close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi agama./Foto doungtepro/Pixabay.com
icon caption
Ilustrasi agama./Foto doungtepro/Pixabay.com
Sosial dan Gaya Hidup
Rabu, 13 Desember 2023 06:21

Agama dan moralitas seseorang

Agama memang peduli terhadap perilaku moral. Karenanya, banyak orang beranggapan, ketaatan beragama merupakan sebuah tanda kebaikan.
swipe

Baru-baru ini media sosial dihebohkan dengan kabar pasangan mahasiswa Universitas Andalas (Unand) Kota Padang, Sumatera Barat yang diduga berbuat asusila di beberapa masjid, termasuk di masjid lingkungan perguruan tinggi itu. Mahasiswa berisinial TKAH mengaku, sudah melakukan perbuatan tak senonoh sebanyak tiga kali.

TKAH diketahui pernah menjadi marbot di masjid dalam kawasan Unand. Ia juga seorang imam masjid dan hafiz Alquran.

Lantas, bagaimana sebenarnya hubungan agama dan moralitas seseorang? Agama memang peduli terhadap perilaku moral. Karenanya, banyak orang beranggapan, ketaatan beragama merupakan sebuah tanda kebaikan. Bahkan ada yang menganggap, moralitas tak ada tanpa agama.

Dikutip dari Science Alert, pada 2020 sebuah survei internasional yang mencakup enam benua menemukan, 45% orang berpendapat, percaya kepada Tuhan adalah hal yang penting dalam moraitas dan nilai-nilai yang baik.

Terdapat beberapa riset soal moralitas antara ateis dan orang yang beragama. Menurut Science Alert, di seluruh dunia sering kali menganggap ateis tak punya prinsip panduan moral yang sama dengan mereka yang percaya pada Tuhan. Namun, dalam penelitian Tomas Stahl dari University of Illinois di Chicago yang terbit di jurnal Plos One (Februari, 2021) disebutkan, kelompok ateis dan beragama memiliki pedoman moral, meski nilai-nilai moral tersebut agak berbeda.

Riset Stahl mencakup empat survei online di dua negara, yakni Amerika Serikat—di mana keyakinan agama adalah norma—dan Swedia—salah satu negara paling sekuler di dunia.

Hasilnya, dua kelompok itu mendapat skor yang sama rendahnya dalam hal kecenderungan amoral ketika diminta setuju atau tak setuju dengan pernyataan, seperti “saya bersedia bersikap tidak etis jika saya yakin hal itu akan membantu saya sukses”.

Menariknya, riset Stahl menemukan, orang-orang beragama dan ateis sama-sama menganggap pemikiran rasional sebagai nilai yang penting. Walau orang-orang ateis lebih cenderung skeptis dan analitis.

Hanya saja, saat menyangkut moral yang melindungi kelompok, baru umat beragama benar-benar berbeda. Contohnya, mereka yang beragama cenderung menilai kesetiaan pada kelompok, menghormati figur otoritas, dan tindakan yang bersih jauh lebih tinggi.

Pada 2014, dalam sebuah penelitian, sebanyak 1.252 orang dewasa dengan latar belakang agama dan politik yang berbeda di Amerika Serikat dan Kanada diminta mencatat perbuatan baik dan buruk yang mereka lakukan atau saksikan sepanjang hari. Tujuan penelitian itu, dikutip dari Live Science untuk menilai bagaimana moralitas terwujud dalam kehidupan sehari-hari bagi orang-orang dengan latar belakang berbeda.

Riset yang dilakukan Dan Wisneski dari Saint Peter’s University dan rekan-rekannya, menemukan, orang yang beragama dan tak beragama melakukan tindakan moral dalam jumlah yang sama. Namun, ada beberapa perbedaan dalam cara mereka merespons.

“Orang beragama melaporkan mengalami emosi kesadaran yang lebih kuat, seperti rasa bersalah, malu, dan jijik, setelah melakukan tindakan tidak bermoral dibandingkan orang yang tidak beragama,” tulis Live Science.

“Orang yang beragama juga dilaporkan mengalami rasa bangga yang lebih besar setelah melakukan perbuatan baik dibandingkan orang yang tidak beragama.”

Kemudian, sebuah riset pada 2017 yang diterbitkan Nature Human Behavior dengan peneliti utama Will M. Gervais dari University of Kentucky menemukan, orang-orang pada akhirnya memandang Tuhan sebagai pemegang kekuasaan dan penyangga moral untuk mencegah tindakan tak bermoral.

