sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

3 dari 10 remaja Indonesia menderita anemia

Anemia kebanyakan diderita oleh perempuan dibandingkan laki-laki.

Zahra Azria
Zahra Azria Kamis, 21 Jan 2021 14:50 WIB
3 dari 10 remaja Indonesia menderita anemia
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Menurut WHO anemia adalah suatu kondisi tubuh di mana kadar hemoglobin atau HB, yang biasanya dalam darah itu lebih rendah dari normal atau kurang atau sama dengan 11%.

Direktur Gizi Masyarakat, Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Dhian P Dipo mengatakan, anemia muncul karena kekurangan sel darah merah sehat yang mengandung hemoglobin.

"Hemoglobin itu salah satu komponen dalam sel darah merah yang berfungsi untuk mengikat oksigen dan mengantarkannya ke seluruh sel ke jaringan tubuh termasuk otak dan otot," kata Dhian dalam Talkshow “Remaja Sehat, Bebas Anemia” Kamis (21/1).

Menurutnya remaja adalah kalangan yang berpotensi terkena anemia. Di mana sekitar dua sampai tiga dari 10 anak remaja Indonesia menderita anemia. Anemia kebanyakan diderita oleh perempuan dibandingkan laki-laki.

"Untuk mengatasi masalah anemia kita menyasar pada remaja putri. Karena remaja putri akan menjadi calon ibu. Sehingga diharapkan bisa melahirkan anak sehat," lanjut Dhian. 

Kementerian Kesehatan sendiri memiliki sejumlah strategi penanganan masalah anemia. Pertama, peningkatan pada kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM), hal ini penting agar mengetahui bagaimana cara mengatasi masalah remaja dengan penguatan serta peningkatan kapasitas dari tenaga kesehatan.

Kedua adalah peningkatan edukasi dari berbagai sudut baik remaja, maupun tenaga kesehatannya. "Sehingga kalau ada hal-hal yang ingin ditanyakan oleh remaja, tenaga kesehatan tersebut siap menjawab dan dapat menyampaikan hal hal yang cukup bermanfaat dari pemberian tablet tambahan darah ini," ujar Dhian.

Kemudian peningkatan kualitas program, dengan memastikan tablet tambah darah dikonsumsi tepat pada sasarannya. Selain itu di dalam menguatkan kualitas program, Kemenkes menyusun aplikasi Cegah Anemia Pada Remaja (CERIA).

Sponsored

Pada kesempatan yang sama hadir Nutrisionis Puskesmas Gerung NTB Baiq Hardiyanti. Yanti mengatakan, dalam mengatasi anemia pada remaja, Puskesmas Gerung mempunyai langkah yang sudah dilalakukan dan berhasil. 

"Jadi salah satu penanganan yang kami lakukan di Puskesmas Gerung itu adalah program pemberian tablet penambah darah pada remaja di sekolah. Kebetulan yang kami berikan di sekolah itu bersekolah SMP dan SMA sederajat seperti MTS dan MA," kata Baiq. 

Adapun kegiatan utama di tingkat puskesmas setiap satu tahun sekali melakukan perencanaan kebutuhan tablet penambah darah sesuai jumlah siswa di sekolah masing masing. Kemudian menyerahkan data perencanaan kebutuhan tablet ke gudang farmasi. Lalu sebulan sekali tablet tambah darah didistribusikan ke sekolah-sekolah sesuai sasaran. Selanjutnya pihak sekolah menyerahkan laporan pelaksanaan ke dinas kesehatan.

Adapaun ciri seseorang mengalami anemia biasanya lesu, letih, lemah, dan lunglai (5L). Gejala tersebut disertai dengan sakit kepala, mata berkunang-kunang, mudah mengantuk, cepat lelah dan sulit berkonsentrasi.

Berita Lainnya