sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

WHO: Penyebaran coronavirus semakin cepat

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengibaratkan pertarungan melawan Covid-19 seperti taktik bermain sepak bola.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 24 Mar 2020 13:59 WIB
WHO: Penyebaran coronavirus semakin cepat
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 62142
Dirawat 30834
Meninggal 3089
Sembuh 28219

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa penyebaran pandemik coronavirus jenis baru semakin cepat. Pernyataan itu datang ketika angka kematian global akibat Covid-19 menurut situs pelacak Johns Hopkins dan worldometers.info melampaui 16.500 dengan jumlah kasus positif menembus 360.000.

"Pandemik ini menyebar semakin cepat," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers virtual pada Senin (23/3).

Dia menjelaskan, butuh 67 hari sejak virus pertama kali terdeteksi di China pada Desember hingga penyakit itu menginfeksi 100.000 orang pertama di seluruh dunia.

Sebagai perbandingan, hanya ada jarak 11 hari sebelum kasus infeksi baru bertambah sebanyak 100.000 dan empat hari setelahnya, kasus penularan kembali bertambah 100.000.

"Kita bukan orang-orang yang tidak berdaya. Kita bisa mengubah situasi ini," tegas Ghebreyesus.

Dia mengibaratkan pertarungan melawan Covid-19 seperti taktik bermain sepak bola.

"Anda tidak dapat memenangkan pertandingan sepak bola hanya dengan bertahan, Anda juga harus menyerang," sambung dia.

Dia mengatakan bahwa menjaga jarak atau social distancing dapat mengulur waktu untuk memperlambat penyebaran coronavirus, tetapi itu hanyalah tindakan defensif yang tidak akan membantu memenangkan pertarungan melawan virus tersebut.

Sponsored

"Jika mau menang, maka kita perlu menyerang virus dengan taktik agresif dan terukur," ujar dia. "Kita perlu memperluas pengujian kesehatan, mengisolasi dan merawat kasus positif, serta melacak dan mengarantina setiap pihak yang melakukan kontak dekat."

Dirjen Ghebreyesus mengakui bahwa sejumlah negara kesulitan mengambil langkah-langkah yang lebih agresif karena kurangnya sumber daya dan akses untuk peralatan medis seperti kit uji Covid-19.

Dia memuji pihak-pihak yang melakukan penelitian untuk menemukan vaksin serta obat-obatan lainnya yang dapat mengobati coronavirus jenis baru. Dia kembali menekankan bahwa hingga saat ini, belum ada metode pengobatan yang terbukti efektif melawan virus tersebut.

Ghebreyesus memperingatkan agar orang-orang tidak sembarangan menggunakan obat yang belum terbukti dapat mengobati coronavirus.

"Menggunakan obat-obatan yang belum diuji dapat meningkatkan harapan palsu dan memiliki efek yang lebih berbahaya," ungkap dia.

Ghebreyesus menyampaikan kekhawatiran terkait tingginya jumlah petugas kesehatan yang terinfeksi. Dia menilai, hal itu dapat terjadi karena mereka tidak diperlengkapi dengan alat pelindung diri (ADP) yang memadai.

Dia menyerukan negara-negara untuk meningkatkan produksi ADP bagi petugas kesehatan. Selain itu, dia menekankan bahwa melindungi mereka harus menjadi prioritas utama.

"Petugas kesehatan hanya bisa melakukan pekerjaan mereka secara efektif jika mereka terlindungi dengan baik," kata dia. "Jika tidak, banyak orang yang akan meninggal karena petugas kesehatan yang seharusnya menyelamatkan nyawa pasien malah jatuh sakit."

Direktur Eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO Mike Ryan memperkirakan bahwa lebih dari 26 juta petugas layanan kesehatan di seluruh dunia turun tangan untuk menangani krisis kesehatan akibat coronavirus jenis baru. (Al Jazeera, CNBC, dan BBC)

Berita Lainnya