sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kasus bunuh diri Goo Hara dan Sulli, pertemanan yang berakhir pada copycat suicide

Kehilangan sahabat yang dipandang sangat berarti dan dekat, dapat membuat seseorang mengalami pukulan yang berat. Ini terjadi pada Goo Hara.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Rabu, 27 Nov 2019 08:42 WIB
Kasus bunuh diri Goo Hara dan Sulli, pertemanan yang berakhir pada copycat suicide
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 28233
Dirawat 18129
Meninggal 1698
Sembuh 8406

Budaya Sasaeng ‘Fans Penguntit’

Pengamat budaya populer dari Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Ratna Puspita, mencermati setidaknya ada dua faktor utama yang berkelindan dalam kasus kematian Goo Hara.

Pertama, tekanan mental akibat pola industri musik pop Korea yang sangat superior terhadap artis. Kedua, perundungan warganet terhadap persoalan privasi artis K-Pop yang marak dalam media sosial.

Dari segi industri musik, kata Ratna, agensi dan manajemen artis “hallyu wave”—istilah bagi semesta Korean-Pop—sangat mendikte penampilan dan perilaku artis.

“Agensi di Korea sudah sangat beracun, menuntut idol harus tampil sempurna. Mereka mengatur apa saja yang harus diomongkan artis kepada publik, hingga citra khusus artis yang sangat detail,” kata Ratna, dihubungi Senin (25/11).

Sebagai seorang figur publik, seorang artis pun memiliki tuntutan untuk dapat memuaskan penggemar atau fans. Ratna mengamati, industri musik pop Korea sangat longgar dan membiarkan tingkah laku penggemar yang bersifat urakan bahkan “gila-gilaan”. Ini, kata dia berakar pada budaya sasaeng di Korea.

“Di Korea ada budaya sasaeng atau fans yang stalking (menguntit) kehidupan pribadi artis. Ketika sasaeng ini kecewa sama artisnya bisa jadi dia berubah jadi antifan,” kata Ratna.

Ratna menjelaskan, kultur sasaeng telah bertumbuh sejak masa generasi pertama K-Pop yang antara lain ditandai dengan kehadiran grup Sechkies dan H.OT. Goo Hara termasuk sebagai generasi kedua K-Pop lewat debutnya di dunia hiburan pada 2008 sebagai anggota KARA. Selain itu, SNSD dan 2NE1 termasuk dalam generasi kedua. Adapun generasi ketiga K-Pop antara lain mencakup EXO, BTS, dan Blackpink.

Dalam industri K-Pop, selain sasaeng ada kategori lain, yaitu fans yang merujuk pada penggemar yang tidak menguntit), dan antifan yang membenci satu artis secara terang-terangan. Sejak ia berkembang, kata Ratna, sasaeng banyak dikritik oleh artis-artis K-Pop. Bagi para artis, sasaeng sangat mengusik ruang privasi mereka.

“Kultur sasaeng itu buruk karena para sasaeng bisa masuk ke rumah atau penginapan artis, mengambil barang artis dengan alasan buat memorabilia. Bahkan sasaeng ini ikut dalam penerbangan ke manapun artis pergi,” tutur Ratna.

Kehilangan sahabat yang dipandang sangat berarti dan dekat dalam hidup dapat membuat seseorang mengalami pukulan yang berat.Alinea.id/Dwi

 

Berita Lainnya