sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

WHO: Herd immunity tidak etis untuk atasi Covid-19

Herd immunity adalah konsep yang digunakan untuk vaksinasi.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 13 Okt 2020 17:52 WIB
WHO: Herd immunity tidak etis untuk atasi Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 377.541
Dirawat 63.576
Meninggal 12.959
Sembuh 301.006

Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus telah memperingatkan, agar tidak ada pihak yang sengaja membiarkan Covid-19 menyebar dengan harapan mencapai apa yang disebut sebagai herd immunity.

Tedros menyebut gagasan itu sebagai langkah yang tidak etis.

"Herd immunity adalah konsep yang digunakan untuk vaksinasi, di mana suatu populasi dapat dilindungi dari virus tertentu jika ambang batas vaksinasi tercapai," kata Tedros dalam jumpa pers virtual pada Senin (12/10).

Untuk campak misalnya, diperkirakan jika 95% penduduk divaksinasi, sisanya 5% juga akan terlindungi dari penyebaran virus. Untuk polio ambang batasnya diperkirakan 80%.

"Herd immunity dicapai dengan melindungi orang dari virus, bukan dengan membuat mereka terpapar virus," ujar Tedros. "Dalam sejarah kesehatan masyarakat, kekebalan kawanan tidak pernah digunakan sebagai strategi untuk menanggapi wabah, apalagi pandemik," jelas dia lagi.

Covid-19 telah menewaskan lebih dari satu juta orang dan menginfeksi lebih dari 37,5 juta sejak pertama kali muncul di China pada akhir 2019.

Pekan lalu, sekelompok ilmuwan internasional meminta pemerintah untuk mengizinkan orang muda dan sehat untuk kembali ke kehidupan normal sambil melindungi yang paling rentan.

Menurut Tedros, mengandalkan herd immunity secara alami akan bermasalah secara ilmiah dan etika.

Sponsored

"Membiarkan virus berbahaya yang tidak sepenuhnya kami pahami untuk bebas berkeliaran adalah tindakan tidak etis," ujar dia.

Tedros mengutip minimnya informasi tentang perkembangan imunitas terhadap Covid-19, termasuk seberapa kuat respons imun dan berapa lama antibodi tetap berada di dalam tubuh.

Dia memberikan contoh adanya beberapa kasus di mana orang diyakini telah terinfeksi Covid-19 untuk kedua kalinya. Dia juga menekankan banyak masalah kesehatan jangka panjang akibat infeksi, yang baru mulai dipahami oleh para peneliti.

"Sebagian besar orang di kebanyakan negara tetap rentan terhadap virus ini," katanya. "Membiarkan virus bersirkulasi tanpa terkendali berarti membiarkan infeksi, penderitaan, dan kematian yang tidak perlu."

Maria Van Kerkhove, pimpinan teknis WHO untuk pandemik Covid-19 memperkirakan 0,6% orang yang tertular Covid-19 meninggal karena penyakit tersebut.

"Kedengarannya tidak banyak," ujarnya, sambil menekankan bahwa angka itu jauh lebih tinggi daripada presentase bagi influenza.

Dia menuturkan bahwa rasio kematian akibat infeksi meningkat secara dramatis seiring bertambahnya usia.

Meskipun orang tua dan orang-orang dengan kondisi kesehatan yang mendasarinya jelas paling mungkin untuk jatuh sakit parah akibat Covid-19, Tedros menekankan bahwa mereka bukan satu-satunya yang berisiko.

"Orang-orang dari segala usia telah meninggal akibat virus ini," sambungnya.

Sumber : The Guardian

Berita Lainnya