensifkan pengeboman terhadap target di Idlib yang dikuasai pemberontak, mendorong gelombang pengungsi untuk lari ke Turki.

Berbicara dalam sebuah acara di Istanbul pada Minggu malam, Erdogan menyebut, lebih dari 80.000 orang saat ini pindah dari Idlib ke Turki.

"Jika kekerasan terhadap warga Idlib tidak berhenti, jumlah ini akan semakin bertambah. Dalam hal itu, Turki tidak dapat menanggung sendiri beban pengungsi," tegas dia.

Dia mengatakan, Turki akan memastikan bahwa dampak negatif dari gelombang imigran yang mereka alami menjadi sesuatu yang juga dirasakan oleh seluruh negara Eropa.

Erdogan menyebut bahwa pemerintahannya melakukan segala cara untuk menghentikan pengeboman Rusia di Idlib. Delegasi Turki, lanjut dia, akan bertolak ke Moskow pada Senin (23/12) untuk membahas situasi di Suriah.

Presiden Erdogan sebelumnya mengancam akan melimpahkan beban imigran ke Eropa jika Turki tidak mendapat lebih banyak dukungan untuk menampung mereka.

Sponsored

Turki tengah mencari dukungan internasional untuk rencana mereka membangun zona aman yang telah lama diinginkan Ankara bagi warga di timur laut Suriah.

Ankara menerima sedikit sokongan publik untuk proposal tersebut dan telah berulang kali mengecam sekutunya karena tidak mendukung rencana itu.

Serangan Turki terhadap militan Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) juga mendapat kecaman dari sekutu, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.

"Kami meminta negara-negara Eropa satu suara menyerukan untuk menghentikan kekerasan di Idlib daripada mencoba memojokkan Turki atas langkah-langkah sah yang kami ambil di Suriah," tutur Erdogan, merujuk pada tiga operasi militer yang dilakukan Ankara di Suriah.

Setelah forum pengungsi global di Jenewa pekan lalu, PBB mengatakan, negara-negara yang hadir berjanji menyumbang lebih dari US$3 miliar untuk mendukung pengelolaan pengungsi dan membantu pembangunan sekitar 50.000 tempat pengungsian baru. Namun, Erdogan menyebut bahwa jumlah itu tidak cukup.

PBB mengatakan, ratusan orang tewas di Idlib setelah serangkaian serangan di kawasan perumahan pada 2019.

Rusia dan tentara Suriah, yang setia kepada Presiden Bashar al-Assad, membantah tuduhan pengeboman tanpa pandang bulu. Kedua pihak mengatakan sedang memerangi gerilyawan yang mengadopsi nilai-nilai Al Qaeda.

Kantor berita Anadolu melaporkan, sejak November, sekitar 205.000 orang telah mengungsi dari rumah mereka di Idlib akibat serangkaian serangan di wilayah itu. 

Sumber : Reuters

Cara berjuang masyarakat adat melawan Covid-19

Cara berjuang masyarakat adat melawan Covid-19

Jumat, 29 Mei 2020 16:49 WIB
Pandemi dan paras otoriter rezim Jokowi 

Pandemi dan paras otoriter rezim Jokowi 

Kamis, 28 Mei 2020 17:45 WIB
Resep UMKM raup untung saat pandemi

Resep UMKM raup untung saat pandemi

Rabu, 27 Mei 2020 17:18 WIB
Berita Lainnya