logo alinea.id logo alinea.id

Turki serang pasukan Kurdi, ribuan warga Suriah melarikan diri

Gempuran Turki diluncurkan setelah Donald Trump menarik pasukan Amerika Serikat.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 11 Okt 2019 17:41 WIB
Turki serang pasukan Kurdi, ribuan warga Suriah melarikan diri

Pesawat-pesawat tempur dan artileri Turki menghantam pasukan Kurdi di bagian timur laut Suriah pada hari ketiga serangan yang telah berlangsung sejak Rabu (9/10). Serangan menewaskan ratusan orang dan memaksa puluhan ribu lainnya melarikan diri.

Gempuran Turki diluncurkan setelah Donald Trump menarik pasukan Amerika Serikat, yang merupakan sekutu Kurdi, dari Suriah. Penyerangan tersebut telah menuai kecaman internasional.

Berbicara di Washington, Trump menyarankan bahwa AS dapat menjadi penengah dalam konflik tersebut. Dia juga mengisyaratkan kemungkinan menjatuhkan sanksi berat pada Turki.

Pada Jumat (11/10), pesawat-pesawat tempur dan artileri Turki menyerang kota perbatasan Suriah, Ras al-Ain. Seorang wartawan Reuters di Ceylanpinar, kota di sisi perbatasan Turki, menyatakan bahwa bunyi tembakan terdengar dari Ras al-Ain.

Sekitar 120 kilometer dari Ras al-Ain, howitzer milik Turki menembaki wilayah dekat Tel Abyad, Suriah.

"Pada saat-saat ini, Tel Abyad menjadi saksi pertemuran paling intens dalam tiga hari," tutur juru bicara Pasukan Demokratik Suriah (SDF) Marvan Qamishlo.

Komite Penyelamatan Internasional (IRC) mengatakan sebanyak 64.000 orang di Suriah telah melarikan diri sejak penyerangan dimulai. Ras al-Ain dan Darbasiya sebagian besar kosong dan menjadi tidak berpenghuni.

Kementerian Pertahanan Turki mengatakan bahwa dalam operasi militer pada Kamis (10/10) malam, pihaknya dan para sekutu pemberontak Suriah telah membunuh 49 militan Kurdi. Secara total, selama tiga hari mereka menewaskan 277 militan. Kemenhan menyatakan, seorang tentara Turki tewas dalam serangan yang menargetkan SDF.

Sponsored

Pada Kamis malam, bentrokan meletus di sejumlah titik di sepanjang perbatasan dari Ain Diwar hingga ke Kobani. Pasukan Turki dan SDF juga saling melepas tembakan di Qamishli, Suriah.

Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) menyatakan bahwa setidaknya 29 pasukan SDF dan 17 pejuang pemberontak Suriah yang didukung Turki tewas.

Di al-Bab, sekitar 500 pemberontak Suriah akan menuju ke Turki untuk bergabung dan membantu mereka meluncurkan penyerangan.

SDF mengatakan, serangan udara Turki telah menewaskan sembilan warga sipil. Dalam serangan balasan dari pihak Kurdi, enam orang, termasuk bayi berusia sembilan bulan, tewas oleh tembakan mortir.

SOHR menyebut, pasukan Turki berhasil merebut dua desa di dekat Ras al-Ain dan lima desa di sekitar Tel Abyad.

Pemerintah Turki mengatakan operasi itu diperlukan untuk melindungi perbatasan dari ancaman militan Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG).

Turki menganggap YPG sebagai kelompok teroris karena memiliki ikatan dengan sejumlah kelompok militan yang telah melancarkan pemberontakan di Turki puluhan tahun lalu.

Ankara menegaskan pihaknya bermaksud menciptakan zona aman yang dapat membuka jalan bagi pemulangan jutaan pengungsi ke Suriah.

Sekutu AS

SDF, militer yang dipimpin YPG, telah menjadi sekutu utama pasukan AS dalam pertempuran melawan ISIS sejak 2014. Mereka menahan ribuan anggota ISIS dan puluhan ribu orang yang terafiliasi dengan kelompok itu.

Dalam sebuah twit pada Kamis, Trump memaparkan tiga pilihan yang dapat diambil oleh Washington.

"Kirim ribuan pasukan dan memenangkan konflik ini secara militer, menghantam Turki secara finansial dengan sanksi berat, atau menengahi kesepakatan antara Turki dan Kurdi," twit dia.

Ketika ditanya mengenai twitnya, Trump menyatakan dirinya berharap AS dapat menengahi Turki dan Kurdi. Tanpa memberikan keterangan lebih lanjut, dia mengatakan AS kemungkinan juga akan mengambil tindakan keras terkait sanksi finansial terhadap Turki.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian telah menyerukan pertemuan darurat koalisi lebih dari 30 negara yang dibentuk untuk memerangi ISIS.

Di sisi lain, Menteri Urusan Eropa Prancis mengatakan KTT Uni Eropa pada pekan depan akan membahas sanksi terhadap Turki atas tindakannya di Suriah.

Seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri AS menyatakan, SDF masih mengendalikan semua penjara yang berisi tawanan ISIS. Ankara telah memberikan komitmen tingkat tinggi kepada Washington untuk mengambil tanggung jawab atas tawanan tersebut tetapi belum melakukan diskusi lebih lanjut.

Anggota parlemen AS mengklaim Trump memberi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan lampu hijau untuk menyerang Suriah. Hal itu dibantah oleh pejabat senior Kemlu AS tersebut.

"Secara jelas, kami memberi mereka lampu merah. Saya terlibat dalam proses itu dan saya tahu Presiden Trump mengambil keputusan tersebut pada Minggu (6/10)," kata dia.

Trump telah dihujani kritik dari tokoh-tokoh senior di Partai Republik. Mereka menuduhnya meninggalkan sekutu AS.

Senator dari Partai Republik, Lindsey Graham, menjadi salah satu orang yang paling mengecam penarikan pasukan AS dari Suriah. Dia telah mengumumkan kerangka kerja untuk menjatuhkan sanksi terhadap Turki.

Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu mengatakan Turki akan membalas tindakan apa pun yang diambil terhadap pihaknya.