sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Vietnam isolasi 10.000 orang akibat coronavirus

Langkah isolasi diambil setelah enam kasus coronavirus jenis baru ditemukan di wilayah Son Loi, Provinsi Vinh Phuc.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 13 Feb 2020 20:16 WIB
Vietnam isolasi 10.000 orang akibat coronavirus

Sejumlah desa dengan total 10.000 penduduk di wilayah Son Loi, Provinsi Vinh Phuc, Vietnam, yang dekat dengan Ibu Kota Hanoi diisolasi mulai Kamis (13/2). Langkah ini diambil setelah enam kasus coronavirus jenis baru ditemukan di daerah tersebut.

Isolasi Son Loi yang berjarak sekitar 40 km dari Hanoi merupakan upaya isolasi massal pertama di luar China sejak coronavirus pertama kali terdeteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, pada akhir 2019.

"Pada 13 Februari, kami akan mengisolasi daerah yang terdampak epidemi di Son Loi," jelas pernyataan Kementerian Kesehatan Vietnam seraya menambahkan bahwa isolasi akan berjalan selama 20 hari.

Son Loi merupakan daerah pertanian yang terdiri dari sejumlah desa. Kemenkes Vietnam sebelumnya mengatakan bahwa lima orang di Son Loi telah terinfeksi coronavirus. Kemudian pada Kamis, otoritas setempat melaporkan kasus keenam.

Menurut AFP, sejak Kamis, otoritas telah mendirikan sejumlah pos pemeriksaan di beberapa wilayah. Para pejabat kesehatan yang mengenakan pakaian pelindung menyemprotkan disinfektan pada kendaraan yang melewati pos-pos tersebut.

Seorang penduduk desa, Tran Van Minh, mengatakan bahwa pihak berwenang telah mengimbau warga untuk menghindari perkumpulan-perkumpulan dengan kerumunan besar.

"Kehidupan sehari-hari sangat terpengaruh. Sekarang kita tidak bisa keluar dan bahkan jika kita bisa keluar, masyarakat akan enggan menyambut kita," tutur dia.

Sejauh ini, Vietnam mencatat 16 kasus coronavirus, termasuk yang ada di Son Loi.

Sponsored

Coronavirus jenis baru telah menewaskan 1.370 orang secara global, tiga di antaranya terjadi di luar China daratan yakni masing-masing satu di Hong Kong, Filipina, dan Jepang. Korban tewas di Jepang, yang dilaporkan pada Kamis, adalah seorang wanita berusia sekitar 80 tahun di Prefektur Kanagawa.

Virus dengan nama resmi Covid-19 tersebut menginfeksi lebih dari 60.000 orang di seluruh dunia.

Dalam upaya menghentikan penyebaran coronavirus, China telah mengisolasi 15 kota di Provinsi Hubei, mengunci sekitar 56 juta penduduk di dalamnya.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Jepang pada Kamis mengumumkan bahwa 44 orang di kapal pesiar Diamond Princess yang berlabuh di Yokohama telah dinyatakan terjangkit coronavirus. Di antaranya adalah 29 warga Jepang dan 15 warga negara asing. Kasus-kasus baru ini membuat total yang terinfeksi di kapal tersebut menjadi 218 orang.

Sebagian besar yang terinfeksi merupakan orang lanjut usia. Sekitar 80% dari penumpang Diamond Princess berusia 60 tahun ke atas, 215 orang di atas 80 tahun, dan 11 orang di atas 90 tahun.

"Kami sedang mengatur agar yang positif terjangkit virus dapat dipindahkan di rumah sakit," tutur Menteri Kesehatan Jepang Katsunubo Kato.

Dia menambahkan, penumpang berusia 80 tahun ke atas yang terbukti negatif coronavirus dan memiliki riwayat penyakit lainnya atau menetap di kamar tanpa jendela akan diizinkan turun dari kapal paling cepat pada Jumat (14/2). Mereka akan dipindahkan ke tempat penginapan sementara yang disediakan oleh pemerintah.

Hal tersebut menandai perubahan besar dalam kebijakan pemerintah Jepang, awalnya, lebih dari 3.500 penumpang dan kru Diamond Princess dijadwalkan akan dikarantina hingga Rabu (19/2). Kementerian Luar Negeri RI telah mengonfirmasi bahwa 78 WNI bekerja sebagai kru di kapal tersebut.

Kapal pesiar itu berlabuh di Yokohama sejak 3 Februari setelah diketahui seorang mantan penumpang yang turun di Hong Kong dalam pelayaran bulan lalu dinyatakan positif coronavirus. (Bangkok Post, CBS News, dan Japan Times)

Berita Lainnya