Dikutip dari The Independent, riset itu mensurvei lebih dari 3.000 orang di 13 negara di lima benua. Mulai dari negara-negara yang sangat sekuler, seperti Belanda dan China hingga negara-negara yang sangat religius, seperti Amerika, Uni Emirat Arab, dan India.

Penelitian itu juga menyebut, orang-orang dua kali lebih kemungkinan percaya bahwa ateis bertanggung jawab atas pelanggaran moral yang ekstrem. “Artinya, bahkan sesama ateis pun cenderung percaya bahwa orang yang tidak beriman lebih cenderung melakukan tindakan asusila,” tulis ABC.

.Sementara itu, Ryan McKay dan Harvey Whitehouse dari University of London dan University of Oxford dalam penelitian berjudul “Religion and Morality” di Psychological Bulletin (Maret, 2015) menemukan, tak ada hubungan antara agama dan moralitas. Ada dua kesimpulan dari penelitian tersebut.

“Pertama, sejauh mana istilah agama dan moralitas tak merujuk pada struktur yang koheren, upaya untuk menetapkan hubungan antara agama dan moralitas dipahami sebagai entitas monolitik, diarahkan untuk menjadi dangkal dan sirkular,” tulis para peneliti.

“Kedua, dari pendekatan pluralistik yang diadvokasi, yang memecah agama dan moralitas—membedakan antara kognisi dan budaya—hubungan antara agama dan moralitas meluas menjadi matriks hubungan terpisah antara elemen yang terfragmentasi.”

Oleh karena itu, kata McKay dan Whitehouse, beberapa aspek dari agama mungkin mempromosikan sejumlah aspek dari moralitas. “Singkatnya, dalam membahas apakah agama adalah kekuatan yang baik, harus sangat jelas apa yang kita maksud dengan ‘agama’ dan apa yang kita maksud dengan ‘baik’,” tulis para peneliti.

Di sisi lain, antropolog dari University of Connecticut, Dimitris Xygalatas dalam tulisannya di The Conversation, menyebut moralitas dan agama dapat berubah seiring dengan pasang surut kebudayaan. Misalnya, pada abad ke-19 umat Mormon menganggap poligami sebagai tuntutan moral, sedangkan umat Katolik melihatnya sebagai dosa.

“Dalam hal ini, keberagamaan hanya terkait secara longgar dengan teologi. Artinya, keyakinan dan perilaku orang beragama tidak selalu sejalan dengan doktrin resmi agama,” tulis Xygalatas.

“Sebaliknya, keberagamaan populer cenderung lebih praktis dan intuitif.”

Pada 2003, Arthur C. Brooks dari Syracuse University pernah melakukan riset bertajuk “Religious Faith and Charitable Giving” , yang terbit di Hoover Institution. Ia menemukan, individu yang religius mengklaim lebih altruistik, penuh kasih, jujur, dan dermawan daripada yang non-religius.

“Namun, ketika kita melihat perilaku sebenarnya, perbedaan ini tak ditemukan,” ujar Xygalatas.

“(Misalnya dalam) beberapa aspek perilaku moral, mulai dari beramal, mencontek dalam ujian, hingga membantu orang asing yang membutuhkan.”

Lebih lanjut, Xygalatas menyimpulkan, tak peduli bagaimana kita mendefinisikan moralitas, orang religius tak berperilaku lebih bermoral daripada ateis, meski mereka sering mengatakan bahwa mereka melakukannya.

Selanjutnya, dalam risetnya, Xygalatas menemukan, orang menjadi lebih dermawan dan kooperatif ketika mereka berada di tempat ibadah. Ia menyebut, efek positif agama bergantung pada situasi, bukan disposisi.

Meski demikian, Xygalatas menulis, jika seseorang percaya Tuhan selalu tahu apa yang mereka lakukan dan menghukum pelanggarnya, mereka cenderung berperilaku lebih baik dan berharap orang lain juga begitu.

“Akan tetapi kepercayaan pada sumber keadilan eksternal seperti ini tidak unik bagi agama. Kepercayaan pada aturan hukum, dalam bentuk sistem peradilan atau kepolisian yang dapat diandalkan, juga merupakan prediktor perilaku moral,” tulis Xygalatas.

“Dan memang, ketika aturan hukum kuat, kepercayaan pada agama menurun, demikian pula dengan ketidakpercayaan terhadap ateis.”

img
Fandy Hutari
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan