sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Ukraina cabut status darurat militer

Ukraina memberlakukan status darurat militer setelah konfrontasi dengan Rusia di Selat Kerch pada November lalu.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 27 Des 2018 09:21 WIB
Ukraina cabut status darurat militer

Keadaan darurat militer yang diberlakukan pada 25 November di sejumlah kawasan Ukraina setelah Rusia menyita tiga kapal Ukraina, berakhir pada Rabu (26/12). Demikian disampaikan Presiden Petro Poroshenko kepada dewan keamanan negara itu.

Pada awal bulan ini Presiden Poroshenko mengatakan, dia tidak merencanakan untuk memperpanjang darurat militer melebihi satu bulan seperti diramalkan sebelumnya jika tidak ada serangan besar dari Rusia.

Kapal-kapal angkatan laut Ukraina disita di Selat Kerch, yang berada di antara Krimea yang dicaplok Rusia dan bagian selatan Rusia, yang mengendalikan akses ke Laut Azov, tempat terdapat pelabuhan-pelabuhan Rusia dan Ukraina.

Moskow mengatakan kapal-kapal itu memasuki perairan Rusia ketika berusaha melintasi selat tersebut tanpa pemberitahuan, mengabaikan perintah-perintah untuk berhenti. Kiev menyatakan kapal-kapalnya tidak memerlukan izin Rusia untuk melintasi selat itu.

Berdasarkan darurat militer, Ukraina melarang orang-orang Rusia yang berusia tempur memasuki negara itu dan meningkatkan keamanan di tempat-tempat strategis seperti pembangkit tenaga nuklir dan pelabuhan-pelabuhan di Laut Hitam.

Kepala militer Ukraina mengatakan bulan ini, Rusia telah menambah jumlah tentaranya dekat perbatasan sejak Agustus dan sekarang menimbulkan ancaman militer paling besar sejak tahun 2014, tahun di mana negara itu mencaplok Krimea.

Warga Ukraina dihukum 

Dari Moskow surat kabar Kommersant yang dikutip kantor berita Reuters melaporkan pada Rabu, satu pengadilan Rusia telah menjatuhi hukuman delapan tahun penjara terhadap seorang pria Ukraina karena melakukan kegiatan mata-mata dan berusaha memperoleh secara ilegal dan mengekspor barang-barang militer.

Sponsored

Kommersant mengatakan Igor Kiyashko, seorang pengacara dari Ukraina, dinyatakan bersalah karena berusaha membeli bagian-bagian mesin untuk jet-jet tempur MiG-29 dan mengumpulkan sejumlah dokumen rahasia terkait dengan sistem peluru kendali permukaan ke udara S-400 atas permintaan Dinas Keamanan Ukraina (SBU).

Pengadilan Kawasan Nizhegorodsky, yang Kommersant laporkan telah menjatuhkan keputusan terhadap Kiyashko, tidak segera menjawab permintaan untuk berkomentar.

Harian itu mengatakan Kiyashko tidak berencana mengajukan banding atas keputusan pengadilan tersebut. Dikatakan, dia tidak mengakui mengumpulkan informasi mengenai sistem S-400, tetapi dia tidak membantah niatnya untuk menyerahkan bagian-bagian mesin MiG-29 ke SBU.

Bulan lalu Rusia mengerahkan batalion S-400 ke Krimea. (Ant)